PRESS RELEASE : Ulurkan Tangan, Bantu Saudara Kita

BNqyMHxCQAEonhr

Banjir Benanain
Sumber Gambar : @b_onj

Ribuan rumah rusak, sawah ladang pun gagal panen. Para korban banjir Sungai Benanai hanya bisa pasrah dan menangis.

Banjir besar merendam puluhan desa di Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur. Tercatat, ribuan rumah dan ribuan hektar sawah ladang, rusak diterjang luapan Sungai Benanai, sejak Selasa (24/6) lalu.
Berdasarkan informasi dari Kecamatan Malaka Barat, ada 5610 KK yang membutuhkan bantuan. Sebab rumah mereka mengalami kerusakan, juga sawah ladang  rusak akibat digenangi air bah yang belum juga surut.  Rusaknya ribuan hektar lahan pertanian yang menjadi tumpuan nafkah, membuat penduduk tak berdaya.
Seperti yang terjadi di  wilayah Harewe Luan, di mana masyarakat hanya bisa pasrah dan menangis, sebab hasil panen yang sudah dibawa ke rumah, kini rusak disapu banjir. Sementara tanaman di sawah dan ladang yang siap panen,  hanyut dibawa luapan Sungai Benanai.
Banjir yang masih menggenang hingga ketinggian lebih dari dua meter, membuat para warga tak bisa beraktivitas. Mereka tak bisa keluar rumah juga hidup dalam gelap gulita, karena pasokan listrik sudah dipadamkan sejak beberapa hari lalu. Sementara bantuan melalui jalur darat, terhambat oleh Sungai Benanai yang masih meluap tinggi. Seperti yang terjadi di Desa Sikun dan Fafoe, yang harus ditempuh dengan perahu karet. Juga Desa Besikama ke Sikun atau sebaliknya dari Fahiluka ke Sikun, semua terkendala luapan Sungai Bananai.
Dengan kondisi serba sulit ini, bukan berarti saudara-saudara kita di sana, harus bermuram durja dengan nasibnya. Sebab itulah Forum Solidaritas Korban Benanai yang terdiri dari para penggiat kemanusiaan, Rohaniwan, dan Akademisi dari NTT dan wilayah lain di Indonesia mengajak para rekan, sahabat dan handai taulan di manapun berada, untuk sudi kiranya membantu meringankan penderitaan para korban banjir tersebut.  Hingga kini, para korban banjir sangat membutuhkan makanan, juga pakaian dan obat-obatan. Karena banjir ini,  membuat anak-anak dan orangtua mengalami sakit akibat didera dingin dan tiadanya tempat berteduh yang layak.
Banjir akibat luapan Sungai Benanai ini melanda 36 desa di tiga kecamatan, yakni di Kecamatan Malaka Barat meliputi Motaulun, Naas, Maktihan, Besikama, Lasaen, Umatoos, Fafoe, Sikun, Oan Mane, Umalor, Motain, Rabasahain, Loofoun dan Rabasa Haerain. Sementara di Kecamatan Weliman daerah yang dilanda banjir adalah  Kleseleon, Angkaes, Wederok, Lamudur, Forekmodok, Umalawain, Haliklaran, dan Bonetasea. Saat ini,  para korban banjir mengungsi di kawasan Wekmidar, yang tidak terlanda luapan air bah.
Bagi masyarakat yang ingin meringankan penderitaan korban banjir Sungai Benanai, bisa menyalurkan bantuan pada alamat di bawah ini:
 
POSKO “Forum Solidaritas Korban Benanai”,
d.a  Kios Terrarosa
Jl Prof Herman Johanes, Gg Fioretti RT009/RW003, Desa Penfui Timur – Kupang Tengah, NTT
A.n Herman Seran,
Atau melalui:
No Rek Bank Mandiri KCP Atambua
No Rek: 145-00-0552033-9
A/N: Herman Seran

Koordinator Forum Solidaritas Korban Benanai

  • Romo Pius Nahak, Pr      : Telp. 0815239135482

*NB: Tulisan ini berasal dari email yang disharing di mailing grup Forum Akademia NTT (FAN) oleh Emanuel Bria; salah satu anggota mailling list FAN.

Mari berpartisipasi.

#Salam

Sebuah Mimpi yang Pernah Kandas

Sewaktu kecil saya memang bernafsu sekali untuk menjadi seorang dokter. Gagah saja menurut saya ketika pertama kali melihat dokter-dokter muda berpakaian putih dengan sebuah stetoskop bergelantungan melingkari leher mereka saat berkunjung ke rumah sakit sewaktu kecil dulu. Walaupun itu bukan kunjungan pertama dan terakhir saya ke rumah sakit waktu itu, saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan figur seorang dokter. Dengan tingkat kunjungan ke RS yang boleh dikatakan mencapai angka yang fantastis bahkan seisi RS waktu itu hampir semua mengenal dengan baik nama saya. Betapa tidak, saya adalah pasien langganan RS tersebut.

Saya memang suka sakit-sakitan sewaktu kecil. Mungkin itu sebabnya hingga sekarang orang tua saya masih saja mengkhawatirkan keadaan saya. Mungkin itu juga alasan mengapa mereka tidak merelakan saya mengecap rasanya kuliah di tanah Jawa. Akan tetapi terlepas dari fakta bahwa dulu saya pengunjung tetap RS toh rasa cinta saya untuk menjadi dokter memang membara-bara hingga menamatkan studi saya di bangku SMA. Namun nampaknya memang bukan jalannya saya untuk menjadi seorang dokter. Walaupun pernah ditawari beasiswa utusan daerah dari pemerintah kabupaten Belu  untuk studi dokter hewan di salah satu universitas bergengsi di Bogor, saya menolaknya begitu saja. Simpel alasan saya waktu itu. Saya mau jadi dokter umum  bukan dokter hewan. Banyak handai taulan yang sempat menyesalkan keputusan saya untuk tidak menerima sponsor beasiswa itu  di tengah banyak orang yang berlomba-lomba untuk mendapatkan posisi serupa. Tapi memang dasarnya saya keras kepala, sekali state ya itu sudah yang akan saya pegang. Ini seolah sudah gen bawaan yang diturunkan dari bapak saya. Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ada alasan lain sebenarnya yang membuat mengapa saya menolak mentah-mentah. Pasalnya sewaktu SMA memang saya sudah mendengar akan disponsori pemda Belu untuk kuliah kedokteran dengan kampus mitra kerja di Makasar. Saya sangat bersemangat sekali untuk segera lulus SMA secara mimpi untuk jadi seorang dokter sudah di depan mata.

Menjelang pengumuman kelulusan, saya mendapat berita bahwa pemda telah mengubah bidang yang akan disponsori yaitu kedokteran hewan dan kampus mitra pun diganti. Ternyata ada masalah dengan mitra kampus sebelumnya. Saya tak tahu persis duduk masalahnya, tetapi yang mencuri fokus saya itu adalah bergantinya kampus dan bidang. Kecewa dan berontak sudah pasti saya lakukan saat itu. Bapak saya sampai berkali-kali menanyakan perihal keputusan saya itu. Untungnya beliau bukan tipe orang tua yang suka memaksakan kehendak seperti kebanyakan orang tua,ya walaupun terkadang menurut saya Ia sangat tegas dan disiplin.Saya memang sangat tidak tertarik menjadi dokter hewan. Di otak saya sudah perpahat dengan indahnya sebuah ukiran ‘DOKTER UMUM’.

Saya malah terpental kuliah di jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknik. Namun saya tetap bersyukur masih diberi kesempatan untuk merasakan bangku kuliah yang akhirnya menghantarkan saya pada level saat ini. Level yang akan menjadi titip perubahan pola pikir, dan stepping zone  untuk melangkah l level kehidupan yang menantang lainnya. Mimpi menjadi seorang dokter memang kandas. Akan tetapi mimpi besar lainnya kini mulai bertunas sesaat setelah saya menginjakan kaki secara resmi di stepping zone persis 3 bulan lalu.

Gambar

Sumber Gambar: Google

The Stepping Zone

Over three months, I have been in such a burning level of being selected as one of the 430 awardees in ADS – Australia Development Scholarship – 2013 intake. Once they notified me via emaiI, I was thankful to HIM, who always guides me through all the challenges I faced. I have been dreamed about having an opportunity to study abroad since I was in my last bachelor year, and now I am holding status as an ADS Pre-Departure Training Students? What an unbelievable story!!! I am still asking to my self. ”Is it real? Is this true that I got this scholar?”
I have genuinely burnt since the first time I knew that I was selected in this super competitive ADS selection. Sometimes, my desire pushes me to over act but then some close friends of mine warn me not to be flown away because of this huge news ever in my life. “Act normally like nothing happens but keep the spirit high still. Because once you show over, it will lead you to underestimate other people. Stay humble.” the statement stated by Ifan Sardjan; one of my colleagues. I am really fortunate enough of having such a great friends. I am surrounded by blessed and innovative people who eager to stimulate and challenge their selves beyond their comfort zone.

When the first time I decided to apply this scholarship, I used to think that I am incapable person. I gave a sentence to my self and it sent me in a jail of being afraid to apply. I simply felt like there was no hope and way to win this game. It then put me in such a pathetic situation. I was so confused at that time because deeply inside my heart there was a flame which burns me to find my escaping form my own jail. My former lectures who were Australian scholars always motivate me to submit my application to ADS Office. Every time I meet them, the very first and the main topic of our conversation was their Australian experience as a student. Being told by this huge and incredible story always blows me highway. Always hearing to the same topic with different stories almost pushes me out form the jail – my own creation “incapable to apply” jail. My motivation fluctuates constantly. Sometimes it increased dramatically but in other time it even dropped significantly and hit the lough. Yet unfortunately, I am still here. Jailed my mind, body, and soul by sitting nicely watching the other people are fighting to realize their dreams.

