Vivisection should not be used in medical treatments for humans

The issue of whether vivisection should be used for human medical treatments has been globally debated.  Despite the fact that some people agree to use animal experimentation in medical treatments for human, this essay will argue that vivisection has to be stopped.

There are several proposed reasons why animal experimentation for human medical needs should be continued. Some people believe that as a form of research, vivisection is a way to make improvements in science. According to them, there will be no medical advancements if animals are not used as samples. Additionally, laboratories where the animals are used as experimental objects provide similar situations as found in breeding programs of famous zoos. Like in human surgery, animals are treated in sterilized and professional procedures with less pain. Therefore, people do not need to be worried about the process of the experiments.

Gambar

On the contrary, vivisection should be stopped due to some reasons. Firstly, it is simply because humans differ physiologically from animals. Therefore, some failures in developing medications and disease analysis by using animals as samples for humankind might occur. For example, Dr. Richard Klausner, the former National Cancer Institute Director and his team have tried to cure mice of cancer for decades but it has had no effects on humans. Furthermore, compared to vivisection, adult stem cell research is more effective since there is a recent study which shows that it can be used successfully for treating cardiac infarction, Crohn’s disease and thalassemia. Moreover, animal experimentation is a waste of money. In 2009, for instance, the U.S National Institutes of Health (NIH) budgeted nearly $29 billion for research on animal experimentation.

In conclusion, it is acceptable that without vivisection we might not have medical progress but it has to be taken into account that experiments on animals are not economically effective and is unlikely to successful. Thus, due to its ineffectiveness, vivisection should be banned.

 

*NB : This is my short Two-sided Essay of 316 words (excluding title) that should be submitted in my EAP (English for Academic Purposes) class of Pre-Departure Training in Denpasar, Bali

Co-education is the Best Form of Education for Young People

Gambar

The issue whether a mixed-sex school is a good way of learning for young students has been debated for many years. This essay will argue that co-education is the best schooling system for young people due to several reasons.

It is believed that in co-educational schools, students have a good understanding about what they will face in real society. One reason is a mixed-sex school provides students with a mini version of life. There are various ideas from different gender-based perspectives as they might face in reality. Consequently, they might experience how to deal with these kinds of diversities so they will not be shocked when they get into real society in the future.

Additionally, co-education provides a good atmosphere, helping students as they grow up. It is because there are more opportunities for both boys and girls to know each other due to their involvement in discussion activities such as group discussions, science clubs and other extracurricular programs. As a result, they will familiar with some problems that might occur among them and know what best solutions can be implemented.

Furthermore, a co-ed school provides a reality check. It enables students to break down misunderstandings about images of the other sex. Spending years together will allow them to have a real image of the opposite sex. As a consequence, they are not getting older with the wrong images based on what they know from novels or comics. For example, boys’ misconception of girls as mysterious creatures will be dispelled.

In conclusion, a mixed-sex school is a prototype of real life. It also provides a conducive atmosphere for students to have better adjustment during their adolescence and helps them to understand well about the opposite sex. Thus, co-ed is the best education form for young students.

*NB : This is my first short One-sided Essay that should be submitted in my English for Academic Purposes (EAP) Training in IALF Denpasar, Bali

Orgasme dan Rebonding Pendidikan Era Milenium: Mau dibawa ke mana pendidikan kita?

Gambar

Sumber Gambar : Google

Ide original tulisan saya kali ini berasal dari hasil diskusi alot saya bersama Pak Yan Kun Manlea; salah seorang guru yang mengabdikan dirinya pada sebuah sekolah menangah atas negeri yang belum lama ini terbentuk di pinggiran Kota Atambua. SMA Negeri 3 Atambua, begitu sebutan orang-orang terhadap sekolah yang baru mempunyai 2 angkatan siswa ini. Awal pertemuan saya dengan guru inspiratif ini adalah dari ajakan salah satu sahabat saya; Erni Manlea (dosen muda Fisika di Universitas Timor –Unimor Kefamenanu dan juga salah satu awardee ADS 2013) yang tidak lain adalah keponakan dari Pak Yan, sewaktu mudik ke Atambua beberapa hari yang lalu. Erni yang berencana mengunjungi saya di Atambua sambil berbekal misi mengurus paspor di Atambua, menyempatkan diri bersama saya mengunjungi kediaman Pak Yan yang jaraknya lumayan dari rumah saya. Kalau saya tidak salah daerah tempat tinggal Pak Yan itu bernama Bautasi; dearah yang buat saya lumayan baru dan kunjungan ke daerah itu merupakan kunjungan pertama saya selama tinggal di Atambua. Namun, bukan topik soal baru tidaknya saya mengunjungi tempat itu yang akan saya bahas tetapi diskusi panjang kami sesaat setelah tiba di rumah Pak Yanlah yang akan saya explore di sini.

