Tudung Gelisah Part I : Malam Tak Berujung

Menyepi dalam kegelapan malam di sudut pondok tak beratap yang sudah mulai reot sambil berkawan pilu dan lembutnya belaian sang bayu, seorang anak manusia terpaku meratapi kesendiriannya. Lamunannya jauh melintasi setumpuk pasir berkerikil, menabrak gundukan sampah plastik dan menembus celah-celah dedaunan yang juga sedang asyik dalam rintihan pilu. Barisan daun itu tak mau kalah dengan nafas pemuda yang sedang saling memburu dengan lengkungan hembusan angin malam nan sejuk itu. Mereka makin tenggelam dalam ratapan-ratapan berirama selaras dengan sentakan kaki anjing-anjing yang sedang berlarian mengelilingi tumpukan kecil menyerupai bukit mungil di seberang jalan berbatu itu. Sesekali terdengar lengkingan maut rem mobil yang beradu kecepatan menjeput ajal di ujung jalan beraspal yang persis berlawanan arah dengan jalan berbatu tadi. Lolongan anjing-anjing di pelataran semak belukar setinggi paha orang dewasa kian menambah maraknya porak poranda malam, saat tak satupun insan memendarkan kedua bola mata mereka lagi. Saat mereka berlomba mendekor bunga-bunga tidur. Memang musim semi akan segera menjemput bentangan kering sebelah utara dusun kecil Sukabilulik. Dusun kecil di sebelah selatan Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, tempat lahir besar bahkan matinya pemuda separuh baya yang kini larut dalam prolog lamunan yang tiada berujung.

Napasnya menderu – deru kian tak menentu meramaikan gundah gulananya hari Minggu, 29 Desember 2013. Ia lemas tak berdaya terpojok dalam kesendiriannya di sebuah pondok jerami di pinggiran sungai Benanain. Pondok kecil tempatnya bertengger setelah seharian mengasah asa menyiangi rerumputan di padang jagungnya itu berukuran tak seberapa. Ia duduk bersila sembari menatap dengan tatapan kosong aliran air sungai yang silau dihujam sinar rembulan malam. Tubuhnya tak berpakaian dengan peluh yang masih satu per satu menetes membahasi tanah tempat bepijaknya pondok tua reot itu. Di ujung hulu sungai itu masih terlihat satu dua orang mengais sampah. Pemuda setengah baya itu makin larut dalam diamnya tanpa sedikitpun peduli atas apa yang terjadi disekelilingannya. Hanya napas yang terus bertambah kecepatannya ditemani roman muka yang datar tanpa ekspresi. Bulan makin garang memuntahkan sinaran terbaiknya seolah memberikan isyarat kepadanya untuk hanyut terus terbawa arus lamunanya. Kegelapan sekelilingannya pun diam seribu bahasa tak berdaya menerima kekalahan atas sang dewi yang kian bersinar di atas sana. Pemuda yang biasa menebar senyum lebar dan tawa khas itu kini bisu tanpa nyawa. Ia terpaku dengan raga yang sebenarnya sudah dari sore tadi melambaikan bendera putih memohon untuk segera diistirahatkan. Musik keroncong yang semakin jelas terdengar dari kampung tengahnya sama sekali tak membuatnya untuk sekedar bangun mengisi amunisi yang sudah sejam lalu terbaring kaku di sampingnya. Sepotong ubi bakar dengan segelas air kelapa sudah menanti dengan manisnya jauh sebelum mentari kembali ke peraduannya. Mereka tak sama sekali berhasil menggoda Ia yang semakin asyik sendiri menikmati keheningan ciptaannya itu. Bahkan, musik keroncong yang kini telah berganti genre menjadi musik metal rock itupun gagal menyadarkan Ia dari kekakuannya.  Sudah lebih dari 2 jam Ia tampak nyaman dengan pose duduk seperti itu.

Rupanya ratusan pertanyaan kini berotasi di pangkal otaknya hingga berbenturan satu sama lain memaksa pemuda berbadan tegap itu untuk tetap dalam posisi duduk yang kelihatan sedikit menyiksa itu. Ia kadang mengusap keringat yang terus mengucur membasahi dadanya. Tampaknya beratus-ratus pertanyaan yang hilir mudik dalam lalu lintas pikirannya betul-betul merajai seantero tubuhnya, menghipnotis raga bahkan mengusir jiwanya berkelana menyusuri pekatnya malam di bawah pancaran dewi malam. Ingin Ia luapkan kepada pilu yang menemaninya sejak senja hari itu, namun pilu itu makin ganas bersarang dalam kalbunya. Sesak kadang Ia rasakan dalam dadanya. Pembuluh darahnya seakan membesar selaras dengan deras aliran darah yang dipompa dari dan menuju ke jantung.  Mukanya mulai pucat dan tenaganya perlahan habis. Kondisinya mulai memburuk senada dengan malam yang makin larut itu. Pandangannya menjadi kabur dan samar-samar dari kejauhan muncul cahaya yang sangat terang, cukup menyilaukan mata telanjang. Mencoba tetap tegap dengan posisi duduknya, Ia justru kehabisan tenaga dan akhirnya jatuh melintang ke arah tumpukan pasir kali di depan tempatnya duduk tadi. Kini Ia terbaring diselimuti cahaya terang itu.

Cahaya itu berhasil memandu jiwa yang tadinya tersesat berkelana tak tahu ujung pohon arahnya berpetualang. Ia dibimbing ke memori sebelas tahun silam saat tawa dan canda masih menjadi menu utama kesehariannya. Saat duka lara masih duduk manis di posisi terbawah daftar pilihan hidupnya dan saat semua masih perkara hidup masih dapat dengan mudahnya dikendalikan. Masa-masa kejayaan yang membawanya ke puncak pencapaian tertinggi dalam goresan sejarah hidupnya di planet bumi ini

Aku dan 2013

Angka 13 buat kebanyakan orang sering dipandang sebagai angka sial, angka maksiat yang sering diidentikan dengan ketidakberuntungan. Sebagian besar orang bahkan telah menjatuhkan vonis lebih kejam terhadap angka prima ini. Tak sedikit di antara kita yang mengecap angka yang satu ini sebagai angka momok yang selalu mereka hindari dan berusaha sedapat mungkin untuk tidak berurusan dengannya. Banyak film horor Indonesia maupun luar negeri yang mengangkat superstisi ini sebagai tema utama dalam cerita mereka. Akibatnya, semakin banyak orang yang kini punya kepercayaan bahwa angka 13 memang angka yang membawa ketidakberuntungan. Namu, bagi saya tampaknya semua cerita horror seputar angka 13 itu tidak sama sekali berlaku bagi saya. Hal itu sebab tahun angka yang melekat pada tahun yang akan segera berakhir beberapa hari lagi ini memberikan saya berkat dan keberuntungan yang luar biasa. Tahun 2013 ini memang akan menjadi tahun yang akan saya kenang sepanjang hidup saya. Banyak cerita yang sudah saya lalui bersamanya. Mulai dari pengalaman suka hingga duka, baik dalam hal karier dan pekerjaan, cita-cita, asmara. Tak pelak banyak sekali tantangan, konflik dan problematika yang menghadang dan kadang membawa saya melorot hingga ke kolong-kolne gelap yang mencekam. Tak  tahu berapa liter peluh dan air mata yang sudah saya curahkan mengisi sepak terjang saya di tahun ular ini. Namun, di atas semua cerita pilu itu, saya pun mengalami banyak cerita bahagia dan membanggakan yang membayar lunas semua goresan kasar yang terjadi akibat pengalaman pedih tahun ini. Serasa diberkahi dengan berkat yang melimpah, saya merasakan kesempatan yang luar biasa tahun ini. Proyek terbesar dalam hidup saya bisa saya raih di tahun ini. Mimpi yang sudah saya kemumandangkan sejak dulu akhirnya jadi kenyataan di penghujung akhir tahun ini.  Semua cerita dan memori ini akan saya rangkum dalam sebuah kaleidoskop singkat berikut ini. Januari dan Februari 2013 Januari 2013 adalah pembuka tahun yang luar biasa. Bulan ini saya diberkahi dengan berita gembira diterimanya saya dalam seleksi beasiswa Australia Development Scholarship (ADS, yang kini berganti nama menjadi Australia Awards Scholarship – AAS) 2012. Masih lekat dalam ingatan saya kala saya melompat kegirangan di ruang dosen saat email notifikasi email pemberitahuan dari kantor AAS di Jakarta yang menyatakan keberhasilan saya lulus tahap 1 seleksi beasiswa AAS dan berhak melaju ke tahap seleksi berikutnya yaitu JST – Joint Selection Team – Interview. Januari tanggal 4 saya mengikuti tahap wawancara JST di Pusat Bahasa (Language Center) Universitas Nusa Cendana – Undana – Kupang. Saya tampil prima dengan setelah semi formal ala news anchor (begitulah kata k Nini Kiak; salah satu sahabat saya yang juga AAS 2012 recipient mengomentari tampilan saya waktu itu).

Gambar

Beginilah tampilan saya saat mengikuti Seleksi Tahap kedua AAS 2012; JST Interview. Momen ini saya abadikan sesaat menyelesaikan sesi menegangkan dalam ruang wawancara Pusat Bahasa Undana Kupang

Gambar

Senyum semwringah terpancar dari Eva Daniel; AAS Awardee asal Maumere, yang berdiri tepat di samping kanan saya berpakaian kostum ELTA 2 NTT, menyusul saya dan Erny Manlea serta Yanto.