Time flies unconsciously. The story of being burnt by such an overwhelming abroad experience does not end here. I passed almost two years after my graduation day in February 2010 wasting time. I have ever tried to jump form my comfort zone – my own jail that I mentioned before, but there was no way out. I was walking alone completing my application. I had no one to share and discuss with. This situation again puts my motivation low. It then deteriorated due to the TOEFL standard required in the application. Although I have joined TOEFL test for 4 times, I would never reached the minimum standard given. I was so hopeless. Walking without aim and running to nowhere to go. Pathetic, this is the proper word that can be picked for me. I then tried to stand up, faced my real boring activities – lecturing mathematics as usual. I said it as boring not because I do not love my job. If the thought like this have ever come in your mind, I think you have to say no for that. I am really addicted to my job. This is my second dream job I have ever dreamed about. Even though it in the second order before my dream to be a doctor failed, I love being as a lecture.

ELTA – English Language Training Assistance is the escaping way from my jail. After joining this program, I felt like all the closed doors were opened. I met new people who share the same dream of studying abroad. I made link with the alumni community which gave me golden opportunity by having such kind of Hunting scholarship discussions and sharing sessions. I then realized that at that time I was no longer walking alone. There was a light who guides me walking through the dark paths I previously stepped. I felt confident having supportive ideas from the seniors so that is why finally I was officially announcing to the world and my self that I would apply for the ADS 2012.  There is one simple sentence that is ever said by one of my seniors to me. “At least you are brave enough to apply because not many people would do the same thing as yours.”

Now I am spending my weeks waiting for my 3 months pre-departure training in Denpasar. While spending my time to wait for next round, I won’t totally squander my time any more. So that’s why, I have involved in another class discussion of hunting scholarship sponsored by Forum Akademia NTT, preparing and helping the applicants  to complete their application. I am absolutely delighted participated in this class discussion. Beside making new friends, the other bizarre things I have learned are lead people, organize a program,  and write a report. Thank you to the almighty for treating me in this stepping zone; a zone which is located one level upper than comfort zone, and a level to redevelop, reborn and reproduced.

Menerapkan Batang Perkalian dalam Belajar Matematika di Beberapa Sekolah Dasar Kota Kupang (PKM: Program Kreatifitas Mahasiswa Bidang Pengabdian Masyarakat Dirjen Dikti 2009)

Suatu kenyataan yang sering kali kita saksikan bahwa sebagian besar pengajaran di sekolah-sekolah mulai dari sekolah dasar, menengah hingga di bangku perguruan tinggi diberikan secara klasikal. Artinya, pengajar memberi penjelasan kepada sejumlah murid secara lisan. Banyak orang menganggap bentuk pengajaran klasikal tersebut merupakan bentuk yang paling tepat. Selain karena dipandang efisien, para pengajar pun dahulu diajar dengan menggunakan bentuk pengajaran yang demikian. Sehingga dengan berbekal pengajaran yang telah mereka dapatkan semula tersebut, para pengajar tak canggung-canggung untuk tetap meneruskan pola pengajaran yang sama kepada murid mereka.

Hasil suatu penyelidikan yang dilakukan oleh Blight pada tahun 1972 menyatakan bahwa pelajaran atau kuliah yang diberikan secara massal, atau kepada suatu kelompok besar, sangat efektif untuk tujuan menyampaikan informasi dengan mengutarakan hanya sekali saja, suatu masalah dapat sampai kepada banyak pendengar. Tetapi dalam proses belajar-mengajar terdapat lebih dari hanya satu aspek saja yang perlu diperhitungkan. Sebab penerima materi perlu diajak untuk turut berpartisipasi agar terjadi komunikasi sehingga masing-masing pihak dapat memperoleh manfaat dari materi yang disampaikan tersebut.

Pengajaran matematika di sekolah dasar misalnya. Umumnya para guru memberikan penjelasan materi matematika kepada murid-murid mereka denga sistem kuliah atau ceramah tanpa sedikitpun melibatkan siswanya untuk berperan serta aktif dalam proses belajar-mengajar tersebut. Apalagi berbekal asumsi yang sudah memasyarakat bahwa belajar matematika itu sulit dan tinggal menggunakan rumus yang sudah ada.

Adalah suatu fakta bahwa dalam pelajaran matematika khususnya tentang perkalian, guru sekolah dasar umumnya menugaskan siswanya untuk menghafal perkalian yang lebih sederhana kemudian melanjutkan pembelajaran mereka menuju operasi perkalian yang lebih kompleks. Sehingga kerapkali, terjadi kesalahpahaman siswa mengenai konsep yang mereka peajari atau bahkan timbul suatu kejenuhan untuk mempelajari perkalian. Apalagi mengingat murid tersebut masih duduk di bangku sekolah dasar. Akan sangat mudah berkembangnya konsep yang keliru mengenai pelajaran matematika dalam pikiran mereka. Hingga dapat berakibat fatal terhadap hasil belajar mereka, terutama prestasi kelulusan mereka nanti. Hal inilah yang turut mempengaruhi tingkat kelulusan siswa sekolah dasar yang masih sangat rendah, khususnya di kota Kupang.

Bertolak dari fakta di atas maka suatu ide untuk merancang suatu metode belajar perkalian yang menarik dan efektif pada beberapa sekolah dasar di kota Kupang pun pernah muncul dari sekelompok mahasiswa jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknik Universitas Nusa Cendana Kupang, di antaranya Marselinus Ulu Fahik sebagai koordinator kegiatan (penulis artikel ini) dan ditemani oleh dua rekan mahasiswa Andri Williams dan Dina Foeh. Tim ini merancang sebuah metode kreatif dalam menyelesaikan perkalian matematika bersusun yang mereka namai Batang Perkalian.

Tujuan perancangan metode Batang perkalian ini adalah menumbuhkembangkan minat siswa Sekolah Dasar dalam mempelajari Metamatika terutama dalam menyelesaikan masalah perkalian bersusun sehingga dapat meningkatkan kemampuan siswa Sekolah Dasar mengenai perkalian bersusun. Selain itu metode ini bertujuan melatih siswa Sekolah Dasar untuk lebih kreatif dalam belajar perkalian yang berimbas pada meningkatnya kemampuan afektif siswa Sekolah Dasar.

Manfaat yang dapat dipetik dari penerapan metode belajar dengan menggunakan Batang Perkalian ini antara lain dapat membantu siswa Sekolah Dasar dalam mempelajari perkalian, meminimalisir rasa jenuh dan takut siswa Sekolah Dasar dalam mempelajari perkalian dan secara tidak langsung memberikan masukan kepada guru dan staf pengajar untuk perbaikan proses belajar-mengajar.

KONSEP BATANG PERKALIAN

Konsep Dasar Perkalian Secara Umum

Perkalian merupakan salah satu operasi hitung dasar yang diajarkan kepada siswa-siswi yang duduk di bangku sekolah dasar. Konsep operasi perkalian sebenarnya berawal dari konsep jumlahan. Misalnya jika kita diberikan perkalian 2 × 3 maka dengan cepat kita akan memberikan 6 sebagai jawabannya. Angka 6 yang kita berikan tersebut sebenarnya diperoleh dari hasil penjumlahan bilangan 2 sebanyak 3 kali seperti berikut ini 2 × 3 = 2 + 2 + 2 = 6. Konsep ini selanjutnya berkembang menjadi operasi yang lebih kompleks dan rumit yang dikenal dengan opersi perkalian bersusun.

Operasi perkalian bersusun yang dimaksud adalah operasi perkalian yang dilakukan dengan mengoperasikan secara bersusun bilangan-bilangan yang akan dikalikan. Seprti contoh berikut ini.

                                                                  265 × 25 = ……..

265                                                                                                               25   ×          2 3 1 1                                                                                                          1325                                                                                                           530      +                                                                                                         6625

Jadi diperoleh hasil perkalian 265 × 25 = 6625

Konsep Batang Perkalian

Apa Itu Batang Perkalian? Batang perkalian merupakan suatu metode belajar perkalian yang lebih menarik dan efektif. Dalam metode ini, para siswa tidak perlu merasa benar bingung ataupun canggung dalam mengoperasikan perkalian baik dari yang sederhana hingga yang lebih kompleks sekalipun. Hal ini disebabkan karena dalam metode ini siswa diberikan pilihan cara yang lebih menarik dibandingkan cara biasa yang cenderung membosankan. Dengan metode ini, siswa akan dihadapkan pada batangan-batangan yang berisi bilangan-bilangan tertentu. Bilangan-bilangan itu disusun dalam bentuk kotak-kotak persegi berwarna yang sangat menarik. Yang diperlukan dalam penggunaan batang perkalian in adalah bahwa para siswa telah benar benar-benar menguasai bentuk perkalian bilangan 1 hingga 10.

Sebuah batang perkalian terdiri atas 10 kotak, dengan kotak teratas menunjukkan sebuah bilangan dasar (digit) tertentu dan kotak selanjutnya berturut-turut merupakan hasil perkalian bilangan dasar tersebut dengan bilangan 1 hingga 9 di mana satuan diletakkan di bagian bawah diagonal sedangkan bagian puluhan diletakkan di bagian atas diagonal.