Sebagai seorang guru, Pak Yan tergolong pribadi yang ramah dan tak banyak bicara, begitu kata Erni kepada saya selama perjalanan menuju rumah Pak Yan. Oleh karena itu, saya sempat bingung dan sedikit canggung ketika pertama kali berbincang-bincang dengan beliau. Topik pembicaraan pertama kami sewaktu masih duduk di ruang tamu aadalah seputar pengalaman Pak Yan sewaktu mengenyam short course di Adelaide, Australia. Beliau pernah berkesempatan merasakan sistem pendidikan di salah satu Negara tujuan utama belajar di seluruh dunia saat ini. Mungkin alassan inilah yang membuat saya sangat antusias bertanya soal Adelaide yang juga akan menjadi tempat tujuan belajar saya nanti. Ia sempat berkali-kali mengucapkan selamat kepada kami (baca Erni dan saya) karena menurutnya berhasil menebus persaingan ADS memang bukan perkara yang mudah. “Butuh kerja keras dan fokus yang luar biasa”, begitu katanya. Apalagi setiap tahun pelamar yang melamar juga makin membludak. Automotis, persaingannya pun akan semakin  ketat. “Di jamannya saya saja sudah kompetitif apalagi sekarang”, tambah Pak Yan membuat kami berdua mengangguk kecil tanda setuju. Ia bercerita banyak soal tahap persiapan di Denpasar yang sedikit lagi akan kami berdua hadapi. Kebetulan saya dan Erni mendapat durasi PDT (Pre-Departure Training) yang sama yaitu 3 bulan. Saya sangat antusias atas topik yang menjadi bahan perbincangan siang itu. ‘’Tidak sia-sia saya menemani Erni jauh-jauh ke tempat ini’’, gumam saya dalam hati sambil senyum-senyum sendiri waktu itu. Ditambah lagi sesi menunggu kurang lebih satu jam lebih yang sempat kami lewati setiba di rumah Pak Yan. Ya, siang itu pak Yan tengah sibuk mempersiapkan segala sesuatu berkaitan dengan penerimaan murid baru di SMAN 3 Atambua. Selain guru mata pelajaran bahasa Inggris, beliau juga kepala Kurikulum di sekolah itu.

Rupa-rupanya perbincangan kami semakin asyik hingga tak terasa sudah mendekati jam makan siang. Jujur saja waktu itu perut saya memang sudah sangat keroncongan. Bagamainana tidak? Sejak keluar dari jam 8 pagi hingga jam 12 itu saya memang belum sempat makan apa-apa kecuali kripik pisang yang Erni kasih di sela-sela waktu menunggu pak Yan pulang dari sekolah. Kami pun beranjak dari ruang tamu menuju sebuah ruangan yang tepat berada di sebelahnya. Ruang makan yang ukurannya tidak terlalu besar ini berada persis di samping ruang tamu tempat hampir satu jam kami berbincang-bincang. Dengan menu tahu tempe balik tomat; begitu saya biasa menyebut masakan yang terdiri dari potongan tahu dan tempe menyerupai dadu yang dibumbui dengan tomat itu. Kami duduk bertiga duduk mengelilingi sebuah meja makan berbentuk elips. Saya disilahkan dahulu mengambil makanan menyusul pak Yan dan Erni. Dalam hati saya berpikir bahwa suasana meja makan akan lebih tenang dibanding dengan kondisi di ruang tamu tadi. Akan tetapi agaknya pikiran saya itu salah. Justru ide besar yang terpampang nyata sebagai judul tulisan ini berasal dari sesi makan siang di meja makan itu. Semua itu berawal dari pertanyaan yang saya ajukan kepada pak Yan seputar kesibukannya di sekolah yang nota bene sudah libur. Ia pun menanggapi dengan santai sambil terus menikmati makan siang. Sebagai kepala kurikulum Ia memengang kunci penting dalam pengambilan keputusan terutama yang menyangkut tata tertib dan sistematika penerimaan murid baru angkatan kedua di SMA tempatnya mengabdi sekarang. Sebagai sekolah yang masih tergolong baru, pedoman dalam penerimaan siswa baru memang butuh update dan peningkatan dari tahun pertama kemarin. Untuk itu walau guru yang lain libur, Ia masih harus tetap ke sekolah bersama beberapa rekan guru lainnya yang masuk dalam panitia penerimaan siswa baru. Saya menyimak penjelasan beliau sambil mengganguk kagum dengan dedikasi yang Ia berikan. Tak banyak guru yang mau bekerja ekstra di waktu liburan sekolah apalagi tanpa honor atau mungkin dengan honor yang tak seberapa dibanding dengan waktu yang harus Ia korbankan untuk liburan.