Gambar

Bersama sodari seperjuangan dari TTU (Timor Tengah Utara) – Kefamenanu yang sama-sama berjuang dari awal melamar hingga dapat berpose bersama pada kesempatan briefing yang dilakukan tim JST sehari sebelum dihelatnya seleksi wawancara AAS 2012.

Sepanjang bulan ini saya menanti dengan penuh harapan akan hasil terbaik yang akan menjemput saya di bulan Februari nanti. Hingga akhirnya berita super gembira dan cukup mengguncang jiwa dan raga kala itu pun tiba. Melalui email saya peroleh pemberitahuan akan diterimanya saya dalam seluruh rangkaian seleksi AAS 2012 dan akan menjalani 3 bulan persiapan (Pre-departure Training) di IALF, Bali sebelum melanjutkan studi saya ke universitas pilihan di Australia tahun 2014 nanti. Berikut kutipan email yang saya maksudkan di atas.

Dear Australian Development Scholarship (ADS) applicant

Congratulations, the Australian Agency for International Development (AusAID) has recently approved your ADS application. The location of PDT is provided on the Australia Awards website  www.australiaawardsindo.or.id

An official letter will be sent by courier to your home address, over the next week.

Once again congratulations – I look forward to meeting you during Pre-Departure Training.

Best wishes

MICHAEL BRACHER Program Manager

Australia Awards Scholarships – Indonesia

Wirausaha Building 7th Floor, JL H.R. Rasuna Said Kav.C-5 Kuningan, Jakarta 12940 Indonesia T (+62) 21 527 7648   F (+62) 21 527 7649 australiaawardsindo.or.id

 

Coffey International Development

Manages the Australia Awards Scholarships in Indonesia on

behalf of the Australian Agency for International Development (AusAID)

Sejak resmi menyandang gelar AAS Awardee,  sisa-sisa hari dalam bulan Februari saya lalui bukan hanya dengan banyak cerita gembira tetapi sebagian besar pergumulan yang cukup berat. Pasalnya, sejak lulus ELTA (English Language Training Assistance) II untuk wilayah NTT tahun 2011 lalu status dosen tetap saya di salah satu perguruan swasta di Kupang, tempat saya mengajar full time telah dicabut dan berganti sebagai dosen luar biasa. Perubahan status yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan finansial saya. Dengan berubahnya status ini itu berarti saya tidak berhak atas gaji tetap dan  tunjangan lainnya seperti di bulan-bulan sebelum resmi mengikuti ELTA; sebuah kursus yang diselenggarakan oleh AusAid dengan bekerja sama dengan IALF Bali untuk membantu pelamar AAS asal NTT yang TOEFLnya belum dapat mencapai  standar yang ditetapkan oleh AAS.

Maret 2013

Bulan maret 2013 menjadi titik awal kritis kondisi keuangan saya. Sudah tidak memperoleh penghasilan dan hanya mengandalkan sisa saldo tabungan yang jumlahnya tak seberapa, mulai membuat saya depresi dan kebingungan. Sebenarnya kondisi ini sudah bermula sejak selesai program ELTA kemarin, yaitu Juli 2012. Saya sudah tidak berpenghasilan lagi sehingga semua ongkos untuk kos, transportasi dann pos-pos kebutuhan lainnya saya gantungan hanya pada simpanan dalam tabungan saya. Alhasil, hingga bulan Maret ini saldo rekening saya mulai menipis dan sedikit demi sedikit saya mulai dihantui oleh sebuah ketakutan menghadapi bulan-bulan berikutnya sebelum berangkat ke Bali guna memulai PDT saya yang dijadwalkan mulai bulan Juli 2013.  Namun, berkat dukungan seorang sahabat (dan bagi saya Ia adalah malaikat penolong saya dan sudah saya anggap dia sebagai seorang saudari) saya tetap tegar melalui rintangan dalam hal keuangan ini. Ia membantu saya di kala saya kesulitan membeli makan malam atau makan siang. Ia selalu ada untuk menopang saya saat saya tak sanggup lagi memikul beban berat yang sedang saya pikul waktu itu. Sebelum meminta bantuan kepadanya, saya sempat berhutang kepada beberapa kawan dekat saya sewaktu SMA dulu. Beruntung, mereka masih bisa membantu saya untuk mengatasi kesulitan ekonomi yang sedang mendera itu. Namun, saat sedang dilanda badai yang baru saja menunjukka cakarnya ini, saya bertemu seorang sosok wanita, rekan dosen kontrak di sebuah universitas negeri di Kupang, yang berhasil mencuri hati saya. Kami berkenalan sejak bulan Januari saat sedang mengajar di jurusan Matematik kampus itu. Ia sempat mewarnai hidup saya dengan motivasinya yang tinggi untuk melamar beasiswa. Dalam beberapa kesempatan, kami sempat bertukar pikiran soal beasiswa dan sharing pengalaman seputar melamar beasiswa AAS. Mungkin karena sering menghabiskan waktu bersamanya, rasa itu semakin kuat hingga tumbuhlah benih-benih cinta di antara kami. Satu moment spesial yang tak akan saya lupa di bulan Maret 2013 adalah saat Ia memberikan sebuah surprise ulang tahun saat berkaroke bersama di sebuah tempat karaoke di bilangan Kuanino, Kupang. Sebuah kue ulaang tahun yang lezat dengan nyanyian lagu selamat ulang tahun Ia dendangkan buat saya waktu itu. Jujur waktu itu dibuatnya melayang. Kejutan tidak berhenti sampai di situ, sebuah arloji keren, Ia hadiakan kepada saya, membuat saya semakin merasa istimewa. Ia berhasil membuat ulang tahun saya itu menjadi ulang tahun yang paling spesial dibanding ulang tahun di tahun-tahun sebelumnya. Keistimewaan ulang tahun saya itu dilengkapi juga dengan surprise cake yang dibawakan dua orang sahabat dekat saya di program ELTA II NTT saat tiba di kos setelah menghabiskan waktu bersama Ia yang baru saja menggoreskan momen lang tahun terindah itu. Ucapan ulang tahun dari mama, bapa dan saudara-saudari saya menjadi pelengkap sempurnya moment hari lahir saat itu. April, Mei dan Juni 2013 Walaupun saya dihadiahkan dengan kejutan ulang tahun yang luar biasa dari orang-orang terdekat saya, pergumuan saya masih berlanjut hingga awal bulan April 2013 lalu. Saya semakin terpuruk dalam diam dan tenang saya, seolah saya sedang baik-bai saja, padahal saya sedang depresi memikirkan bagaimana bisa bertahan 3 bulan ini sebelum eberangkat ke Bali nanti. Saya mencoba pinjaman ke sana ke mari untuk sekedar bertahan melewati hari-hari penantian itu. Gali lubang tutup lubang, mungkin ungkapan yang tepat mnggambarkan keadaan saya menginjakkan kaki di bulan Mei dan Juni 2013. Saya malah pernah tidak makan 5 hari berturur-turut dan hanya mengandalkan kekuatan dari sebuah gallon Aqua besar yang bertengger di kosan saya. Mungkin sebagian besar kalian bertanya-tanya, mengapa tidak meminta bantua ke orang tua saja? Hmmmmm…. Saya memang sengaja tidak mau memberitahukan perihal kesusahan saya ini ke mereka. Setiap kali ditelpon dan ditanyai keadaan saya berpura-pura dan mengatakan bahwa saya baik-baik saja. Bahkan, mereka juga tidak tahu menau perihal pekerjaan saya. Sengaja saya kabarkan jika sayabaik-bak saja dengan pekerjaan saya. Semuanya lancar-lancar saja. Saya memang menipu mereka berdua dengan mgarang cerita indah itu, Satu yang ada di benak saya waktu itu, saya tak mau membebankan pikiran mereka dengan masalah-masalah saya. Mereka sudah cukup dipusingkan dengan beban kuliah kedua adik saya yang saat itu juga tengah kuliah di Kupang. Untuk alasan itulah, saya berkeputusan untuk tidak memberitahukan duduk permasalahan kepada meraka berdua. Keadaan semakin buruk menjelang pertengahan bulan Juni. Kendati saya aktif mengikut kegiatan sana sini, saya sebenarnya sedang mengalami pergumulan berat dalam pikiran dan hati saya. Mau makan apa sehabis ini. Mau makan apa malam nanti. Saya pun terpaksa lagi melakukan pinjaman ke beberapa teman dekat untuk mengatasi masalah saya. Bahkan, ada beberapa pinjaman yang belum sempat saya kembalikan ke beberapa sahabat saya. Mereka sangat pengertian dengan posisi saya saat itu. Satu per satu saya cicil sebelum keberangkatan saya, dengan bermodalkan honor mengajar yang saya terima tiap 3 bulan sekali dari sebuah kampus negeri di Kupang dan honor news anchor dari sebuah stasiun TV lokal di Kupang. Walaupun sempat timbul salah paham di antara saya dan seorang yang cukup dekat dengan saya waktu itu karena belum dapat mengembalikan pinjaman, saya pun dapat mengembalikan pinjaman darinya itu. Akhir bulan Juni kondisi saya mulai berangsur-angsur pulih. Kondisi keungan saya sudah perlahan pulih berkat honor dari kampus negeri tempat saya mengajar sebelum akhirnya berangkat ke Bali. Persiapan keberangkatan pun saya penuhi dengan baik dan atas dukungan dari seorang saaudari yang kini tengah mengikuti program 9 bulan PDT di IALF, Bali. Juli, Agustus, September, dan Oktober 2013 Menginjakan kaki di bulan Juli, serasa membawa angin segar bagi saya. Tepat tanggal 19 Juli saya memasuki masa-masa persiapan sebelum keberangkatan ke Australia (yang sisa hitungan hari ini). Pengalaman baru menanti saya untuk saya lalui dan tantangan pun sudah siap menghalau saya di depan sana. Awalnya saya merasa grogi dan pesimistis apakah saya bisa melalui masa-masa PDT ini dengan baik hingga tanggal 19 Oktober 2013 lalu, namun saya pun berhasil melalui semua tantangan EAP (English for Academic Purposes) dan IELTS dengan baik. Banyak memori yang sudah berhasil saya torehkan di dalam hati dan pikrian ini, di antaranya:

  1. Bertemu dengan rekan-rekan seperjuangan dari seluruh Indonesia, yang juga pasti punya cerita masing-masing hingga berhasil lolos beasiswa AAS ini.
  2. Bergabung dengan teman-teman super gokil dalam grup 3mB (yang profilnya sudah saya coba rangkai dalam artikel berjudul (90 Hari Bersama Mereka) dan bertemu seorang instruktur yang super disiplin, jenius dan koordinatif; Jeremy Cross.
  3. Berhasil dipercayai sebagai MC (Master of Ceremony) dalam acara Barbeque Party yng digelar tanggal 11 Oktober 2013, seminggu sebelum berakhirnya program PDT saya di Bali. Sempat grogi saat ditunjuk langsung oleh Jerry dalam kelas seusai sebuah sesi pelajaran EAP dan IELTS, akhirnya saya pun dapat membawa acara itu dengan baik. Mungki hal itu juga berkat sedikit pengalaman news anchor di salah satu TV local di Kupang kurang lebih 3 tahun itu.
  4. Menyelesaikan discussion paper – sebuah essay dengan panjang 2000 kata mengenai bidang yang akan kita tekuni di Aussie nanti, yang harus diselesaikan oleh setiap peserta PDT dalam sesi EAP – dengan sangat baik. Satu memori yang membuat saya sangat bangga adalah pencapaian saya dalam urusan referencing, di mana dengan grade meticoluos. Usaha dan kerja keras yang luar biasa.
  5. Walaupun tidak keluar sebagai peseta terbaik PDT waktu itu, setidaknya hati saya sedikit berbangga dengan informasi yang disampaikan oleh intstruktur saya, Jerry Cross, saat coffee break di acara penutupan. Informasi yang mengatakan bahwa terdapat dua nama yang berhasil sampai ke meja Vlad Vladimir, Project Manager IALF Bali, untuk selanjutnya diputuskan sebagai peserta terbaik untuk peserta PDT 3 bulan dan salah satu nama itu adalah nama saya. Setidaknya ada di second place peserta terbaik untuk peserta PDT 3 bulan.
  6. Pengalaman menjelajahi berbagai tempat destinasi wisata terkenal di Bali
  7. Kesempatan berbunga-bunga dengan perasaan spesial terhadap seorang gadis yang juga AAS awardee asal NTT
  8. Berhasil diterima di salah satu kampus bergengsi di Aussie yaitu The University of Melbourne sebagai international student yang akan mengambil studi Master of Science (Mathematics and Statistics) di bidang Applied Mathematics.
  9. Sukses memperoleh skor IELTS yang tak disangka-sangka dengan loncatan yang luar biasa di skill writing apabila dibandingkan skor overall saya saat JST interview di awal tahun 2013 kemarin.
  10. Sempat merasakan cerita asmara yang luar biasa dengan seorang malaikat kecil manis yang saya sering panggil my dear angel.

November dan Desember 2013 Memasuki bulan November 2013, saya sudah kembali ke kampung halaman tercinta, Atambua, sebuah kota kecil di NTT yang berlokasi di perbatasan RI dan RDTL. Di kota kecil ini, saya menghabiskan waktu mempersiapkan segalan dokumen dan persiapan lain yang berkaitan dengan urusan keberangkatan saya yang tinggal menghitung hari ini seperti passport, visa, legalisir ijasah dan dokumen penting lainnya. Beberapa kali melakukan perjalanan darat pulang – pergi Atambua Kupang untuk mengurus dokumen yang harus dibawa serta ke Aussie, saya makin tak sabar lagi untuk segera berangkat. Banyak rintangan yang telah saya hadapi dan telah berhasil saya taklukan pula. Mimpi besar itu kini menjadi kenyataan. Terima kasih untuk semua pihak yang sudah mendukung perjalanan saya menggapai mimpi ini dan syukur tak terhingga selalu dan selalu saya lantunkan ke hadapan DIA yang empunya kehidupan. DIA yang senantiasa membimbing setiap derap langkah ini hingga membawa saya di mata air kehidupan. Natal baru saja berlalu dan sebentar lagi tahun baru menyonsong. Sebentar lagi pula saya akan segera tiba di daerah baru dengan tentunya cerita baru, orang baru dan suasana baru. Pengalaman bersama seisi keluarga di Atambua ini menjadi suntikan semangat bagi saya untuk tetap kokoh melaju, meniti langkah menuju babak baru dalam kehidupan saya.

———-K A L E I D O S K O P     2 0 1 3———–

Atambua, 29 Desember 2013

Berbagi cerita tentang wawancara dan test IELTS (Pengalaman Olyvianus Dadi Lado Saat Wawancara dan Test IELTS : Australia Development Scholarship 2011)

Salam hangat buat semua basudara yang sudah lolos seleksi administrasi beasiswa AAS. Perjuangan masih berlanjut, masih ada tahapan-tahapan selanjutnya yang harus teman-teman tempuh dan yang paling terdekat adalah wawancara dan test IELTS. Karena itulah saya sebagai seorang yang pernah melewati tahapan itu ingin membagikan pengalaman saya kepada teman-teman. Perlu diingat, setiap orang yang pernah mendapatkan beasiswa ADS atau sekarang bernama AAS pasti memiliki pengalaman yang berbeda-beda, karena itu pengalaman yang saya bagikan ini bukanlah sebuah pedoman baku dalam menghadapi sebuah wawancara dan test IELTS.

Ketika mendapatkan kabar bahwa saya masuk shortlist penerima beasiswa ADS pada Desember 2011, mungkin sama seperti teman-teman saat ini, saya juga sangat gembira dan bahagia. Tapi, saya lalu sadar bahwa satu tahapan penting lainnya masih menghadang di depan, yaitu wawancara dan test IELTS. Ada beberapa hal yang hendak saya kemukakan di sini antara lain tentang wawancara dan tim pewawancaranya, juga tentang beberapa kemungkinan pertanyaan yang akan muncul saat wawancara, persiapan kandidat, dll.

Untuk wawancara seleksi penerima beasiswa ADS, biasa dilakukan oleh tim gabungan dari Australia dan Indonesia. Satu tim wawancara terdiri dari dua orang. Rata-rata pewawancara ini adalah yang sudah profesor dibidangnya masing-masing, dan mereka beragam latar belakang ilmunya. Lagipula, mereka juga sudah memiliki pengalaman mewawancarai ribuan bahkan mungkin puluhan ribu kandidat karena itu mereka bisa dikatakan sudah memahami betul bagaimana menanyai dan menyelidik setiap kandidat. Lebih dahulu mengenal tentang tim yang akan mewawancarai kita mungkin akan sangat membantu kita dalam persiapan. Contohnya, pengalaman saya ketika itu, saya mendengar bahwa salah satu pewawancara yang akan ke Kupang adalah ibu Rosmalawaty. Menurut kabar yang saya dengar ia sudah sangat lama terlibat dalam urusan ini. Saya juga dengar bahwa ia adalah seorang peneliti yang sudah sering melakukan penelitian di banyak daerah, karena itu saya duga ia juga sedikit atau banyak pasti cukup paham terhadap persoalan yang ada di daerah seperti NTT. Nah benang merahnya adalah, jika ia paham atau tahu tentang persoalan di daerah saya di NTT, maka saya harus lebih tahu dari dia, terutama yang berhubungan dengan apa yang sudah saya tulis dalam aplikasi saya ketika melamar ADS. Ini menunjukan bahwa sebagai kandidat, kita benar-benar siap dan tidak hanya sekedar mengisi aplikasi tapi juga memiliki hasrat dan niat untuk mengubah tantangan dan persoalan di daerah itu menjadi peluang. Ingat, jangan sampe panelis justeru lebih tahu informasi terkini terkait persoalan dan tantangan di daerah kita terutama yang berkaitan langsung dengan isian aplikasi kita.

Mungkin banyak orang sebelum memasuki tahapan wawancara akan bertanya-tanya dan menduga-duga apa saja pertanyaan yang akan diajukan panelis nanti dan ketika itu sayapun demikian. Menurut pengalaman saya dan beberapa cerita teman-teman sesama penerima ADS, umumnya pertanyaan inti dalam awawancara tak akan jauh dari apa yang sudah kita tulis dalam aplikasi kita. Sebagai contoh, pertanyaan yang saya dapatkan pada waktu wawancara kala itu antara lain: 1. Ceritakan tentang diri anda. 2. Mengapa anda memilih untuk belajar ke Australia? 3. Apa yang akan anda lakukan setelah selesai pendidikan nanti? 4. Apa manfaat beasiswa ini bagi anda, daerah anda dan negara anda? Dan masih banyak lagi pertanyaan susulan dari panelis tergantung jawaban yang akan kita berikan. Ingatlah, wawancara seleksi beasiswa ini tak jauh bedanya dengan wawancara ketika kita melamar sebuah pekerjaan. Tahapan wawancara menurut saya adalah sebuah tahapan dimana panelis ingin menggali lebih jauh dan dalam tentang apa yang sudah kita tulis dalam aplikasi lamaran kita. Dengan kata lain ia bisa dikatakan semacam verifikasi atas lamaran yang sudah kita ajukan. Karena itu, penting bagi kandidat untuk benar-benar menguasai isian aplikasinya.