Berikut ini akan diberikan contoh bagaimana melakukan perkalian dengan mengambil bilangan 1615 dikalikan dengan 365. Maka langkah-langkah yang dapat kita lakukan adalah sebagai berikut.

  • Menyusun batang perkalian yang terdiri atas batangan 1, 6, 1, 5 seperti ditunjukkan berikut ini.
  • Setelah batangan-batangan disusun deperti di atas, selanjutnya batangan tersebut dirapatkan. Prosedur yang selanjutnya dilakukan inilah yang menjadikan metode ini patut menjadi pilihan bagi murid Sekolah Dasar dalam mengoperasikan perkalian bersusun.
  • Karena kita akan mengetahui hasil perkalian angka 1615 dengan 365, maka perhatika kolom ke-3, ke-5 dan ke-6 dari batangan yang telah dirapatkan tersebut.
  • Pada kolom ke-3, setiap angka yang berada pada daerah ‘jajaran genjang’ akibat merapatkan batangan-batangan 1, 6, 1 , dan 5 di atas, kemudian dijumlahkan. Sehingga kita peroleh sekarang untuk kolom perkalian ke-3 dengan 1615 adalah 4845. Langkah penjumlahan dalam area jajaran genjang yang dimaksud dapat kita ikuti melalui arah panah dalam ilustrasi di atas.
  • Dengan mengikuti langkah yang sama seperti pada langkah sebelumnya di atas, akan kita peroleh hasil kali 5 dengan 1615 dan 6 dengan 1615 yang secara berurutan adalah 8075 dan 9290.
  • Setelah diperoleh angka-angka hasil kali ini, siswa kemudian diarah untuk menyajikan angka-angka tersebut dalam susunan seperti lazimnya dalam metode perkalian bersusun umumnya, yaitu

8075

9290

4845          +

589475

  • Berhubung yang sedang kita cari adalah hasil dari 1615 dikalikan dengan 365 maka pada posisi pertama ditempati oleh hasil kali 3 dengan 1615 yaitu 4845. Kemudian menyusul angka hasil kali 6 dengan 1615 yaitu 9290 dengan posisi sedikit menjorok ke dalam. Atau dengan kata lain, posisi angka 9 sejajar dengan letak angka 8 pada 4845. Terakhir adalah menempatkan hasil kali 5 dengan 1615 yaitu 8075 tepat di atas posisi 9290 dengan posisi penempatan yang sedikit menjorok satu angka ke dalam. Jadi angka 8 akan tepat sejajar dengan posisi angka 2 pada 9290. Kemudian susunan angka-angka tersebut kita jumlahkan dan kita peroleh bahwa hasil dari 1615 dikalikan dengan 365 adalah 589475.

ANALISIS KEGIATAN DAN HASIL YANG DICAPAI

Kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa ini dilaksanakan selama empat hari dengan rincian sebagai berikut.

Kegiatan Pengenalan Batang Perkalian

Kegiatan ini dilaksanakan selama 1 hari yaitu pada tanggal 29 Mei 2009, yang bertempat di Kampus FST-UNDANA. Setiap sekolah mengutus 6 orang perwakilan yang terdiri dari 2 orang siswa kelas 4, 2 orang siswa kelas 5, dan 2 orang guru pendamping. Kegiatan ini merupakan kegiatan awal dalam memperkenalkan konsep dan bagaimana cara penggunaan batang perkalian sebagai alat bantu hitung operasi perkalian kepada para peserta yang terdiri dari siswa dan guru pendamping.

Kegiatan Lanjutan

Sebagai tindak lanjut Kegiatan Pengenalan Batang Perkalian maka tim pelaksana selanjutnya melakukan kegiatan lanjutan yang dilaksanakan selama 3 hari, dengan alokasi waktu 1 hari untuk tiap sekolah sasaran yang terdiri dari SDI Kaniti, SDI Liliba dan SDK St. Arnoldus Penfui. Setiap sekolah mengikutsertakan 30 orang siswa sebagai peserta kegiatan lanjutan ini dengan didampingi oleh para guru bidang studi matematika. Kegiatan ini merupakan bentuk sosialisasi penggunaan batang perkalian kepada siswa-siswi lain dari sekolah dasar sasaran yang tidak sempat mengikuti kegiatan pengenalan yang dilaksanakan di kampus FST-UNDANA.

Adapun metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah ceramah komunikatif antara tim pelaksana dan para peserta yang dilanjutkan dengan tutorial penggunaan batang perkalian dalam operasi hitung perkalian. Metode ceramah komunikatif yang dimaksud di sini berupa diskusi dua arah antara para peserta dengan tim pelaksana sebagai mediator. Untuk mempermudah jalannya diskusi ini, tim pelaksana mempersiapkan modul yang dapat dijadikan sebagai penuntun dalam memahami konsep batang perkalian sebagai alat bantu hitung operasi perkalian. Selain itu kegiatan ini diselingi pemberian kuis dengan berbagai jenis hadiah yang bertujuan untuk menarik minat siswa sekaligus menguji sejauh mana pemahaman siswa terhadap konsep batang perkalian dan kemampuan siswa dalam menggunakan batang perkalian dalam operasi hitung perkalian.

Penggunaan batang perkalian sebagai alat bantu hitung dalam operasi perkalian ternyata mengundang simpati yang cukup tinggi dari para peserta kegiatan terutama dari para siswa. Hal ini tampak dari antusiasme yang tinggi dari para siswa dalam menyimak setiap penjelasan yang diberikan oleh tim pelaksana dalam kaitannya dengan penggunaan batang perkalian. Seluruh siswa dengan seksama memperhatikan setiap detail penjelasan yang diberikan sehingga mereka pun merasa tertantang untuk mencoba segala kemungkinan masalah perkalian yang dapat dilakukan dengan menggunakan batang perkalian.

Hal ini tentu saja menggambarkan betapa tingginya minat siswa sekolah dasar untuk mempelajari matematika apabila pengajaran diberikan dengan menggunakan alat peraga yang efektif dan menarik seperti batang perkalian ini. Selain itu para siswa lebih cepat menyelesaikan masalah perkalian bilangan dengan menggunakan batang perkalian dibandingkan dengan cara klasik yaitu perkalian bersusun. Tentu saja hal ini akan berimbas kepada meningkatnya kertertarikan siswa untuk mempelajari matematika.

Dari pihak guru pendamping  pun demikian. Sebagian besar guru merasa bahwa batang perkalian dapat memberikan manfaat yang berlipatganda bagi peningkatan minat belajar siswa akan matematika serta dapat lebih cepat meyelesaikan operasi perkalian bilangan daripada yang biaa diajarkan kepada para siswa yaitu dengan perkalian bersusun. Semua ini tim pelaksana simpulkan dari lembaran kuesioner yang diberikan kepada seluruh peserta kegiatan dan dari hasil pengamatan tim pelaksana selama kegiatan berlangsung.

Setelah kegiatan ini selesai, tim pelaksana kegiatan mendapat kabar dari tiga Sekolah Dasar partner dalam program Batang Perkalian ini bahwa dengan kebijakan Kepala Sekolah masing-masing, batangan perkalian ini diperbanyak dan digunakan sebagai alat bantu hitung dalam pengajaran matematika maupun pelajaran hitungan lainnya yang berhubungan dengan perkalian bilangan. Bahkan ada 1 dari ketiga sekolah tersebut yang akhirnya mengujikan penguasaan penggunaan Batang Perkalian dalam ujian praktikum di sekolah.

Berikut beberapa dokumentasi yang sempat diabadikan tim pelaksana selama persiapan hingga tahap kunjungan ke tiga Sekolah Dasar di Kota Kupang dalam program Penerapan Metode Batang Perkalian ini.

Gambar

Design Alat Bantu Hitung Batang Perkalian

Gambar

Ketua Tim Pelaksana yang Sedang Mempersiapkan Modul Mengenai Batang Perkalian

Gambar

Model Batang Perkalian Sebagai Alat Bantu Hitung Operasi Perkalian

Gambar

Spanduk Pelaksanaan Kegiatan

Gambar

Modul Batang perkalian yang Digunakan Sebagai Penuntun Penggunaan Batang Perkalian

Gambar

Salah Satu Tim Pelaksana yang sedang menuntun para siswa SD St. Arnoldus Penfui Dalam Menggunakan Batang Perkalian

Gambar

Dua Orang Siswa SD Inpres Kaniti Yang Mencoba Menyelesaikan Soal Yang Diberikan Oleh Tim Pelaksana Dengan Menggunakan Batang Perkalian

Gambar

Suasana Ruang Kelas SD Inpres Kaniti Saat Pelaksanaan Kegiatan Lanjutan

Gambar

Peserta Kegiatan Lanjutan Di SD Inpres Liliba Berpose Bersama Tim Pelaksana Sesaat Setelah Kegiatan Usai

Berkat Senja Hari Ketiga di Bukit Baumata

Hujan mengguyur derasnya malam itu, suatu malam di bulan Juni saat tak ada siapapun lagi yang lalu lalang di depan sebuah rumah empat air di bilangan R.W Monginsidi 1. Di tengah hujan yang sedang berpesta itu rupa-rupanya masih ada seorang gadis duduk setia di sebuah bangku mengikuti maraknya bebunyian tetesan hujan yang saling sahut-sahutan menghujam setiap benda di bawahnya. Untuk daratan Kupang menjelang akhir bulan Juni memang kedengaran agak aneh jika hujan masih dapat turun dengan sangat lebat. Biasanya bulan Juni seperti saat itu, kota karang akan sangat jarang mendapat hujan selebat yang terjadi malam itu. Entah apa yang terjadi terhadap alam Kupang saat itu, tak sedikitpun mengganggu pikiran gadis muda yang kini tengah terhipnotis alam imajinasinya sendiri. Ia bahkan tak sadar tengah beradu dengan dinginya udara malam yang semakin larut itu. Lisa; begitu Ia akrab disapa di lingkungan pergaulannya, bahkan hanya ditemani secangkir kopi hangat buatannya sendiri 10 menitan lalu ketika Ia tiba-tiba terjaga dari tidurnya yang baru saja akan memasuki tahap lelap akibat sapaan guntur dan percikan cahaya kilat yang menggelegar malam itu.