Rasa kagum atas sosok Pak Guru Yan ini pung mulai saya tunjukkan. Kekaguman saya semakin tinggi tak kala mendengar curhatan sekaligus rasa prihatin Pak Yan atas ketimpangan pendidikan yang Ia rasakan dan amati selama ini. Ia menilai pendidikan kita (yang beliau maksudkan di sini adalah pendidikan di Atambua) semakin terpuruk dengan praktek-praktek Rebonding yang dilakukan oleh sebagian besar kaum guru. ‘’Kita guru sering memanjakan anak didik dengan bertindak tidak adil dan jujur dalam memberi nilai’’, tandas Pak Yan memulai menjelas duduk persoalan mengapa Ia sebut masalah itu rebonding pendidikan. Menurutnya Guru haruslah bisa memberikan nilai yang objektif kepada anak didik mereka. Jika mereka tidak mencapai standar dan harus tinggal kelas, ya harus seperti itu adanya. “Jangan kita malah berupaya agar anak naik kelas dengan nilai hasil olahan guru, bukan hasil real anak di atas kertas”, lanjut beliau dengan nada sedikti tegas. “Kalau anak dapat 6 ya nilai itulah yang harus muncul di laopran hasil belajar siswa. Kalau dapat nilai 2 ya harus 2, bukannya disulap jadi 8 di raport”, tambahnya dengan nada sinis. Ayunan tangan saya untuk makan mulai saya perlambat. Semakin panas rupanya suasana makan siang kala itu. Sambil sesekali memperhatikan isi piring yang ada di depannya, Pak Yan kembali melanjutkan penjelasaannya. Kali ini Ia menyebutkan sebuah istilah yang cukup menyita perhatian saya. Ia menyebutkan bahwa selain praktek rebonding, ada pula praktek lain yang kini marak terjadi yaitu orgasme pendidikan. Banyak sekolah saat ini hanya mau dianggap berhasil jika anak didiknya lulus 100%. Kepala-kepala sekolah akan sangat bangga dengan prestasi yang dicapainya itu tanpa melihat apa yang sebenarnya terjadi. “Coba lihat nilai di ijasah siswa. Nilai ujian sekolah akan sangat tinggi, berbeda bagaikan langit dan bumi dengan nilai ujian nasional’’, ungkap Pak Yan mulai menggali pendapatnya mengenai isu lain seputar pendidikan dewasa ini. Ia menjelaskan bahwa terdapat keganjalan dalam nilai yang diperoleh siswa. Gap yang ada antara nilai ujian sekolah dan UN sangat jauh. Fakta ini rupanya yang menjadi dasar mengapa Ia sebut praktek ini sebagai orgasme pendidikan. Ia menambahkan bahwa fenomena ini hanya terjadi untuk kenikmatan sesaat yang justru akan berdampak buruk dalam jangka waktu yang lama. Guru mata pelajaran berlomba-lomba memberikan nilai tinggi kepada anak didiknya hanya untuk mengejar kenikmatan sesaat yang berupa pujian dari kepala sekolah bahwa mereka berhasil mengajar dengan baik. Kepala-kepala sekolah juga rupanya haus akan pujian dari atasannya. Semua mengejar prestise; penghargaan dari pihak lain tanpa memperhatinkan dampak ke depannya. ‘’Kalau sudah begini mau dibawa ke mana pendidikan kita?’’, tanya Pak Yan sempat membuat pikiran saya jauh menerawang ke depan sambil mencoba mereka-reka apakah ini juga salah satu faktor mengapa sebagian besar mahasiswa yang pernah saya temui mempunyai mental enak.