Untuk bisa menguasai betul aplikasi kita, tak ada cara lain selain mempelajari ulang aplikasi kita dan berlatih. Mempelajari ulang aplikasi kita bisa dilakukan dengan banyak cara, seperti menghafalnya. Ada kandidat yang betul-betul menghafal isian aplikasinya dan berhasil. Namun tak semua bisa seperti itu. Menguasai aplikasi juga berarti tak sekedar menghafalkannya tapi juga memahaminya. Mungkin akan lebih baik jika saat menjawab pertanyaan panelis kita bisa mengambangkannya sehingga tak persis sama titik, koma, kata dan sebagainya tapi sama dalam substansinya atau dengan kata lain kita paraphrase jawaban dalam aplikasi itu sehingga tak terkesan menghafal dan lebih terkesan natural. Bagi saya sebuah wawancara akan sangat natural ketika wawancara itu kemudian bukan lagi tanya jawab tapi sebuah diskusi atau dialog atau obrolan. Untuk bisa mencapai kondisi yang “natural” itu hanya ada satu cara yakni berlatih wawancara.

Berlatih wawancara, berdasarkan pengalaman saya, ada dua cara. Pertama, berlatih dengan teman. Siapapun bisa menjadi teman latihan kita. Bisa teman sesama kandidat, para alumni ADS, saudara, pacar, isteri, suami, dll. Semakin sering kita berlatih, semakin kita menguasai aplikasi. Semakin beragam teman latihan, semakin luas dan kaya pemahaman kita akan aplikasi kita karena pertanyaan dan cara bertanya merekapun pasti beragam. Kedua, berlatih sendiri. Caranya sederhana, setiap hari berdiri atau duduk didepan cermin dan mulai kita mewawancarai diri kita sendiri. Cara kedua ini selain melatih kita menguasai aplikasi juga membantu kita untuk berlatih ekspresi tubuh, mimik wajah dan intonasi nada (untuk latihan intonasi nada akan baik jika kita merekamnya).

Mengapa eksresi tubuh, mimik wajah dan intonasi nada penting? Ada beberapa alasan mengapa saya anggap beberapa hal ini penting. Pertama, harus diingat bahwa panelis adalah repsentasi pemberi beasiswa dan kita sebagai pelamar beasiswa karena itu penting bagi kita untuk bisa memberikan impresi bagi mereka. Saya bukan mengajak untuk kita menjadi sosok yang munafik tapi ekspresi kita saat wawancara itu sedikit banyak ikut menunjukan seberapa passion atau hasrat kita untuk mendapatkan beasiswa itu. Contohnya, coba teman-teman perhatikan bagaimana ekspresi wajah, tubuh dan intonasi nada seseorang (dewasa dan anak kecil) saat mereka menginginkan sesuatu yang mereka idamkan atau taruhlah ekspresi orang saat bicara tentang hobby mereka. Apakah ada yang wajahnya tak berseri-seri? Apakah ada yang tubuhnya diam dan kaku? Apakah ada yang nada suaranya datar-datar saja? Jika teman-teman mendapatkan lawan bicara seperti itu apa kesan kalian? Bandingkan dengan lawan bicara yang ekspresi wajahnya berseri-seri dan penuh semangat, yang tubuhnya tak kaku dan diam sepanjang pembicaraan atau yang nada suaranya dinamis. Kedua, panelis tak hanya mewawancarai satu atau dua orang saja, tapi banyak orang. Apakah yang menjamin mereka mengingat kita jika tak ada sesuatu yang berkesan dalam benak mereka tentang kita? Mereka juga manusia yang bisa merasa lelah, dan jika lelah tentu akan berpengaruh pada mood adan daya ingat mereka. Karena itu bagi kandidat seberapa dalam anda memberi kesan bagi panelis akan ikut menyumbang terhadap penilaian kelayakan anda untuk lolos dan tidaknya, terutama bagi kandidat yang mendapat giliran wawancara pada jam-jam terakhir dan hari terakhir wawancara. Pada saat itu panelis sedang dalam puncak kelelahan sehingga kemungkinan besar mereka sedang dalam bad mood, nah pada suasana seperti ini, tampillah sebagai lawan bicara yang bisamembangkitkan semangat mereka.

Salah satu pertanyaan yang cukup sulit saya jawab pada waktu saya diwawancarai adalah pertanyaan “Apa yang membuat anda yakin bahwa anda layak untuk mendapat beasiswa ini? Bagi saya ini pertnyaan sulit karena, saya tak biasa menonjolkan diri atau tidak dibiasakan oleh lingkungan dan keluarga untuk menonjolkan diri, sekalipun saya tentunya pada satu sisi suka sekali pujian. Tapi entah mengapa, ketika ingin mengatakan bahwa saya bisa A, bisa B dst, saya seolah merasa bersalah dan kuatir dikatakan sombong dan mengagulkan diri sendiri. Sebenarnya, pertanyaan ini adalah ujian untuk mengetahui seberapa besar kepercayaan diri kita dan seberapa besar kita menghargai diri sendiri. Maka itu, jika teman-teman mendapatkan pertanyaan semacam ini, janganlah sungkan dan malu untuk menjawabnya, teman-teman harus menjawab dengan penuh percaya diri.

Aspek lain yang perlu dipersiapkan sebelum memasuki tahapan wawancara adalah pengetahuan akan isu-isu dunia terkini. Contohnya, hubungan Indonesia dan Australia, isu asylum seeker, isu perang di Syria, bahkan kematian Nelson Mandela. Ada beberapa teman saya pada waktu lalu bahkan sampai mengetahui jarak antara kota tujuannya dia dengan ibu kota, nama-nama menteri di Australia, dsb. Memang tak semua informasi tersebut akan ditanyakan, tetapi tidak ada salahnya juga jika kita ‘menyiapkan payung sebelum hujan’ kan?

Hal terakhir yang ingin saya bagikan di sini terkait wawancara adalah soal penampilan fisik teman-teman. Menurut saya akan baik jika anda berpakaian yang rapi. Tidak harus terlalu formal, tapi kesan rapi harus tetap dijaga. Jika punya baju dengan motif tenun khas NTT, boleh juga dipakai, mungkin bisa menarik perhatian panelis.. Oh iya, harus diingat bahwa sekalipun dalam briefing sebelum wawancara nanti dikatakan bahwa kandidat boleh menggunakan bahasa Indonesia, tapi pengalaman saya ketika diwawancarai panelis mengharuskan saya untuk menggunakan bahasa Inggris. Tapi teman-teman jangan kuatir dan gugup, berbicaralah selancar mungkin dan jangan terbeban dengan benar atau salah grammar anda. Ingatlah, wawancara bukan speaking test dalam IELTS. Yang dibutuhkan dalam wawancara adalah penyampaian informasi, sejauh panelis mengerti maksud penyampaian anda, maka anda bolehlah berlega hati, karena tak menilai seberapa akurat grammar anda.

Sekarang saya akan berbagi tentang test IELTS. Test IELTS bagi teman-teman yang sudah mengikuti ELTA mtentu tak asing lagi. Tapi bagi mereka yang belum pasti cukup asing. Test ini secara umum terbagi atas empat ketrampilan dasar yakni, Listening, Reading, Writing dan Speaking. Saya tak akan membahas secara khusus tentang apa dan bagaimana itu test IELTS, dan itu tugas teman-teman alumni kelas berburu beasiswa ala FAN di Kupang seperti Seluz Fahik, dkk yang akan menjelaskannya. Yang akan saya ketengahkan disini adalah persiapan untuk test IELTS. Ada sebagian menganggap test IELTS tak sepenting wawancara. Bagi saya, keduanya sama penting. Karena itu perhatian dan persiapan teman-teman juga harus diarahkan pada keduanya. Test IELTS saat sebelum atau sesudah masa wawancara ADS ini akan digunakan sebagai dasar pijak untuk penentuan seberapa lama teman-teman yang lolos akan mengikuti Pre-departure training (PDT) di Bali. Semakin bagus skor IELTS teman-teman, maka semakin pendek usia kursus persiapan teman-teman. Yang paling lama usia PDT adalah 9 bulan. Jika, skor IELTS anda tak mencapai 5.0, tapi lolos wawancara, maka ada kemungkinan anda akan diberi kursus selama 3 bulan untuk mengejar target IELTS 5.0 sehingga bisa bergabung dalam PDT kelas 9 bulan dan jika tidak juga mencapai target itu maka anda akan didiskualifikasikan. Karena itu test IELTS ini juga sama pentingnya dengan wawancara.