Ia seorang gadis periang berkulit sawo matang dan berambut ikal yang dikenal sebagai pribadi yang hangat, sederhana, berpikiran terbuka, supel, pekerja keras, ulet dan menyenangkan buat orang-orang yang dekat mengenalnya. Dengan tinggi badan yang boleh dikatakan sesuai dengan profesi pramugari yang Ia damba-dambakan selama ini, Lisa memang banyak menyedot perhatian kaum adam di sekitarnya. Sebuat saja Toni, teman kuliahnya di Jurusan Teknik Sipil pada salah satu perguruan tinggi di Kupang yang berasal dari Rote itu tergila-gila setengah mati dengannya. Ada juga Libert; kraeng Manggarai yang kulitnya paling bersinar di antara kawan-kawannya pun selalu mengejar cinta dari Lisa; putri asal daerah langganan banjir tahunan, Besikama Kabupaten Malaka itu. Bukan hanya mereka berdua yang mengincar Lisa, sejumlah nama lain ternyata sudah bertengger di urutan 3 hingga 12 dalam list pemburu cintanya. Akan tetapi perempuan yang terkenal dengan senyum khasnya ini tidak pernah ambil pusing dengan 12 hunter cintanya itu. Ia bahkan sering curhat ke salah satu teman satu kakinya; Nola, kalau Ia bingung mengapa ke-12 nyong[1] itu selalu menganggunya. Ia berpikir bahwa Ia hanyalah seorang UD alias utusan daerah; begitu istilah diskriminatif yang tenar diberikan kepada mahasiswa-mahasiswi yang berasal dari luar Kupang, yang kurang modis dan gaul seperti halnya sekelompok gadis yang menyebuti diri mereka geng unyu-unyu. Gaya yang sedekit tabarak tembok sebenarnya jika melihat fakta bahwa mereka itu sedang kuliah di teknik. Nola yang disepak dari geng itu karena akhirnya memilih bergaul dan akrab dengan Lisa sering sekali mencari-cari hal untuk ribut dengan kelompok nona-nona ‘gagah’ jurusan sipil itu.

Namun, rupa-rupanya semua kehebohan rutin yang terjadi di kampus itu sama sekali tidak sedang menggangu pikiran Lisa malam itu. Ia resah dan galau tingkat dewa. Sudah seharian putri Malaka periang ini hanya murung dan larut alam tatapan yang kosong. Ia tampak seperti seorang mayat hidup, tak bernyawa lagi. Setidaknya demikian sentilan Nola yang berusaha seharian di kampus menghibur sambil berbekal misi investigasi alasan di balik sikapnya yang aneh itu. Ia juga pernah ditegur Mama Eti; pemilik rumah tempat Lisa tinggal dan menyandang status tante ini, lantaran memecahkan tiga buah piring kaca saat sedang mencuci piring di dapur sekitar pukul 7 pagi itu. Pikirannya memang sedang dilanda kegundahan yang pasti telah mengiringnya melayang dalam hayalan kosong hingga berbuah kejadian pecahnya tiga piring itu. Tantenya itu tak marah sedekitpun. Ia pun memberikan respon yang sama persis seperti apa yang diberikan Nola sahabat karibnya itu. Mama Eti bertanya-tanya jika ada masalah yang sedang Ia hadapi. Namun dengan tenang dan mengulum senyum simpul Ia hanya mampu berkata satu kata; Maaf, kemudian langsung membereskan kekacauan yang cukup menghebohkan seisi rumah pagi itu. Dalam hitungan 3 menitan, semua pecahan piring itu sudah Ia amankan. Ia pun segera beranjak ke dalam kamar tidur berukuran 5 X 4 meter yang berada tepat di samping dapur.

Suasana sepanjang hari di rumah itu memang tidak seperti biasanya. Penghuni rumah seolah memberikan waktu untuk Lisa berdamai dengan amukan tsunami yang terjadi dalam hati dan pikriannya itu. Lisa yang selalu memberikan warna tersendiri kepada kehangatan dalam rumah tembok bercat biru itu, kini seolah diam dalam lamunannya di kamar. Ia hampir menghabiskan seantero waktu sebelum ke kampus dengan tidur-tiduran. Pengap sesekali terasa olehnya. Hingga tak sadar Ia pun terlelap dalam tidur yang justru membuat pikirannya makin terpuruk dalam rasa bersalah. Ia bermimpi dan mimpinya itu membuatnya tak ingin pernah tidur lagi. Itulah sebabnya malam itu akan menjadi malam yang sangat panjang buatnya. Walau hujan makin asyik melimpahkan tetesan-tetesan terkuatnya ke permukaan bumi, pikirannya juga semakin tak mau kalah. Hanyut terlena dan kaku seperti sebuah ukiran patung kayu kecil berukuran panjang 4 cm dan tinggi 8 cm, yang sudah dia genggam sejak dari tempat tidurnya hingga tempat peraduannya kini di teras rumah malam itu. Sesekali Ia menatapi benda dalam genggamannya sembari  memainkan jari telunjuk menyusuri bekas pahatan panjang menyerupai liangkaran spiral di sekujur tubuh patung kecil itu.

Air matanya pun menetes membahasi salah satu bagian tubuh pahatan patung kayu itu. Tetes demi tetes tak sadar telah membasahi sekujur penampang benda itu. Air matanya kini sedang beradu dengan air hujan yang menetes deras. Rupanya ada masalah yang terkait dengan benda kayu pemberian salah seorang pamannya itu. Paman yang sudah Ia anggap seperti ayah kandungannya. Jika saja ayahnya masih ada mungkin Ia tak perlu membagi rasa sayang itu kepada Bapa Lambert, paman yang kini tengah mengadu nasib menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Malaysia sebagai pekerja buruh kasar perkebunan kelapa sawit guna  membiayai perjalanan sekolahnya sejak SMP hingga bangku perkuliahan. Tangisannya pun akhirnya membahana berkawan hujan yang makin saja deras hingga pukul 1 dini hari itu. Ia tak sanggup lagi menahan beban berita yang Ia dapati tepat saat Ia membuka mata pukul 5 di hari sebelum hari itu. Berita yang sentak membuat degup jantungnya bergerak sangat kencang dan seolah tak menuruti ritme yang biasanya. Antara percaya dan tidak atas berita yang Ia dapat melalui pesan singkat di ponsel hitam putih miliknya dari salah seorang anggota keluarga di kampung. Ia memang sangat terkejut membaca bahwa Bapa Lambert, pamannya itu memutuskan untuk menikah dengan seorang TKW dan berniat untuk tidak kembali ke kampung halaman mereka tetapi menetap di daerah Kalimantan.

Memang bukan berita duka yang Ia dapatkan seperti dugaan Nola yang selalu berusaha mencari tahu sebab musabab di balik sikap murungnya itu. Sikap diam yang justru aneh kelihatan bagi sebagaian orang yang akrab dengannya. Yang menjadi bahan pertempuran dalam batinnya hingga terjaga sepanjang malam itu adalah siapa lagi yang akan menafkahi kuliahnya yang sisa 1 semester lagi. Siapa yang bisa membantunya menyelesaiakan cita-cita menjadi seorang sarjana teknik sipil yang sudah di depan mata itu. Apakah itu tantenya? Ia menghela napas panjang sambil terus bertanya dalam hati tentang ujung dari perjuangan kuliahnya itu. Ia tidak berharap banyak kepada Mama Eti yang juga punya beberapa orang anak tanggungan untuk dibiayai. Ada Iwan, yang sedang duduk di bangku SMA kelas dua. Belum ditambah lagi dengan Tina dan Vony yang juga sama-sama berstatus mahasiswa sama sepertinya. Ia sudah membebani keluarga ini dengan menumpang tempat tinggal, makan dan tidur. Barangkali Mama Eti bisa membantu meringankan beban pikiran yang telah mengubah seorang Lisa periang menjadi Lisa pemurung dan pemikir itu jika Lisa mau sedikit terbuka untuk berbicara dengan tantenya ini. Namun, memang Lisa sudah cukup tahu dan sadar akan posisinya serta rasa kasihannya dengan beban sebagai single parents yang diemban oleh Mama Eti sejak ditinggal almarhum Bapa Bernard 6 tahun silam. Ia tak ingin membebani tantenya walau hanya sekedar menceritakan duduk permasalahannya.