Diskusi meja makan ini rupanya semakin hot. Saya makin yakin akan dugaan saya sebelumnya mengenai Pak Yan. Tidak salah saya menyebut beliau sebagai seorang Guru inspiratif dan berani keluar jalur. Guru yang ‘nekat’. Ia tak segan-segan melakukan gebrakan demi menyokong pertumbuhan sekolah yang baru 2 tahun itu. Berbekal pengalaman mengenyam pendidikan Australia, Ia mencoba merubah cara berpikir money oriented dan mengejar sertifikasi tanpa ada rasa memiliki dan totalitas dalam bertugas sebagai guru. Ia menyakinkan semua guru yang bertugas di SMAN 3 Atambua; yang sebagian besar guru muda dan putra asli daerah Kabupaten Belu, untuk tidak berorientasi uang selama bertugas di SMAN 3 tetapi semangat untuk memberikan pengabdian yang tulus dan bertindak secara adil dalam pemberian nilai sehingga mental anak-anak yang masuk ke SMAN 3 bukan menjadi mental enak melainkan mental kerja keras. Ia mengajak semua guru untuk berani dalam bertindak. “Kita butuh pemberani dan guru nekat”, sambung beliau dengan nada sedkit tegas. Nekat yang Ia maksudkan di sini adalah berani keluar dari jalur konvensional yang salah selama ini. Ia mengibaratkan situasi ini dengan mengambil emas yang tertimbun bertahun-tahun oleh kotoran babi. Butuh keberanian ekstra untuk menggali timbunan kotoran-kotoran itu. Tentu resiko tangan dan sekujur tubuh terkena cipratan kotoran akan ada. “Hanya orang berani dan nekat sajalah yang bisa melakukan ini’’, kata Pak Yan mengakhiri ilustrasi yang membuat sesi makan siang agak sedikit terganggu.  Namun, herannya saya malah makin lahap mendayung suap demi suap.

Pendidikan karakter yang selama ini digembor-gembor di berbagai sekolah memang menjadi senjata utama yang digagas di sekolah yang baru berumur 2 tahun ini. Dengan manajemen seperti ini, niscaya anak didik akan mempunyai karakter yang luar biasa. Karakter yang mampu bersaingan dan siap merubah kehidupan masyarakatnya. Usaha yang dirintis Pak Yan sebagai kepala Kurikulum ini memang menggugah semangat saya sebagai orang muda yang berkesempatan mengenyam pendidikan di Australia nanti. Ide-idenya bahkan didukung kepala sekolah tempat Ia bertugas sekarang. Seluruh pihak sekolah seolah mendukung setiap gebrakan yang diusulkan oleh Pak Yan. Salah satu ide briliant beliau adalah membudayakan bahasa Inggris dalam lingkungan pergaulan siswa di lingkungan sekolah dengan mengaharuskan setiap siswa untuk menyapa setiap guru yang mereka temui dalam bahasa Inggris. Hal ini memang terdengar simple, tetapi apabila dikaji ternyata mempunyai efek yang luar biasa nantinya. Hal ini karena menurutnya, belajar bahasa itu adalah dengan jalan membiasakan diri dengan menggunakannya bukan selesai di dalam kelas saja waktu pelajaran usai.  Program yang baru akan diuji cobakan pada semester pertama tahun ajaran baru kali ini telah mendapat persetujuan dari seluruh guru, kepala sekolah dan komite sekolah serta seluruh orang tua murid. Untuk ukuran sekolah yang berada di pinggiran Atambua dan mayoritas murid adalah putra-putri daerah memang butuh usaha dan komitmen yang cukup kuat untuk membangkitkan minat dan kemauan anak-anak dalam belajar. Ia bahkan sering membuat tulisan berupa opini yang Ia sampaikan tiap kali rapat guru dan diteruskan hingga ke Bapa Uskup Atambua yang adalah teman sekolahnnya dulu. Ia juga tak segan-segan untuk memberikan tulisan setiap kawan guru yang Ia temui di mana saja. Setaip kali memberikan tulisannya kepada rekan-rekannya, Ia selalu berkomentar bahwa tulisannya itu bukan untuk didiskusikan melainkan hanya sebagai bahan permenungan bersama.