Berdasarkan pengalaman saya untuk bisa menghadapi test IELTS dengan percaya diri, hanya ada satu jalan yakni berlatih mengerjakan contohcontoh soal IELTS. Untuk bisa mendapatkan contoh-contoh, saya mohon teman-teman alumni ELTA dan alumni PDT untuk bantu. Pertama, untuk latihan listening, selain berlatih mengerjakan soal-soalnya, berdasarkan pengalaman saya, untuk meningkatkan kemampuan pendengaran saya maka saya menggunakan file audio soal-soal listening itu sebagai pengganti lagu pengantar tidur, dengan demikian ketika test IELTS telinga saya tak lagi asing dengan aksen, dialek percakapan dalam soal-soal listening test. Kedua, untuk latihan reading test, selain berlatih mengerjakan soal-soalnya. Saya juga menyediakan waktu selama 1-2 jam setiap malam untuk membaca artikel-artikel berbahasa Inggris, sekalipun lebih banyak tak mengertinya tapi ia membantu mata saya akrab dengan teks berbahasa Inggris, sehingga ketika test IELTS mata saya sudah terbiasa dan membantu saya menghemat waktu ketika mengerjakan soal-soal berdasarkan artikel pendek dalam bahan test tersebut. Ketiga, untuk latihan writing, pengalaman saya selain indikator akurasi grammar yang dinilai juga, aliran ide, kohesi, koheren dan transisi antar ide. Karena itu wawasan anda juga ikut berkontribusi dalam kelancaran menulis anda. Selain banyak berlatih menulis, saya menyarankan untuk banyak membaca contoh-contoh essay pendek IELTS yang bisa didapat dengan bantuan ‘mbah’ Google. Satu indikator yang juga penting adalah jumlah kata yang disyaratkan. Untuk writing task 1 tidak boleh kurang dari 150 kata dan writing task 2, tidak boleh kurang dari 250 kata. Lebih baik kelebihan jumlah kata dari pada kurang. Keempat, latihan speaking. Nah untuk yang satu ini, anda butuh teman berlatih, karena itu sebaiknya selain latih wawancara, saat kelas BbaF, juga dilakukan latihan speaking menggunakan soal-soalnya yang bisa didownload dari internet. Semakin sering anda berlatih speaking semakin anda terbiasa sehingga tak gugup saat test.

Apa yang sudah saya paparkan ini, saya akui tak cukup, tapi mungkin bisa dipakai sebagai bahan untuk teman-teman mempersiapkan diri secara baik. Di atas semua hal yang sudah saya paparkan, ada satu hal yang palingpenting dan utama yakni, jangan lupa untuk berdoa setiap kali latihan, setiap malam, sebelum dan sesudah wawancara. Lakukanlah yang terbaik dan pasrahkan sisanya kepada Yang Kuasa. Selamat berlatih dan mempersiapkan diri. Good luck for all of you guys. God Bless Us.

Dari kampung Bruce, pojok kota Canberra

Olkes

Olyvianus Dadi Lado yang akrab di sapa Olkes. Sumber: Courtesy Facebook Fehan Oan

Olyvianus Dadi Lado yang akrab di sapa Olkes. Sumber: Courtesy Facebook Fehan Oan

*NB: Tulisan di atas adalah hasil garapan K Olkes; salah seorang ADS ( sekarang telah berganti nama menjadi AAS) recipient ynag kini tengah studi International Development di University of Canberra. Tulisan ini Ia (red Olkes) posting di akun facebook  sebuah grup bernama Berburu Beasiswa ala FAN – Forum Akademia NTT. FYI, K Olkes sendiri adalah ketua kelas pertama kelas diskusi ini sekaligus sebagai perintis didirikannya forum kecil bagi para pemburu beasiswa dari Nusa Tenggara Timur ini.

Some important points from the Online Briefing for International Students of The University of Melbourne

This morning is the first day for me to start my online briefing as being stated in my email sent by one of the international students officers at the University of Melbourne couple weeks ago. As the international student who will pursue Master of Mathematics and Statistics in the next academic year, 2014, I am required to complete the online briefing before arriving and joining the Introductory Academic Program held by the university; therefore, I would like to save several crucial things related to the first material explained in this online briefing.

Public Transport

Sebuah Mimpi Menjelang H-9 Menuju Keberangkatan

Eufaria natal baru saja berlalu, tetapi suasana natal yang kental masih terasa di rumah. Lagu natal masih bersahut-sahutan terdengar di sekitar kompleks rumah di bilangan jalan bawah Tenukiik, Atambua. Bahkan, suara gemuruh petasan semakin menjadi-jadi tak kala senja menjelang, makin meramaikan H-3 menuju pergantian tahun 2013 ini. Saat semua orang ramai-ramai menanti tahun baru dan sibuk dengan segala persiapan menyambut malam tahun baru, saya dan keluarga saya bukan hanya disibukkan dengan urusan pergantian tahun baru tetapi juga urusan keberangkatan saya menuju negeri Kangguru yang sisa sembilan hari lagi. Mulai dari kelengkapan dokumen yang harus saya bawa nanti hingga barang-barang kecil yang juga harus dan perlu dibawa selalu menjadi perhatian bukan hanya oleh bapa dan mama saya, tetapi seisi keluarga pun tampak sangat concern dan selalu mengingatkan saya untuk selalu waspada memperhatikan apa saja yang akan dibawa. Adik bungsu saya yang baru berusia 4 tahun saja misalnya, sering mewanti-wanti saya agar jangan sampai lupa mentransfer semua data yang ada di laptop terutama foto keluarga dan tentunya foto-fotonya. Adik bungsu saya ini memang sangat aktif dan ceria. Uniknya Ia sangat gemar difoto sehingga tak heran jika banyak sekali koleksi fotonya dalam laptop saya.

Waktu seminggu ini memang lebih dari cukup untuk sekedar membereskan segala persiapan menuju keberangkatan saya nanti. Namun, berita buruk untuk keberangkatan saya nanti sayangnya datang sore tadi, saat sedang duduk santai di ruang tamu sambil nge-teh bersama bapak saya. Pasalnya, bapak saya yang rencana awalnya akan mengantarkan saya hingga ke Bandara Eltari Kupang tanggal 7 Januari nanti batal ikut bersama saya sebab akan ada acara penting yang tak bisa dilewati beliau di kantornya. Sempat sedih dan kecewa mendengar perubahan rencana itu. Mamapun tidak bisa berkata banyak sebab memang hari keberangkatan saya itu juga sangat penting bagi bapak saya. Dengan besar hati saya pun menerima dengan ikhlas bahwa saya akan berangkat sendiri dari Atambua menuju ke Bandara Eltari Kupang. “Tak apalah, yang terpenting saya sudah menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta menanti keberangkatan dan melewati natal bersama mereka”, gumam saya dalam hati saat beralih menuju kamar saya seusai perbincangan dengan bapak sore itu.

Terlepas dari rasa kegundahan saya atas kejadian sore itu, excitement atas keberangkatan saya yang sisa kurang lebih 1 minggu ini tetap saya rasakan bahkan terkesan berlebihan. Saya begitu semangat dan tak sabar lagi menorehkan memori baru di awal tahun 2014 nanti. Saya tak sabar lagi merasakan pengalaman terbang ke luar negeri untuk pertama kalinya dengan pesawat Qantas yang legendaris itu. Penasaran bagaimana dan seperti apa pemandangan yang akan saya saksikan setiba di negeri Kangguru itu. Kesempatan yang sudah lama sekali saya impi-impikan kini segera menjadi kenyataan. Setelah berjuang habis-habis melewati banyak sekali tantangan dan seleksi yang sangat ketat, akhirnya kini saya menginjakkan kaki di tangga terakhir penantian saya, tangga yang akan menjadi batu pijakan saya untuk melompat lebih tinggi menggapai satu anak tangga baru dalam babak kehidupan saya. Syukur itu masih saja saya dendangkan bahkan hingga saat-saat menuju keberangkatan ini.

Rasa senang yang luar biasa inilah yang agaknya menjadi alasan mengapa malam tadi, tidur saya yang lelap dibumbui dengan sebuah bunga tidur yang cukup menakutkan. Mimpi yang berhasil membangunkan saya pagi-pagi buta dan sukses membuat mental dan hati saya bergetar tak karuan. Saya terbangun pada pukul 04.08 dini hari tadi dan langsung meraih handphone yang saya letakkan persis di sebelah kanan bantal saya sewaktu tidur semalam. Pikiran saya keruh dan bercampur aduk saat itu. Hanya satu misi yang harus saya tuntaskan sesaat setelah meraih ponsel saya itu, yaitu mengecek kalau hari ini bukanlah tanggal 9 Januari dan seketika ketenangan yang luar biasa melingkupi jiwa dan raga ini. Spontan saya langsung menarik napas panjang ketika sadar kalau hari ini baru tanggal 28 Desember 2013. Betapa tidak, dalam mimpi saya itu saya tengah kebingungan sebab ketika sedang asyik-asyiknya bercanda dan sibuk bercerita dengan beberapa sahabat di Kupang, saya sontak kaget saat sadar kalau sudah tanggal 9 Januari 2014. Itu berarti saya sudah melewatkan penerbangan saya dari Kupang menuju Denpasar yang nota benenya tertulis tanggal 8 dalam tiket. Panik dan tak tahu harus berbuat apa, demikianlah suasana saat itu. Yang ada dipikiran saya adalah bagaimana cara agar bisa langsung berangkat ke Denpasar saat itu juga. Ada salah seorang sahabat saya yang mengusulkan untuk menghubungi maskapai penerbangan untuk menjelaskan bahwa saya lupa akan waktu keberangkatan dan meminta pergantian jadwal penerbangan. Ia menunjukkan nomor call center yang ada  samar-samar di amplop pembungkus tiket. Namun, hal itu sangatlah tidak mungkin sebab itu murni kesalahan saya. Karena sangat panik, salah satu teman saya lainnya menyarankan untuk memberitahukan terlebih dahulu masalah ini ke orang tua saya dan membeli tiket lain. Saya pun serta merta mengiyakan saran teman saya itu dan langsung meraih cell phone saya yang ada di dalam tas yang waktu itu tengah melingkari tubuh saya. Akan tetapi, ketika hendak menelpon mereka, saya langsung tersadar dari tidur saya malam itu. Rupanya semua kejadian yang baru saja saya alami itu hanyalah mimpi. “Hhhhhh, untunglah, hari ini masih tanggal 28 Desember 2013”, kata saya dalam hati saat melihat kalender dalam ponsel saya.