Malam kian larut dan Lisa pun makin tenggelam dalam pergumulan batin yang cukup akut itu. Sahut-sahutan kokokan ayam sudah mulai terdengar. Itu artinya pagi kan menjelang hari baru saat Lisa masih duduk dengan manisnya di pelataran teras rumah. Cangkir berisi teh itu ternyata masih setia di samping Lisa dengan isi yang masih persis sama seperti beberapa jam lalu ketika diletakkan di atas meja. Hujan sudah hampir reda dengan menyisakan gerimis di luar teras. Situasi sekitar semakin terang dengan putaran detik yang berlalu cukup cepat hingga telah menunjukkan pukul 6 pagi hari ketiga Lisa hanyut dalam keterpurukan pikirannya. Dari dalam rumah sudah mulai terdengar suara-suara langkah kaki pertanda sudah adanya penghuni rumah yang bangun. Iwanlah orang pertama yang ternyata sudah bangun. Ia bahkan tampak sudah rapi dalam setelan baju bolanya seperti pagi-pagi sebelumnya. Sudah menjadi kebiasaan untuk Iwan bersama-sama kawan-kawan sekompleks rumah bermain futsal di lapangan mini berumput yang lokasinya tak jauh dari rumah.

Sesaat setelah Iwan berangkat berolahraga, Lisa pun bergegas untuk kembali dalam kamar berniat melanjutkan meditasinya. Alih-alih ingin berbuat demikian, sentak Ia dikagetkan dengan sesosok tubuh yang mengagetkannya dari arah kamar mandi tepat di belakang posisinya berdiri hendak membuka pintu kamar tidurnya. Tina rupanya sudah juga bangun sejak jam 5 pagi dan baru saja selsesai mandi. Percakapan pun terjadi di antara mereka.  Tina yang khawatir dengan keadaan sepupunya itu memulai pembicaraan dengan menanyakan keadaan Lisa. Mencoba untuk tidak terlalu dingin, Lisa akhirnya bertutur beberapa penggal kata setelah dua hari belakangan melakukan aksi mogok berbicaranya itu. Tina yang sedang buru-buru pun akhirnya menyudahi pembicaraan dan sambil berjalan menuju kamarnya untuk berganti pakaian, dalam hati Ia sendiri telah memastikan bahwa Lisa sepupunya itu sudah pulih dan bisa kembali riang seperti biasanya. Akan tetapi Tina salah menilai atas apa yang terjadi pagi itu. Lisa yang sudah menjagkau tempat tidurnya itu ternyata masih saja tancap gas dengan berjuta pertanyaan dalam hatinya mengenai ujung keputusaan besar pamannya itu. Ia kembali larut dengan tatapan kosong sambil menengadah ke langit-langit kamarnya. Hingga tak sadar bahwa Mama Eti telah berkali-kali mengetuk pintu kamarnya. Saat ketukan terakhir dengan nada yang mungkin dinaikkan 5 oktaf, Lisa pun sadar dari lamunannya dan bergegas membuka pintu kamar. Didapatinya Mama Eti tengah berdiri tepat di depannya. Pandangan Mama Eti sedikit saksama atas tampilan Lisa menjelang pukul 10 pagi itu.

 “Sonde [2]pi[3] kuliah ko?’’, tanya Mama Eti memecah konsentrasi Lisa yang mencoba mencari tahu arti pandangan Mama Eti.  Dengan nada sedikit kaget Lisa mencoba menjawab pertanyaan tantenya itu. “Sonde Ma!! Beta ini hari sonde ada kuliah hanya ada konsultasi dengan dosen penguji sebentar sore sa ma”, balas Lisa menjelaskan perihal mengapa Ia masih saja asik bertengger di dalam kamarnya. “Tapi, kenapa bete [4]pung mata su kayak orang yang sonde tidur malam dua hari ni? Jangan sampe tadi malam sonde tidur ko?,” lanjut Mama Eti dengan sedikit nada curiga.

 “Ai sonde ma!!! Hau toba la ohin kalan[5]. Beta tidur pulas tadi malam, Ma”, jawab Lisa menyakinkan Mama Eti.

Seusai percakapan yang cukup menengangkan bagi Lisa itu, Mama Eti pun mengajak Lisa membuat nasi goreng untuk dijadikan menu sarapan buat mereka berdua. Dengan masih berbekal sisa-sisa pikiran menyakut masalahnya yang belum berujung solusi itu dan ditambah rasa bersalah sudah membohongi tantenya, Lisa berjalan pelan menuju dapur dan sesekali berusaha menyembunyikan rasa kantuk luar biasa yang kini sedang menggerogotinya. Mencoba berkonsentrasi agar tak lagi memecahkan piring, Lisa pun menyelesaikan pekerjaan membuat menu sarapan pagi Nasi Goreng. Dengan lahap Lisa dan tantenya menikmati sarapan. Selama sarapan Mama Eti mencoba membuka percakapan baru lagi. Kali ini Ia bertanya seputar perubahan sikap yang terjadi sejak dua hari lalu.

Bete ada masalah ko?”,tanya Mama Eti memulai percakapan di meja makan saat itu.

Mama perhatikan su 2 hari ni nona murung terus. Kalo ada masalah na cerita-cerita to. Yaaa..sapa tahu Mama bisa bantu nona? Ato jangan sampe ada masalah di kampus?”, lanjut Mama Eti seperti seolah tak mau membiarkan Lisa menjawab pertanyaan pertama.

“Sonde ma. Sonde ada masalah. Beta hanya terganggu dengan hasil konsultasi dengan bimbingan dosen sa dua hari lalu, andia[6]  beta talalu stress dengan itu.”, jelas Lisa sambil meminta maaf berulang kali dalam hatinya telah membohongi lagi tantenya itu. Melihat ekpresi yang cukup memuaskan dari Mama Eti, Lisa pun merasa berhasil menutupi masalah yang tengah Ia hadapi itu.

Acara makan-makanya pun selesai. Setelah membersihkan piring kotor, Lisa kembali ke dalam kamarnya. Entah rasa apa yang selalu menghinggapi Lisa, tiap kali duduk sendiri dalam kamarnya itu Ia pasti akan terjerumus dalam pertanyaan-pertanyaan yang selalu bermunculan tanpa jawaban-jawaban pemuasan. Waktu berlalu begitu cepatnya, hingga tak terasa sudah menjelang sore pukul 4. Lisa mencoba menghubungi Nola untuk sekedar bajalan,[7] begitu warga Kupang menyebut istilah hangout. Setidaknya ada hal yang bisa mengalihkan pikiran Lisa walau itu mungkin hanya sesaat. Tapi Ia butuh udara segar. Mungkin sekedar tampias [8]di  Taman Nostalgia sambil menyantap salome goreng; makanan ikon di taman kota ini sambil ditemani minuman Pop-ice. Sayangnya, nomor hp Nola susah untuk dihubungi. Karena hasrat untuk mencari udara segar mengalir kuat dalam benak Lisa, Ia pun memutuskan untuk jalan-jalan sore. Dalam hitungan 10 menit, dara manis ini sudah siap dengan sebuah oblong putih dan jeans biru. Ia pun mengambil motor Honda Scoopy pemberian Bapa Lambert untuk ditunggangi sore itu. Ia belum memutuskan tujuan jalan-jalan kali ini. Yang ada di dalam otaknya adalah mencari ketenangan selain yang telah Ia dapatkan dari kamarnya itu. Ia pun akhirnya sudah melaju dengan scoopy kebanggaanya itu. Saat Ia sadar kalau scoopy itu adalah hasil kerja keras Bapak Lambert, Ia kembali dihadang oleh pertanyaan-pertanyaan yang sempat membuatnya galau. Sambil kembali bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan itu, Ia tak sadar membawa Scoopy kesayangannya menuju arah Baumata.

Ia kemudian memutuskan untuk mengunjungi sebuah Bukit di dekat Perumahan RSS Baumata. Bukit itu memang spesial buat gadis periang yang satu ini. Ia sering menghabiskan waktu di bukit itu untuk sekedar mencari ilham mengotak-atik skripsinya hingga saat galau seperti yang belakangan terjadi. Ia pun memarkirkan motornya di tepian jalan dekat bukit hijau itu dan berjalan pelan menuju wilayah tengah bukit. Ia meluangkan waktu duduk tanpa sedkit mengingat semua pertanyaan yang telah Ia bangun sendiri tanpa mencoba untuk mencari jawabannya. Sepinya daerah sekitar bukit memang menjadi katalis yang luar biasa dalam reaksi pemulihan pikirannya. Reaksi pemulihan ini berjalan dua arah hingga tak sadar Ia mulai dirasuki damainya, hijaunya, dan asrinya bukit sambil dilatari dengan pergerakan sang surya yang mulai turun perlahan dari peraduaanya. Sungguh indah dan menenangkan suasana sore itu. Tiba-tiba ponsel yang ditaruhnya di saku sebelah kanan celananya itu berbunyi memecahkan kesunyian yang tengah Ia selami. Ada sebuah pesan masuk yang ternyata adalah solusi dari semua pertanyaan-pertanyaannya selama 2 hari itu. Bapa Lambert mengirim pesan bahwa Ia memang akan menikah dengan Frida, TKW asal Lembata, tetapi Ia akan pulang dan menetap di Kupang. Sungguh terkagetnya Lisa sesaaat membaca bunyi sms itu. Rasa senang yang luar biasa Ia rasakan hingga menetskan air mata. Ia lalu lari melompat beberapa kali sambil berteriak lepas. Ia kembali duduk, menikmati bergantinya suasana senja di bukit Baumata itu. Ia kini sadar bahwa kemarin hanyalah sebuah ujian yang DIA berikan kepadanya. Bersyukur Lisa kembali bersemangat dan siap menantang hari-hari menjelang dinobatkanya Ia menjadi seorang Sarjana Teknik Sipil. 