Berbagai metode kreatif pernah pak Yan terapkan dalam membangun semangat belajar anak didiknya. Itu terlihat dari tanggapan dan respon dari mantan murid-murid pak Yan yang juga adalah mahasiswa asuhan Erni di Unimor Kefa. Hampir semua dari mereka sangat berkesan dengan cara pak Yan menguklas materi yang selalu mendahulukan penguasaan konsep sebelum terjun ke soal ataupun masalah yang lebih komplkes. Saya pun setuju dengan ide ini. Ide untuk mendahulukan pengusaan  konsep dalam mempelajari setiap pelajaran. Bahkan beliau sempat mengangkat konsep perhitungan matematika seputar bilangan desimal yang menurut saya luar biasa untuk ukuran guru bahasa Inggris yang bertahun-tahun bergaul dengan bahasa Inggris bukannya Matematika. Hal itu terjadi karena konsep yang Ia pahami benar sehingga Ia tahu betul soal penjumlahan desimal. Ia mengungkapkan bahwa beberapa rekan guru ilmu social kewalahan menyelesaikan penjumlahan desimal: 8.5 – 6.25. Banyak di antara mereka bingung  dan angkat tangan untuk menyelesaikan soal sederhana ini. Bahkan beberapa di antaranya meminta kalkulator untuk menyelsaikan. ‘’Oh, tidak mungkin?’’, keluh saya dalam hati sambil tetap focus dengan apa yang dijelaskan Pak Yan. Ia kemudain melanjutkan penjelasannya. Konsep penjumlahan ataupun pengurangan bilangan desimal tidak terlepas dari pengetahuan dasar mengenai bilangan pecahan. Di sinilah letak penguasaan konsepnya.  Siswa harus punya konsep pecahan yang mantap. Mereka harus mengerti 0.25 itu sama nilanya dengan ¼. “Nah, ¼ itu artinya apa?’’, tanya beliau dengan mata makin bersemangat. Ia kemudian mengilustrasikan ¼ itu dengan lipatan kertas HVS yang Ia lipat simetris dua kali kemudian membuka kembali lipatannya. Setiap bagiannya itulah yang disebut dengan ¼. Sedangkan jika kertas tadi dilipat menjadi dua bagian yang simetris satu kali, maka akan diperolah dua bagian yang besarnya sama yaitu ½. Mendengar penjelasan Pak Yan itu saya tersenyum puas sambil mengangguk-anggukkan kepala saya perlahan-lahan. “ Jika anak-anak paham konsep ini makan soal  8.5 – 6.25 ini akan sangat dengan mudah diselesaikan.”, kata Pak Yan sambil mengayunkan suapan terakhir dari piringnya.

Sesi makan siang pung berakhir dengan deretan percakapan yang menurut saya sangat membangun. Secara pribadi saya merasa beruntung bertemu lagi sosok pribadi yang berpikir kritis, inovatif dan kreatif. Di tengah situasi yang genting seperti saat ini, banyak pihak yang berlomba-lomba untuk memperbaiki sistem pendidikan yang semakin carut-marut ini. Saya salut dengan semangat yang dimiliki oleh Pak Yan dalam membangun ssekolah tempatnya bertugas. Dalam perjalan pulang, saya tidak henti memuji Pak Yan. Tak pelak Erni pun merasa bangga mempunyai seorang paman yang luar biasa. Saya sendiri merasa sangat bangga sudah mendapat kesempatan berbagi pikiran dengan tokoh hebat lain sebelum memulai PDT yang tinggal menghitung hari ini.

Suntikan Semangat Baru

Setelah beberapa hari ini off dari rutinitas menulis, akhirnya malam ini saya kembali berkesempatan menoreh kata per kata. Ternyata seminggu bersama keluarga sedikit mengalihkan hobi yang mulai saya tekuni ini. Betapa tidak, hari-hari untuk memulai pertarungan di level berikutnya dari awal perjuangan di 3 bulan Pre-Departure Training yang semakin di ujung mata menguraskan waktu saya untuk bercengkrama dengan seisi keluarga di kampung halaman (baca Atambua) sembari memohon doa restu dan dukngan dari segenap handai taulan. Setidaknya semangat dan dukungan mereka inilah yang akhirnya membuat saya seperti seolah mendapat suntikan dopping baru sebebelum naik ke level baru. Waktu mudik kemarin memang menjadi momen berharga bagi saya untuk kembali membangun motivasi terutama setelah sempat galau dan ragu atas kesiapan saya untuk terjun kemedan tempur. Banyak masalah dan tantangan bertubi-tubi yang sempat saya hadapi sebelum sampai pada saaat ini.