Image

Sumber: Google

Setelah dibangunkan oleh mimpi yang lumayan menguras adrenalin ini, saya tak bisa tidur lagi. Ya, hari ini saya kembali bangun sangat awal dibanding hari-hari biasa di masa liburan ini. Saya sempat terhanyut dalam sebuah permenungan kecil ketika bangun tadi. Ternyata, apa yang kita sangat harapkan, impi-impikan dan dengung-dengungkan setiap hari akan terhubung dengan alam bawah sadar kita. Ketika kita setengah mati menginginkan sesuatu dan sangat berharap untuk merealisasikannya, ketika itu juga alam di sekitar kita akan memberikan energi positifnya untuk terus mengontrol dan mengarahkan kita agar tidak keluar dari jalurnya. Saya jadi ingat dengan sebuah buku berjudul “The Secret” yang pernah saya baca, yang berisi tentang energi positif yang dimiliki dan dialirkan alam sewaktu kita; manusia, juga berpikir positif terhadap setiap apa yang kita kerjakan. Hal ini juga membawa saya pada sebuah ungkapan Prof. Yohanes Surya sewaktu berkunjung ke Kupang untuk menghadiri sebuah kegiatan, MESTAKUNG, “seMESTA menduKUNG”. Ya, mungkin semesta mendukung derap perjuangan dan letihnya meraih mimpi ini. Mungkin alam bawah sadar saya tengah memberikan sebuah pesan yang belum betul-betul saya pahami. Tak mau berpikir negatif dengan menafsirkan mimpi yang barusan saya alami ini, saya hanya ingin memberikan aliran energi yang bermuatan positif terhadap mimpi ini. “Setidaknya, berkat mimpi ini, saya bisa bangun pagi lagi. Hahahaha…… Thanks nightmare”.

From Bedugul with Love

Seperti hari-hari sebelumnya, cuaca di seputar kota Denpasar pagi itu sangat bersahabat dengan sang mentari yang kembali tegap bersinar gagahnya. Suasana pagi memang masih sangat sepi waktu itu, saya terkaget dari tidur yang pulas di sebuah kamar kos kecil yang sudah setia menemani saya hampir 3 bulan di kota Dewata ini. Waktu baru menunjukkan pukul 6 pagi. Saya masih merasakan kantuk yang luar biasa sehingga membuat berat pergerakan bangun untuk sekedar berpindah posisi dari tempat tidurku. Hari Sabtu memang selalu menjadi kesempatan bagiku untuk memperpanjang waktu tidur hingga bangun sekitar pukul 10 atau 11 siang. Setelah seminggu dipaksa bangun pagi demi merayakan serentetan aktivitas yang menuntut disiplin yang tinggi, hari Sabtu selalu menjadi penutup minggu yang luar biasa. Tak ada yang lebih nikmat selain bisa berlama-lama tidur dan tidak harus bangun pagi-pagi buta.

Semenit baru membuka mata, rasa kantuk yang masih menggorogoti raga ini memaksa saya untuk kembali bersekutu dengan selimut hangat dan sebuah bantul guling berwarna biru tua itu. Tanpa menunggu reaaksi yang lama, saya akhirnya kembali terlelap dalam tidur yang begitu pulas. Tidur yang sudah menjadi agenda utama di kala lelah dan letih meyerang tubuh ini. Saat jiwa menuntut untuk dicharge setelah disibukan dengan beban belajar yang sangat menguras waktu dan energi. Tiada hal yang lebih indah bagi saya selain tidur, ketika sedang mengikuti kegiatan pra-S2 beberapa waktu silam. Saya bahkan sempat dijuluki “Pangeran Tidur” oleh seorang gadis manis asal Sabu, Nusa Tenggara Timur, yang sangat fanatik terhadap warna pink. Ia memang terhitung dekat dangan saya beberapa bulan terakhir. Beberapa hal yang sifatnya lumayan pribadi Ia ketahui, seperti kebiasaaan tidur saya yang berlebihan dan seringnya tidak berpamitan jika sudah asyik ber-sms-an ria saat malam menjelang. Ia memang sosok gadis yang membuat hati saya “bagaruk”, begitu ungkapan orang Kupang saat mereka lagi cenat-cenut dimabuk asmara. Entah sejak kapan rasa itu muncul, yang jelas Ia begitu berbeda dari sosok yang saya kenal beberapa bulan sebelum akhirnya terlibat sebuah proyek besar di Denpasar.

Senyumnya yang khas dan nada tertawanya yang unik membuat Ia spesial di mata saya. Sejak terlibat dengan sebuah percakapan yang intens dengannya, saya semakin menyukainya dan tak sadar rasa itu semakin dalam dan berbunga semakin lebat. Rasa itulah yang akhirnya menambah semangat juang saya. Wajahnya betul-betul mengalihkan dunia saya.

*********************************

Tidur saya makin pulas, tak sadar kalau sejak pagi tadi hp saya sudah berbunyi berkali-kali pertanda ada panggilan masuk berkali-kali dan beberapa pesan singkat yang semuanya berasal dari cewek si pencuri hati saya. Rupanya, Ia sudah berkali-kali membangunkan saya untuk menanyakan perihal janji saya untuk membawanya jalan-jalan ke sebuah tempat wisata di Bali yang sudah lama Ia impi-impikan untuk dikunjungi. Bedugul, itulah tempat yang akan kami kunjungi hari ini. Saya sudah membuat janji dengan my dear angel untuk menemaninya berkunjung ke Bedugul. Namun, 5 pesan singkatnya belum saya balas karena masih asyik dalam tidur yang begitu pulas. Hingga, akhirnya di sebuah panggilan telepon darinya, saya pun sontak terkaget dari tidur saya dan dengan nada memelas saya jawab panggilan masuk itu. Nada bicaranya sedikit tinggi dan kesal menanyakan kepastian perjalanan kami itu. Saya pun serta merta bereaksi cukup ekstrim bangun dari tepat tidur, memalingkan mata saya ke sebuah arloji yang saya letakkan di meja dekat tempat tidur. Rupanya sudah jam 12 siang. Pantas saja Ia berbicara dengan nada ketus saat di telepon tadi. Tanpa berpikir panjang, segera saya raih kunci kamar, membuka pintu dan segera menuju kamar mandi. Dalam hitungan 5 menit saya pun telah siap dan langsung menuju kosannya yang jaraknya sangat dekat dengan kosan saya.

Begitu sampai di kosannya, saya disambut dengan suasana kamar yang tampaknya sedang dibersihkan. Saya coba mengajaknya untuk segera bersiap-siap tetapi Ia tak menggubrisnya dan asyik terus dengan kegiatan menyapu. Sesekali Ia pun bersuara dan dari nada bicaranya Ia sudah tak mau lagi keluar karena hari sudah sangat siang dan perjalanan ke Bedugul memang bukan jarak yang dekat untuk ditempuh, apalagi hari itu adalah weekend, tentu banyak kendaraan yang hilir mudik dari dan ke Bedugul. Saya pun kehabisan akal. Berkali-kali saya meminta maaf  karena terlambat bangun dan berusaha membujuknya untuk berangkat. Hingga akhirnya, Ia pun berubah pikiran dan setuju untuk berangkat bersama saya menuju Bedugul. Namun, rupanya keputusannya untuk tetap jadi jalan itu merupakan keputusan bersyarat. Saya harus membantunya membereskan piring-piring kotor di dapur agar Ia bisa segera mandi dan bersiap-siap. Tanpa berpikir panjang, saya sanggupi syarat yang Ia berikan. Cinta memang bisa memaksa Anda melakukan apa yang mungkin belum atau jarang Anda lakukan, Seperti halnya saya siang itu. Walaupun tidak pernah mencuci piring, saya segera mengiyakan titah itu tanpa basa-basi panjang lebar lagi.

Begitu cucian selesai, Ia pun sudah selesai bersiap-siap berangkat menuju tujuan utama perjalanan kami, Bedugul. Bermodalkan sebuah motor metik yang kami sewa di salah satu tempat penyewaan motor di Sesetan, kamipun melaju menuju Bedugul. Perjalanan menuju Bedugul memang baru bagi dia, tetapi saya sudah beberapa kali bepergian ke sana. Selama perjalanan, kami hanyut dalam tawa canda dan cerita yang semakin membuat kami mengenal satu sama lain. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh saya untuk bisa satu motor dengannya menempuh perjalanan yang lumayan jauh seperti ini. Rasa deg-degaan yang saya alami membumbui perjalanan kami waktu itu. Berada persis di dekatnya semakin membuat jantung ini berdebar-debar tak karuan. Namun, untuk memberinya kesan dan memori yang baik saya mencoba untuk tidak menunjukkan semua perasaan yang berkecamuk saat itu. Saya memang sudah tenggelam dalam rasa kasmaran yang sangat dalam. Satu yang saya khawatirkan, apa dia juga merasakan hal yang sama?