THE END

[1] Panggilan untuk laki-laki di Kupang

[2] Sonde (dialek khas daratan Timor NTT) yang berarti : Tidak

[3] Pi = Pergi

[4] Bete = panggilan bagi anak perempuan di Kabupaten Malaka yang berarti anak gadis

[5] Bahasa tetun yang berarti saya tidur tadi malam

[6] Dialek Kupang yang berarti oleh karena itu

[7] Dialek Kupang yang sama artinya dengan jalan-jalan

[8] Dialek Kupang yang memiliki arti yang sama dengan jalan-jalan, ikut ramai-ramai

Continue reading

Mata

Iris_-_left_eye_of_a_girl

Dan mata ini masih setia degan daya akomodasi maksimumnya. Entah sampai kapan Ia akan mengangkat kain putih pertanda menyerah buat ku terlelap Terlelap bersama sejuta kisah seru hari indah yang baru saja saya lalui ini. Seoalah tak mau melewatkan semua memori hari ini, Ia kian tajam menatapi monitor ini tanpa mengeluh satu kata pun. Kadang saya merasa bingung dengan pola yang Ia lakoni belakangan. Sentak kebingungan ini buat ku tuk berpikir mungkin Ia mulai membiasakan diri sebelum waktu buatnya nanti. Waktu buat menemani malam-malam saya yang panjang berperang mengejar deadline tugas yang harus saya taklukan kelak.

Mata ini makin saja terus dan terus berpijar dengan benderangnya. Ia memang tipe pekerja keras dan keras kepala. Ia sepertinya tak mau menutup lembar penuh kisah di halaman istirahat malam hari ini. Sudah saya buktikan 4 tahun silam, terutama saat masa-masa menuntaskan proyek skripsi kala itu. Ia bahkan rela menemani saya terjaga selama 5 hari penuh membereskan setumpuk formula pemodelan matematika. Setia dan penyabar mungkin dua kata itu yang bisa saya berikan kepada pahlawan saya yang satu ini. Walaupun Ia kini harus ditemani oleh seorang rekan yang membantunya untuk tetap berjaya di masa keemasannya, Ia tak pernah mengeluh atau merasa dianaktirikan. Kadang saya merasa perhatian yang saya berikan kepada nako sahabatnya ini melebihi perhatian yang harusnya saya berikan kepadanya. Betapa tidak, temannya ini sudah berkali-kali diservis dan mendapat perawatan hingga berganti lensa hingga 5 kali. Angka pencapaian yang cukup fantastis untuk sebuah kacamata. Treatment yang berbeda inilah yang kadang membawa saya pada pertanyaan, apakah saya tidak terlalu pilih kasih? nako itu hanyalah alat bantu buat saya agar Ia dapat beroperasi sesempurna dulu. Dulu???? Apa maksudnya?? Apa yang terjadi??  Apa ini berarti Ia sudah tak berada di performa terbaikknya hingga harus berkawan nako sialan ini???

glasses

Ohhh…mata!! Maafkan saya yang tega menelantarkanmu sampai berujung pada hal yang seharusnya tidak terjadi jika saya betul-betul merawat mu. Tapi sebentar!! Jangan salah sangka dulu. Saya juga tidak pernah ingin agar Ia perlu ditemani kawannya itu. Saya hanya memberikan pertolongan pertama kepadanya agar Ia jangan sampai tenggelam dalam kesakitannya itu. Bayangkan jika saya tidak memberinya kawan, apa jadinya Ia sekarang. Barangkali Ia sudah jauh lebih sakit dari sekarang. Jauh terpuruk dalam keminusannya. Mungkin setelah Ia membaca sepotong pengakuan saya di penghujung pagi ini Ia akan serta merta lari ke arah saya dan memeluk mendekap saya dengan kuatnya sambil berbisik terima kasih. Terima kasih buat usaha yang telah Ia salah pahami itu, dan saya pun akan balik berkata, “Jangan berterimakasih kepada saya, tapi berterima kasihlah pada teman kamu itu. Ia yang sudah membantumu melewati masa-masa sulit selama kurang lebih 6 tahun ini.” Walau di sisi lain treatment pengobatan juga saya berikan kepadanya melalui rajin mengonsumsi sayuran terutama si oranye favorit kelinci itu. Saya yakin suatu saat nanti Ia pasti akan bisa gagah berdiri sendiri menatap ke depan tanpa harus menembusi sepasang lensa berdioptri itu. Dan berita bagusnya adalah sudah hampir 3 minggu belakangan Ia sudah saya latih untuk bebas bercengkrama dengan udara tanpa harus mengadalkan si nako.  Akankah Ia bisa mandiri seperti ini dalam waktu yang lama ke depan? Entahlah…. untuk sementara waktu saya akan membiarkan Ia senang dalam kemandiriannya ini.

Kisah Saya Pagi Ini (H – 18 Menuju Pre-Departure Training di Denpasar)

Pagi ini saya kembali terbangun setelah dikagetkan dengan bunyi alarm yang setia tiap pagi membangunkan saya. “Selamat pagi Kupang, Selamat pagi Indonesia, Selamat pagi dunia”, bisik saya pelan dalam hati sembari bangun mencoba mencari tahu gerangan bebunyian tetesan air dari luar kamar saya. Dalam hitungan detik saya sudah membuka jendela kamar saya dan upssss sentak udara dingin langsung menggerogoti tubuh saya. Dengan kesadaran yang masih setengah itu saya berusaha berdiri menyandarkan tubuh saya pada bingkai jendela saya sambil sesekali menguap beberapa kali. Ahhh…rupanya sedang hujan di luar. Tidak terlalu lebat hujan di luar kamar saya itu, cuman pikiran miris untuk kembali mendekap dalam hangatnya selimut terlintas dalam pikiran saya. Hujan rintik ini dan udara segar pagi yang ditemani dengan hembusan bayu nan sejuk ini seolah menggoda saya untuk menuruti keinginan tersebut. Sambil merentangkan badan sedekit ke belakang dengan kedua tangan merenggang sekuat tenaga kea rah kanan dan kiri, saya pun mencoba mendekatkan diri kembali ke tempat tidur berukuran satu orang yang selalu senantiasa menjadi tempat merebahkan badan tiap kali rasa capek merasuki tubuh dan tiap istirahat siang dan malam. Namun, niat itu akhirnya serta merta batal sebab mata saya tiba-tiba menatap jam di ponsel saya yang tidak dengan sengaja saya letakkan tepat di sebelah kanan bantal saya sejak semalam. ‘‘Oaaaalllaahhhh sudah jam 8 pagi to!! Adowww sudah harus mandi ni, terus siap-siap dan bergegas ke warnet langganan untuk print dokumen yang diminta pihak kantor ADS  Jakarta seperti yang mereka minta melalui email tadi malam’’, kata saya dalam hati sambil menghela napas lumayan panjang. Dengan berat hati saya pun beralih dari tempat ternyaman di dunia buat saya itu untuk segera membereskan file yang harus diprint tersebut. Untungnya juga semalam sudah sempat bongkar-bangkir beberapa map berisi dokumen penting sewaktu melamar ADS setahun lalu yang pernah saya amankan dalam lemari sehingga pagi ini tingaal membereskan dokumen terjemahan lainnya. Limat menit berlalu dan dua file yang harus diprint sudah saya copy dalam sebuah flash Toshiba putih pemberian salah seorang rekan dosen saya.

Selain agenda untuk mengeprint dua dokumen ini, saya punya agenda lain yaitu memimpin kelas diskusi terakhir Berburu Beasiswa ala FAN yang akan digelar 1 jam lagi dan mengikuti kodar keempat Kominutas Blogger NTT sebentar sore jam 5 sore. Masih lama juga pause waktu yang saya punya untuk bisa sekedar menikmati akhir pekan sebelum beranjak ke agenda kedua ini. Kelas diskusi BBF yang sudah eksis sejak bulan Maret lalu ini akan berakhir hari ini. Tuntaslah tanggung jawab saya dipercaya sebagai ketua kelas memimpin dan mengkoordinir sekelompok orang yang sedang menggodok aplikasi beasiswa melanjutkan studi ke luar negeri. Senang akhirnya bisa menyelesaikan satu lagi perkara yang menurut saya menjadi titik pertama untuk terjun dalam lingkungan dan situasi baru di Australia nanti. Di sini sisi kepemimpinan saya ditempa dan diasah. Banyak pengalaman dan informasi baru yang saya petik dengan mengenal orang-orang baru yang punya visi dan misi tentang masa depan yang cerah serta yang paling membuat saya bersyukur adalah kesempatan mengenal lebih dekat senior-senior FAN antara lain Dr. Elcid Li, Dr. Jonatan Lassa yang akrab dengan sapaan JL, dan Dr. Ermi Ndun  yang telah terlebih dahulu studi di luar negeri. Ide, cara berpikir kritis, kreatif dan inovatif serta  jiwa leadership adalah hal-hal positif yang saya dapatkan selama berkiprah di forum kecil ini. Motivasi saya untuk maju kian membara dan makin bergelora. Kesempatan untuk belajar ini memang saya maksimalkan betul-betul dan tak ingin saya lewatkan satu point pun. Namun, perjalanan memimpin kelas diskusi ini akhirnya harus saya sudahi karena 2 minggu lagi saya harus memulai Pre-Departure Training selama 3 bulan sebelum resmi belajar di negeri Kangguru tahun 2014.