Malam ini saya ingin berbagi sedikit pengalaman bergumul dalam badai masalah yang sempat dan bahkan membuat saya terseok-seok meniti langkah menuju saat ini, saat di mana tersisa 2 hari keberangkatan saya ke PDT. Goresan saya malam ini bukan untuk menyinggung pihak mana pun atau untuk menyudutkan pihak lain tetapi hanya bagian introspeksi diri atas beberapa masalah yang sempat melanda dan menerpa saya dalam perjalan hingga H-2 PDT hari ini. Saya belajar banyak hal dalam keterpurukan saya kemarin. Jatuh bangun sudah barang biasa. Mengeluh dan tetes air mata bahkan jadi pemanis yang justru makin memperparah keadaan. Bagaimana tidak? Di kala semangat saya sedang mencapai puncak-puncaknya saya dihantam badai yang sempat membawa saya hingga ke kolong-kolong yang kelam dan mencekam. Namun, tak banyak rekan, teman maupun shabat yang bisa tahu kalau saya sedang bergumul dengan kesulitan yang menurut hipotesa saya adalah buah dari kreasi orang-orang yang mengaku “kawan” tapi ternyata menusuk dari belakang. Mudah-mudahan hipotesa saya ini salah. Tetapi satu yang saya yakini adalah teori yang banyak orang bilang mengenai persaingan di tempat kerja, bukanlah isapan jempol belaka. Yaa.. berangkat dari pengalaman kemarin setidaknya kini saya yakin akan teori itu 100%. Ternyata!!!! Sempat membuat saya down dan merasa sangat terpuruk. Luntang-lantung, tidak jelas arah harus ke mana. Hanya diam dan renung yang bisa saya lakukan. Itulah sebabnya tidak banyak dari sahabat-sahabat saya yang tahu. Akan tetapi di lain pihak, saya sangat berterimakasih karena sudah ditempatkan pada posisi ini. Saya akhirnya bisa belajar untuk selalu waspada dan tidak gampang percaya. Saya juga belajar meredam emosi dan mengontrolnya agar jangan sampai meledak dan membawa saya bertindak secara emosional. Ternyata benar bahwa untuk bisa menguasai sesuatu kita harus terjun langsung ke persoalan real. Jika kita ingin tahu bagaimana rasanya lapar, maka kita tidak perlu membaca ribuan literatur mengenai topik kelaparan. Cukup dengan tidak makan beberapa hari saja, kita akan dapat dengan mudah mendeskripsikan dengan pasti seperti apa rasa lapar itu. Inilah analogi ang bisa saya berikan atas apa yang bisa saya petik dari masalah kemrin. Selama ini saya memang belum pernah merasakan menahan dan mengontrol emosi. Dengan mendapat masalah kemarin saya sekarang tahu persis bagaiaman mengontrol amarah yang sebenarnya sudah di ubun-ubun. Manajemen Masalah; begitu istilah keren untuk satu lagi pelajaran hidup yang baru saja saya lewati beberapa bulan lalu.

Di saat saya mulai kembali bangkit dan menata langkah hingga tiba di saat ini, saya mendapat suntikan semangat baru yang justru meng-katalis reaksi saya untuk cepat merespon awal pertempuran saya. Nasehat, wejangan dan petuah dari mama dan bapa memang paling mujarab buat membangkitkan semangat yang hampir kendor. Diskusi dan obrolan di meja makan itu pasti akan sangat saya rindukan. Di situ, bukan hanya kesibukan mengunyah yang terjadi tetapi canda tawa dan joke ringan menghiasi suasana. Kehangatan inilah yang saya duga kuat sebagai faktor pemicu utama meletusnya semangat saya menjelang PDT ini. Bayangkan, semenjak pagi tadi saya resmi brkeliaran tanpa ditemani sahabat setia saya; si Selo, motor CS-1 kesayangan saya. Semangat yang baru saja saya dapat 1 minggu kemarin membawa saya menikmati setiap detil proses mengurus SKCK pagi tadi, mulai dari mencetak foto hingga mengecek persayaratan yang harus dipenuhi untuk mengurus SKCK. Pagi hingga siang tadi memang sangat berkesan bagi saya. Setelah sekian lama tidak pernah numpang bemo, akhirnya hari ini saya kembali taputar dengan bemo. Beberapa kali over bemo karena salah numpang bemo tak membuat surut semangat saya. Dengan ditemani teriknya matahari Kupang, saya enjoy menikmati kesendirian saya tanpa Selo. Memang butuh kesabaran karena harus sedkit membuang-bunag waktu dengan berkeliling sesuai rute bemo. Jika dengan motor, saya sepertinya bisa mengambil short cut yang dapat membawa saya untuk cepat tiba di tujuan. Hhhhh.. ini semua berkat semangat tadi. Semangat baru dari sesi mudik kemarin.