Cuaca mendadak berubah ketika hampir sampai di Danau Bratan. Hujan rintik-rintik pun mengiringi laju motor kami yang pelan itu. Hembusan angin semakin terasa hingga ke tulang, rupanya udara pun semakin dingin di sekitar barisan daerah berbukit ini. Kami pun menepi sebentar di sebuah mini market di pinggiran jalan menuju tempat wisata Danau Bratan itu. Sessat hujan turus lumayan deras, memaksa kami untuk sedikit bersabar menunggu di depan mini market itu. Obrolan yang cukup hangat kembali kami bangun sambil menunggu redanya hujan saat itu. Konsentrasi saya kembali terganggu dengan celotehan dan tawanya yang begitu khas. Saya beruntung sedang berjalan dengan seorang gadis manis yang menjadi idola di tempat proyek kami. Dari tatapannya, ada sesuatu yang terpancar dari mata indahnya itu. Sesuatu yang kemungkinan besar adalah perasaan yang sama seperti yang saya rasakan.

Tak terasa, hujan yang deras tadi akhirnya sudah tidak lagi deras dan sisa gerimis. Kami pun melanjutkan sisa perjalanan yang sudah semakin dekat. Akhirnya, kami pun memarkirkan motor di area parkiran dan langsung bergegas menuju daerah sekitar Danau Bratan. Suasana sekitar danau lumayan ramai, kami berjalan menelusuri keramaian hingga menepi di sudut lain di pelataran danau Bratan tepat di tepian danau di area berumput. Saya pun langsung duduk bersila di rerumputan tebal di depan kami. Ia pun menyusul dan kami pun terlibat dalam percakapan yang tak biasa kami lakukan. Ia mulai menceritakan perihal keluarganya dan beberapa peristiwa penting yang terjadi di dalam keluarganya. Awal perbincangan kami sempat terasa sedikit canggung, tetapi akhirnya suasana hangat kembali melingkupi kami. Tatapannya, senyumannya dan tawanya kembali menjadi obat penetralisir suasana kebersamaan kami di Sabtu sore yang indah itu. Sebuah kebersamaan yang semakin membuat rasa ini berkembang dan berbunga. Ia memberikan sebuah hadiah berupa gantungan kunci berbentuk salib berwarna biru dengan kombinasi warna pink di tengahnya. Kado kecil itu mengejutkan saya dian seka Sabtu sore itu dan sekaligus membuat saya seakan melayang hingga langit ke tujuh. Sabtu itu betul-betul luar biasa bagi saya. Semua yang kami lewati sore itu, setidaknya menjawab kegundahan hati saya mengenai apa yang Ia rasakan. Walaupun kami tahu ada perbedaan yang cukup prinsip di antara kami, setidaknya Ia sudah berhasil mengisi kekosongan hati ini. “Tetap jadi malaikat kecilku yang periang dan selalu ceria, my dear angel

Natal Paling Berkesan – 24 dan 25 Desember 2013

Merayakan hari raya Natal bagi sebagian besar orang adalah sebuah kesempatan paling berharga untuk kembali berkumpul dan berbagi kasih bersama orang–orang terdekat seperti handai taulan, sahabat sewaktu kecil, maupun keluarga besar yang mungkin tinggal dan terpisah ratusan kilometer jauh dari tempat domisili mereka. Natal juga merupakan momen langka bagi segelintir orang, termasuk saya untuk sekedar melarikan diri dari rutinitas yang selalu membelenggu selama setahun lamanya. Namun, entah apalagi arti natal yang dapat saya kemukakan di sini, tentu setiap orang memaknai Natal dengan cara mereka sendiri, begitupun halnya saya. Perayaan pesta Natal tahun ini (25 Desember 2013) kali ini memang sangat spesial dan mungkin akan menjadi natal yang tak akan terlupakan sepanjang hidup saya. Tahun 2013 merupakan tahun berkat buat saya sehingga peringatan hari lahir Kristus, sang Juru Selamat ini ingin saya lewati dengan meninggalkan memori yang membuat saya untuk selalu mengenangnya.

Ya, agaknya harapan kecil saya ini terwujud juga. Betapa tidak, setelah kurang lebih 5 tahun lamanya selalu merayakan Natal sendiri di daerah rantauan, tahun ini saya akhirnya bisa meluangkan waktu untuk merasakan momen Natal di rumah sendiri, di sebuah dusun kecil di Kota Atambua, kota penuh kenangan tempat tinggal orang tua saya bersama saudara-saudara dan keluarga besar saya. Walaupun, Atambua bukan kota kelahiran saya, akan tetapi kota yang berlokasi di perbatasan Indonesia – Timor Leste ini memang istimewa bagi saya. Saya telah menghabiskan waktu tinggal dan tumbuh besar setelah eksodus dari Dili, Timor Leste sejak 1999 lalu. Banyak cerita yang sudah saya ukir mulai dari duduk di Kelas 5 sekolah dasar hinggaa menamatkan sekolah menengah atas di tahun 2006. Ya, jika dilihat dari tahun-tahun yang saya lewati, waktu 7 tahun saya di Atambua bukan waktu yang singkat.

Setelah selama 5 tahun berturut-turut melewatkan malam natal sendirian di kamar kos di Kota Kupang, akhirnya di malam Natal 25 Desember 2013 ini saya ada bersama kembali adik-adik saya, bapa dan mama tercinta di rumah sederhana yang selalu saya rindukan. Suasana kehangatan yang sekian lama saya dambakan akhirnya saya rasakan juga. Kendatipun di malam 24 Desember 2013 itu saya bertugas sebagai ojek bagi bapa, mama, mama Ani, dan dua orang   saudari saya yang akan mengikuti misa malam Natal waktu itu. Itu artinya apa, saya sudah dipastikan absen dalam misa malam Natal itu. Akan tetapi, kerinduan untuk merayakan misa Natal di Gereja Katedral St. Maria Imaculta Atambua ini juga dapat saya penuhi dengan mengikuti misa perayaan Hari Raya Natal 25 Desember 2013.

Ada  rasa damai yang luar biasa yang dapat saya rasakan mulai dari malam Natal 24 Desember itu. Saya menghabiskan malam natal itu dengan menemani 3 orang saudari saya di rumah. Awalnya kami hanya akan menghabiskan malam itu dengan menonton beberapa film natal yang sengaja sudah saya persiapkan jauh-jauh hari untuk ditonton bersama keluarga saya, namun rencana pun berubah lantaran tidak ada makanan yang tersaji di atas meja makan. Maklum, mama yang selalu menyediakan makan malam, malam ini bertugas sebagai pembawa persembahan bersama bapak saya. Itulah sebabya, kami harus mencari makan malam di luar. Akhirnya, sata bersama dua orang adik saya, Jessie dan si bungsu Sari, berkeputusan  membeli bakso di pasar senggol Atambua yang berlokasi tidak jauh dari rumah kami.

Dengan mengandalkan motor CS1 kesayangan saya, kami pun menembus dinginya malam itu karena sejak sore cuaca memang agak kurang bersahabat karena diguyur hujan. Suasana jalan sedikit lenggang dan yang terlihat dan terdengar adalah cahaya kelap-kelap dan gemuruh suara petasan dan kembang api yang ditembakan ke udara bebas. Ada rasa puas yang luar biasa waktu itu. Saya sangant menikmati perjalanan di jalan lurus Tenukiik hingga lapangan umum dengan laju motor yang sengaja saya pelankan agar bisa lebih menyatu dengan dinginnya malam natal waktu itu. Jika natal di Eropa identik dengan salju, maka di kebanyakan daerah di Indonesia termasuk di Atambua, suasana Natal diidentikan dengan turunnya hujan.

Kamipun tak lupa membeli kembang api si bungsu  di salah satu took kecil; Sumber Rahmat, yang juga tidak jauh dari tempat tinggal kami. Dalam hitungan menit, kamipun sudah tiba kembali di rumah dan langsung menikmati bakso yang telah kami beli sambil menonton drama natal “Santa Paws 2 The Santa Pups”. Di sela-sela acara makan-makan, si bungsu tak sabar untuk segera menyalakan beberapa potongan kembang api yang dibeli tadi. Saya pun menunda makan malam saya dan menemainya bermain kembang api di teras rumah. Suasana sekitar kompleks rumah terlihat sepi. Hanya suara gemericik hujan gerimis yang terdengar di luar sana. Satu per satu kembang api kami nyalakan sambil larut dalam cerita yang dibumbui dengan riak tawa yang membahana memecah kesunyian malam itu. Saya sempat hanyut dalam lamunan kecil selama sesi kembang api itu, ada rasa lain yang tengah saya abadikan di dalam memori saya. Rasa yang belum sempat saya rasakan selama 5 tahun belakangan. Entah mengapa saya jadi begitu tersentuh dengan kebersamaan di malam itu, tetapi satu hal yang saya syukuri adalah kesempatan merayakan natal bersama keluarga tercinta yang akan saya rindukan di perayaan natal tahun 2014 berikutnya. Saya akan merayakan Natal untuk pertama kalinya di negara lain dengan suasana yang tentunya sangat berbeda dengan suasana natal yang saya alami tahun ini. Saya akhirnya bisa menorehkan sebuah memori malam natal 24 Desember 2014.