‘Waduhhhh”, teriak saya mengagetkan serentetan tulisan kisah di pagi ini. Sepertinya jam di ponsel saya sudah menunjukkan pukul 10.15. Itu artinya saya sudah terlambat 15 menit kelas diskusi BBF. Walaupun masih gerimis di luar sana, saya pun bergegas menuju kamar mandi dan bersiap-siap memimpin satu lagi sesi diskusi terakhir di kelas berburu Beasiswa ala FAN ini.

Yeahhhh…demikianlah sekelumit kisah saya pagi ini. Bagaimanakah kisah Anda di pagi ini????

Kebetulankah ini?

Setelah beberapa hari belakangan merasa addicted buat menulis dan terus terganggu dengan perasaan yang selalu menanyakan alasan berapi-apinya hasrat untuk menulis akhirnya sampailah saya pada kesimpulan yang belum final juga sebenarnya, yaitu apakah semua ini kebetulan? Yaaa……… Ini dia pertanyaan yang lumayan mengganggu pikiran saya tak kala saat duduk menyepi di teras kosan atau sewaktu baring-baring menatapi langit-langit kamar yang pemandanganya pasti akan selalu begitu-begitu saja. Pikiran saya jauh terbang melanglang-buana entah ke mana arahnya saya juga bingung. Di saat datang keputusan buat kembali memuaskan hasrat menulis yang sudah lama saya tinggal dorman, beberapa hal besar lainnya menyinggahi saya. Ketika saya mulai aktif jadi seorang blogger, saya mendapat kesempatan untuk bergabung dalam even salah satu komunitas Blogger NTT yang akan ‘kopdar’  alias ‘kopi-darat’; begitu istilah kerennya untuk kegiatan tatap muka langsung bersama anggota sebuah komunitas, pada hari Sabtu, 22 Juni 2013, pukul 17.00. Senang sekali bisa diundang dan pasti dengan senang hati akan bergabung,  secara ini kesempatan untuk belajar banyak dari blogger-blogger senior NTT yang kebanyakan adalah anak-anak muda asli NTT yang kreatif dan inovatif. Bukan hanya itu saja, yang cukup membuat saya begitu terus bertanya-tanya adalah kesempatan lain untuk mulai mengasah kemampuan menulis jurnal akademik baik itu dalam bahasa Indonesia maupun Inggris. Kesempatan yang menurut saya langka ini, tidak saya sia-siakan begitu saja. Saya merasa tertantang untuk mencoba. Ya at least mencoba dululah, hasilnya belakangan. You’ll never know till you have tried, right? Semua peluang ini datang tepat bersamaan dengan keputusan saya untuk aktif lagi menulis. Apa semua ini kebetulan sajakah?? Atau memang ada rencana besar yang menanti saya di depan sana??

Image

Mungkin untuk pertanyaan pertama dapat dengan mudah saya jawab. Saya menilai ini bukan sebagai suatu kebetulan. Saya anggap ini sebagai  BONUS. Bonus untuk suatu keputusan yang telah saya ambil kemarin. Akan tetapi untuk pertanyaan kedua, agaknya sayapun tak bisa berteori banyak. Simply because I have no idea what the future holds. What can I do right here right now is giving my responses positively to these bonus. Bersyukur sudah  pasti ada di list nomor 1. Selanjutnya adalah realisasi dengan mengalokasikan segenap kemampuan yang saya punya. Yakin tapi sedikit ragu apakah saya bisa menjawab golden opportunity ini dengan baik dan benar, atau justru sebaliknya. Bukan bermaksud untuk jadi orang yang pesimistis, tapi bukankah yakin dengan ragu itu selalu datang bersamaan layaknya dua sisi mata uang logam yang tak mungkin dipisahkan? Jadi sah-sah saja kan kalau saya merasa yakin dan ragu di saat yang sama.  Maaf jika teori yang saya gunakan ini tak sepaham dengan apa yang Anda yakini saat ini, tetapi beginilah cara saya menanggapi setiap persoalan dan perkara yang ada di sekitarnya. So, have u ever given your best response to your problems? For the time being, let me handle it.

Have a happy blessed weekend.

 

Membahasakan Angka

Seminar pertama setelah 4 tahun lulus sebagai sarjana sains matematika baru saja saya lewati Kamis, 20 Juni 2013. Seminar ini begitu spesial buat saya sebab untuk pertama kalinya saya berdiri sebagai pembicara di depan audience  yang super di bidang mereka.  Senior-senior Forum Akademia NTT yang punya segudang pengalaman di bidang penelitian di bidang keahlian masing-masing. Suatu kehormatan diberi kepercayaan membawakan materi yang tidak lain adalah hasil penelitian skripsi sewaktu kuliah S1 dulu. Sempat menunda kesempatan tampil di depan para doktor lulusan luar negeri ini karena terbentur beberapa halangan, nyaris hampir membuat saya enggan untuk terlibat dalam even mingguan IRGSC; salah satu LSM lokal yang bergerak di bidang penelitian.  Dengan berbekal keberanian untuk tampil di depan forum yang ekslusif ini, akhirnya saya pun baru saja menuntaskan satu lagi tantangan sebelum proyek besar yang kini sudah menanti di bulan Juli nanti.

Selama presentasi, perasaan saya bercampur aduk antara super grogi, dan bingung karena suasana  sepi selama saya berapi-api menjelaskan apa yang tampil dalam setiap tampilan slide. Slide demi slide berhasil saya lewati dengan cukup menyakinkan. Hingga berakhir di slide yang ke 18 sore itu. Sesi diskusi pun dimulai. Inilah sesi yang menurut prediksi saya akan sangat menegangkan. Dalam pikiran saya, akan terjadi perdebatan yang seru menyangkut apa yang sudah saya bawakan. Imajinasi akan sanggarnya sesi diskusi ini sempat singgah dalam pikiran saya walaupun kecepatan mampirnya hanya sepersekian detik tetapi lumayan mengganggu. Mencoba berdamai dengan situasi yang membuat gusar itu, saya pun mulai mendengar masukan dan komentar atas apa yang saya lakukan tepatnya 4 tahun silam ini. Banyak masukan-masukan positif yang cukup membangun yang saya dapatkan sore itu. Ternyata di mata mereka, apa yang saya lakukan ini menarik mengingat topik yang saya usung berhubungan dengan matematika dan kesehatan. Ada nada-nada kebingungan yang sempat saya tangkap karena memang tuisan saya ini pure matematika dan cara saya menampilkan terkesan membuat bosan sebab hampir sebagian besar berupa angka dan variabel matematis. Usulan untuk mengemas menjadi presentasi yang lebih menarik dalam hal slide pun saya catat dalam sebuah buku catatan kecil yang saya bawa waktu itu. Dari semua komentar yang diberikan kepada saya sore tadi, ada satu yang cukup mencuri perhatian saya, yaitu bagaimana kalau hasil ini diteruskan dalam opini? Satu tantangan baru lagi ini. Yang kemudian muncul secepat kilat dalam otak saya adalah bagaimana membahasakan angka-angka dalam presentasi ini dalam sebuah tulisan yang bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang. Masukan untuk membaca beberapa topik terkait pun muncul dari salah seorang senior FAN.

ImageMembahasakan angka itu rupanya pernah saya coba sewaktu menulis skripsi, yang saya tuangkan dalam ‘Implikasi Penelitian’. Akan tetapi yang dimaksudkan  oleh beberapa orang doktor ini adalah bagaimana matematika bisa dijadikan tool untuk berkontribusi dalam pemberantasan penyakit menular, misalnya. Bagaimana menuangkan peranan matematika sehingga dapat bersama-sama bidang lain membantu masalah kesehatan. ‘Ini dia real tantangannya’, gumam saya dalam hati. Niat untuk mengemas sebuah opini pun sempat terbesit dalam hayalan saya. Mudah-mudahan dalam beberapa hari ke depan dapat saya hasilkan tulisan yang dimaksud.

Image

 

Wartawan: Suara Bagi yang Tak Bersuara

“Semewah-mewahnya sebuah sangkar , pasti burung pun ingin melayang di udara.” Membaca sederetan kata di atas, di benak kita akan terpampang sebuah nasehat. Nasehat yang menekankan kemewahan dan kegemerlapan dunia, belum tentu menjamin kebetahan sesorang untuk tetap hidup. Setiap makhluk hidup ingin bebas. Bebas berkiprah menjelajahi seluruh bentangan maya pada ini, tanpa ada yang melarangnya. Burung saja tidak betah tinggal di sangkar emas, apalagi manusia. Namun, tidak  semua  kebebasan dapat dengan mudah diraih oleh makhluk hidup. Apalagi kebebasan itu menyangkut harga diri seorang manusia.

Demokrasi Sebagai Media Terciptanya Kebebasan Berpendapat

Adalah suatu kewajaran bahwa manusia ingin bebas dalam melakukan segala hal. Segala upaya akan dilakukannya guna mencapai kebebasan tersebut. Sehingga jangan heran, jika acapkali manusia sering menindas sesamanya dalam memperbutkan kebebasan tersebut. Ambisi dan hasrat yang kuat tersebut nampak melalui persaingan untuk memperoleh kebebasan mutlak dalam segala hal. Salah satunya adalah kebebasan berpendapat.

Dalam sebuah negara demokrasi, menyampaikan pendapat adalah suatu hal yang wajar-wajar saja, asalkan disampaikan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Di negara kita Indonesia, setiap orang boleh mengeluarkan pendapatnya di mana pun ia berada. Kebebasan berpendapat tersebut telah membudaya sekaligus menjadi prioritas utama bagi terselenggaranya kehidupan bermasyarakat. Bukan hanya itu, kebebasan berpendapat yang telah diatur dalam UUD 1945 pasal 28 tersebut pun merupakan tolak ukur atas berhasil tidaknya penyelenggaraan pemerintah. Tanpa adanya kebebasan berpendapat, mustahil tercapai pemerintahan yang adil dan bijaksana. Namun, apakah kebebasan tersebut telah benar-benar dijunjung tinggi oleh para penghuni ibu pertiwi ini?

Pasang Versus Surut, Rakyat Jadi Anak Tiri

Bertolak dari realita yang berkembang akhir-akhir ini, agaknya kita perlu merasa sanksi untuk menjawab pertanyaan di atas. Mengapa penulis katakan demikian? Kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, ibarat air laut yang senantiasa pasang dan surut. Ada waktu untuk mencuat hingga ke atas. Akan tetapi, ada pula waktu untuk melorot hingga ke dasar-dasar yang gelap dan mencekam. Demikianlah kiasan yang sesuai dengan kondisi berbangsa dan bernegara kita. Kerapkali bangsa kita memberikan perhatian yang boleh dikatakan ekstra terhadap hak berpendapat warga negaranya. Hal ini bisa kita lihat dari sering diadakannya pemilu. Namun di lain pihak, bangsa ini pun rela menelantarkan suara-suara emas rakyatnya yang hina dina. Perhatikan saja di sekeliling Anda. Banyaknya aksi unjuk rasa di kalangan buruh adalah fakta-fakta aktual atas masalah ini.

Menurut mantan Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln, “demokrasi berarti pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.” Artinya bahwa segala  bentuk penyelenggaraan program pemerintah haruslah berasal dari rakyat, dilakukan oleh rakyat dan berakhir untuk rakyat. Tetapi apakah semboyan demokrasi tersebut telah terpatri dalam hati pembesar-pembesar negeri ini? Suatu hal yang sangat kontraversial.

Para elit politik yang selalu mendengungkan semboyan demokrasi justru menjadikannya sebagai bumerang bagi diri mereka sendiri. Mereka seolah-olah menelan kembali janji-janji muluk saat kampanye lalu. Mereka enggan menggubris setitik suara rakyat mereka. Mereka justru memaketkan suara-suara itu sebagai tunjangan hari tua dengan dalih akan dipertimbangkan di kemudian hari. Lantas, bagaimana nasib rakyat yang sering dianaktirikan oleh bangsa ini?

Wartawan: Pahlawan Impian Rakyat Era Millenium

Melihat kondisi politik yang semakin glamour dengan ditangkapnya para penjilat keringat rakyat, sudah sepatutnya kita berbangga diri sembari menepukkan dada atas berhasilnya pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla meringkus tikus-tikus berdasi menuju rumah tahanan. Walaupun filsuf dan penyair asal Libanon, Khalil Gibran pernah mengatakan bahwa jaringan hukum kita hanya berguna menangkap pejahat kecil atau berukuran kelas teri daripada kelas kakap, kita mestinya sedikit berbangga atas kinerja pemerintahan kita. Namun, apakah Anda sadar kalau hal ini nampaknya sangat ironis? Di tengah labilnya nasib rakyat, ada juga penjahat yang ditangkap. Hebat bukan, kerja pemerintah kita?

Kehausan rakyat akan tersalurnya aspirasi mereka menuntut lahirnya pahlawan-pahlawan rakyat yang dapat menyuarakan pendapat mereka yang sekian lama telah tersisih. Ya, pahlawan yang dapat memberikan makna bagi suara-suara yang selama ini ditelantarkan. Namun, siapakah gerangan pahlawan itu?

Pahlawan yang dimaksudkan di sini bukanlah pahlawan seperti yang ada dalam dongeng anak ataupun cerita-cerita horror. Pahlawan ini sangat nyata dan selalu berada di tengah masyarakat. Tetapi perlu digarisbawahi bahwa pahlawan yang satu ini tidak memakai kostum unik seperti halnya zorro, batman ataupun superman. Ya, dialah wartawan sang aspirator suara-suara yang selama ini dibuang begitu saja oleh para elit politik. Melaluinyalah suara-suara yang sekian lama terbungkam akhirnya meledak dan mengenai wajah-wajah yang seseakan tidak berdosa. Wajah-wajah yang penuh dengan janji-janji muluk dan tawaran-tawaran yang begitu menggiurkan.

Kemanakah Para Pemikul Gelar Legislatif?

Hadirnya wartawan membawakan 1001 pengharapan bagi rakyat kecil. Semut-semut kecil yang selama ini melolong minta tolong di kolong singgasana sang penguasa, akhirnya boleh bernapas lega. Segala yang mengganjal di hati mereka, akhirnya dapat disalurkan. Rakyat yang memendam rindu akan keadilan, kini boleh menyampaikan keluh kesah, penderitaan atau bahkan kritikan-kritikan pedas kepada para pembesar negeri ini. Melalui buah tangan para kuli tinta yang berupa artikel, berita, maupun cerita, pendapat rakyat mengenai penyelenggaraan pemerintah dapat terdistribusi dan dibaca oleh penguasa bangsa ini. Namun, bukankah bangsa ini mempunyai wakil-wakil rakyat yang dapat bertindak sebagi mediator atas semua masalah ini? Lalu, ke manakah wajah-wajah tak berdosa  yang telah menduduki kursi panas DPR itu? Apakah mereka menghilang begitu saja di tengah keresahan rakyat akan bantuan mereka?

Memang secara kasat mata, bangsa ini memiliki DPR. Tetapi hal itu tidak berlaku lagi saat ini. Mengapa hal itu bisa terjadi? Kondisi tragis yang melanda republik ini memang bermula dari ketidakberesan kinerja anggota Legislatif. Para anggota DPR enggan menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat dengan baik. Mereka cenderung bersikap acuh  terhadap semua rintihan rakyat kecil. Mereka beranggapan bahwa rintihan itu justru akan merepotkan mereka. Masih ingatkah Anda akan syair lagu Iwal Fals yang bernada mengeritik para wakil rakyat?

Anggapan Lain Tentang Seorang Wartawan dan Solusi

Situasi yang boleh dikatakan bagai telur di ujung tanduk ini, membutuhkan tangan-tangan kasih seorang wartawan. Wartawan berperan dalam menetralisir seluruh racun politik dan dapat mengembalikan denyut kehidupan rakyat kecil sehingga rakyat kecil pun dapat sedikit berbangga sebagai penghuni republik ini. Ibarat penyakit dan obatnya, demikianlah wartawan dengan segala penyakit politik republik ini. Akan tetapi di sisi lain, kehadiran seorang kuli tinta sering disepelekan oleh sekelompok orang. Mereka malah megklaim wartawan sebagi racun bagi kondisi genting republik ini. Keadaan ini bukan pertama kalinya bagi Indonesia. Perihal pengesampingan peran wartawan sudah tercium lama hingga reformasi saat ini. Masa orde Lama, misalnya. Pada Oktober 1959, pemerintah melarang semua kritik, kecuali yang konstruktif mengenai politik Soekarno dan memerintahkan para penerbit pers menjadi pendukung dan pembela serta bertindak sebagai alat untuk menyebarluaskan Manifestasi Politik (Rahasia Dapur Majalah di Indonesia, Kurniawan Junaedie, 1995). Hal ini tentu sangat menyudutkan wartawan sebagi pengekspos kritik rakyat. Kondisi ini diperparah lagi dengan diseretnya pemimpin redaksi/penanggung jawab majalah POP, Rey Hanituo ke meja hijau pada tahun 1973. Ia dituduh mencemarkan nama baik Presiden Soeharto, lantaran mengusut identitas seorang pria yang nama dan tempat tanggal lahirnya sama dengan Presiden Soeharto. Peristiwa ini sempat menggemparkan dunia pers saat itu. Apalagi pada rezim Orde Baru, pemerintah sempat menjamin kebebasan pers dalam penulisan dan penyajian berita. Serentetan kisah memilukan di atas mencerminkan anggapan dan pandangan lain terhadap sosok seorang wartawan. Lantas, bagaimana konsekuensi yang layak atas persoalan di atas?

Image

Wartawan adalah pekerjaan. Pekerjaan adalah ibadah. Oleh sebab itulah hindarkanlah pikiran pikiran sesat mengenai wartawan. Ciptakanlah pikiran-pikiran segar terhadap sosok seorang wartawan. Sebab tanpa wartawan mustahil ada sejarah. Mustahil ada berita-berita seputar kejadian-kejadian dari seluruh belahan dunia. Mustahil ada perkembangan IPTEK. Singkatnya tanpa wartawan, jangan bermimpi untuk mengetahui perkembangan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, tunggu apa lagi! Segeralah hargai dia. Tunjukkan dukungan Anda padanya. Sebab  hanya dialah tempat seluruh suara yang tak  bersuara, bersuara kembali. “Kicauan burung akan sedap kedengarannya apabila ada pendengarnya”. Sehingga berharaplah dengan penuh optimis kepada wartawan karena suara Anda pasti didengar oleh sang penguasa.

Penulis : Siswa SMA Negeri I Atambua.

Kelahiran : Dili, 22 Maret 1988

*NB: Tulisan inilah yang pernah membawa saya menjuarai kompetisi menulis Artikel Ilmiah Remaja Populer, yang diselenggarakan oleh Keuskupan Atambua dalam rangka mempringati Hari Komunikasi Sosial (Komsos) Sedunia, 1 April 2006 lalu.

Ingin sekali bisa menulis lagi seperti ini.