Melunasi ketidakhadiran saya dalam misa perayaan natal semalam, saya pun mengikut misa perayaan Natal 25 Desember 2013 di misa pagi pukul 06.00 WITA. Saya ditemani seorang saudari; Yani, yang semalam juga absen misa malam natal. Misa natal pagi itu sangat hikmat dengan suasana natal yang begitu kental. Dalam hati kecil saya berkata, “Ini dia satu lagi memori natal 2013 yang akan saya ingat”. Misa yang berdurasi 2 jam itu diiringi dengan puji-pujian natal yang luar biasa dari paduan suara dari salah satu lingkungan dalam paroki St. Maria Imakulata Atambua. Saya semakin tenggelam dengan suasana perayaan natal di pagi itu dengan pesan natal yang disampaikan oleh pastor pemimpin misa dalam khotbah natalnya. Ia menghimbau untuk memaknai perayaan natal bukan sebagai rutinitas tahunan belaka, tetapi leboh dimaknai dengan sukacita dalam kesederhanaan.

Ia menyoroti pergeseran makna natal yang sedang terjadi dalam masyarkat krtistiani saat ini. Natal tidak dijadikan momen untuk merubah diri dalam semangat kesederhaan melainkan diwarnai dengan pesta hura-hura dengan glamornya hiasan natal dan gemuruh petasan di mana-mana. Sebagian besar orang justru bingung dan resah dengan baju apa yang harus digunakan, gaya rambut baru, kue natal beserta minuman yang harus dipersiapakan dan petasan yang harganya bisa mencapai jutaan rupiah. “Pesan natal yang luar biasa dan sangat touchy”, begitu saya berkata dalam hati sambil seny m kecil dengan rman menyindir kepada Yani yang duduk persisi di sebelah saya. Ya, saya sengaja senyuman sindirian itu saya alamatkan kepadanya karena Ia sempat merengek meminta dibelikan baju baru uuntuk perayaan natal. Ia juga tampaknya sadar dengan khobah natal yang juga baru saja Ia dengar langsung.  Saya pun akan mengingat pesan natal yang memang menjadi pesan untuk perayaan natal di tahun 2014 berikutnya di negeri kangguru itu. Apalagi saya akan merayakan Natal di salah satu kota besar di Australia yaitu Melbourne yang tentunya akan menawarkan jutaan pilihan dan keglamoran pesta natal.

********

90 Hari Bersama Mereka

Ketika saya resmi menjadi warga IALF Bali untuk mengikuti PDT (Pre-Departure Training) selama 3 bulan (Oktober – November 2013), sebelum memulai perkuliahan di University of Melbourne, saya sempat ragu, apakah saya bisa berbaur dengan mereka, partisipan lain dari seluruh Indonesia yang akan dikelompokkan bersama dalam beberapa grup itu. Rasa khawatir yang luar biasa menghinggapi saya saat upacara pembukaan PDT bulan Juli kemarin. Was-was apakah saya bisa menjadi partner yang baik dalam mempersiapkan diri sebelum resmi menjadi pelajar di negeri kangguru selalu datang menghampiri. Kami semua yang telah berhasil sampai di tahap ini tentu berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, suku, maupun cara berpikir yang berbeda-beda. Inilah yang selalu membuat gusar ketika tahu bahwa saya ditempatkan di grup B, kelompok 3 bulan bersama 13 orang lainnya. Mereka semua adalah fighter, sama seperti saya, yang telah berjuang hingga berhasil sampai di tahap PDT di Bali. Kami penghuni 3mB (3 months B) begitu sebutan untuk kelas kami sebagian besar berasal dari Indonesia Timur. Mungkin ada baiknya saya perkenalkan satu-satu.  

 

ImageBeatric Anary (Bea), seorang aktivis perempuan asal Papua yang akrab disapa Bea. Ia adalah ketua kelas kami yang sangat sabar dan ramah. Semangat juangnya yang berapi-api seolah terus membakar seisi kelas. Sejak pertama kali memulai perbincangan dengan Bea, saya memang sudah tahu bahwa Ia adalah seorang yang open minded dan tipe pekerja keras. Logat khas Papuanya selalu menjadi ciri khas tersendiri, selalu membuat seisi kelas merindukannya, apalagi ketika ditambah dengan humor-humor lucu yang kerapkali kali disampaikan spontan dan sontak membuat kami semua tertawa terbahak-bahak. Salah satu yang selalu tergiang-giang di kepala saya adalah cerita lucu di dalam ruang diskusi, Resource Center IALF – “Susu Panas”, sampai sekarang saja, saya kadang tertawa sendiri jika ingat suasana di siang itu.

 

ImageBerikutnya adalah Dila Swestiani (mbak Dila, begitu sapaan akrab mbak yang berkulit hitam manis asal Jogjakarta ini). Berbicara soal mbak Dila, memori yang paling saya ingat adalah dedikasinya dalam mempersiapkan ide penampilan kelas kami di acara Barbeque Party di Kantor Konsulat Australia di bilangan Renon, Denpasar, beberapa saat lalu sebelum berakhirnya program PDT kami. Berkat ide kreatif mbak Dila, yang sudah malang melintang di dunia teater dan paduan suara sewaktu kuliah S1 kemarin,  berhasil menghantarkan kelas kami, 3mB, menjadi juara 1 di kompetisi penampilan dari setiap kelas yang setiap tahun digelar oleh pihak IALF Bali. Sebagai informasi, dalam kompetisi waktu itu, 7 grup yang terdiri dari 2 grup 9-monthers, 3 group 3-monthers, dan 2 group 6-monthers. Setiap kelas wajib membawakan sebuah penampilan berdurasi 5 menitan yang selanjutnya di-judge oleh beberapa juri. Setiap penampil saat itu menampilkan berbagai tarian tradisional dan nyanyian. Kelas kami, menampilkan sebuah parodi singkat tentang perjalanan kami mendapatkan beasiswa AAS. Berkat tangan dingin mbak Dila, kami berhasil mengkolaborasikan tarian, akting dan nyayian dalam sebuah penampilan, yang boleh dikatakan luar biasa. Betapa tidak di sela-sela padatnya tugas dari instrukstur kami, Jerry Cross, kami masih sempat-sempatnya berlatih. Mbak Dila sendiri salah satu lead vocal di lagu terakhir penampilan kami. Big thanks buat mbak bersuara merdu, yang membuat saya meleleh saat rehearsal pertama. Suaranya booo……..Splendid!!!! Suaranya yang merdu ternyata tidak hanya memukau saya tapi seisi kelas. Pribadinya juga sangat hangat dan keibuan. Nada bicaranya yang lembut khas Jogja memang selalu membuat kita nyaman saat berbicara dengannya.

ImageJika mbak Dila pakar dalam urusan tarik suara, teman saya berikutnya ini justru sangat pakar dalam urusan gigi. Yaaa….. dokter gigi asal Jember yang bertugas di Ende, NTT ini bernama Elyda A. Misrohmasari atau sering dipanggil El. Dokter muda  yang selalu ceria dan punya senyum khas ini juga mempunyai kepribadian yang sangat menarik. Ia punya dedikasi yang tinggi dan motivasi yang luar biasa. Itu saya lihat sewaktu kami sekelas disibukkan dengan discussion paper, tulisan akademik dengan panjang maksimum 2000 kata mengenai bidang kami masing-masing. Logat Jawanya lumayan kental, walaupun sudah bersentuhan dengan budaya dan dialek NTT. Ia akan melanjutkan studinya di University of Quensland, Brisbane, satu kota dengan Bea nantinya.  Ia juga sangat vokal dan aktif di setiap diskusi dalam kelas. Keingintahuannya selalu membuat Ia tak sungkan-sungkan untuk bertanya dan bertanya setiap mendapat materi yang masih membingunkannya. Satu contoh yang seharusnya juga saya praktekkan nantinya saat studi di University of Melbourne.

 

ImageTeman saya berikutnya adalah Edison, seorang PNS di lingkup Pariwisata di Makasar yang merupakan rekan segrup study bersama saya. Ia seorang tipe pekerja keras yang sangat peduli juga akan kawan. Yaaaaa…… walaupun Ia sering terlambat bergabung di grup studi (opzzz peace Pak Edi) tapi ide-ienya memang selalu luar biasa. Kami menyebutnya “Out of the Box”. Ia selalu memberikan pendapat yang tidak semua kami memikirkannya. Wahhh…amazing J. Walaupun beliau masih mempunyai sedikit kendala dalam hal speaking, Ia toh dapat memperoleh score speaking sesuai target yang diharapkan untuk bisa bergabung bersama Monash University. Semangatnya untuk terus maju itulah yang harus saya contohi. Hal lain yang sangat saya ingat dari Edi adalah mengenai discussion papernya yang mengambil topik unik seputar pariwisata. Konsep yang Ia soroti waktu itu adalah Slum Tourism yang bagi saya menarik. Betapa tidak, biasanya destinasi pariwisata itu harusnya tempat yang indah, luar biasa yang enak dipandang mata, bukannya tempat kumuh. Setelah mengikuti persentasi  Pak Edi, akhirnya saya pun paham ternyata tempat kumuh juga mempunyai nilai pariwisata. Awesome !!!!!

AdiNah, kalau berbicara soal Pak Edi, teman saya berikutnya pasti paling tahu kurang lebih karakter dan pribadi Edi. Yaa, strong collocationnya Pak Edi ini adalah Husnawadi, seorang dosen Bahasa Inggris di salah satu universitas swasta di Mataram, Lombok, NTB. Teman saya yang sering dipanggil Adi ini memang pribadi yang luar biasa. Ia sangat vokal dan punya semangat kompetisi yang luar biasa pula. Ia sangat kritis dan selalu mencari tahu sesuatu yang dirasanya mengganjal, begitulah kesan yang saya dapat selama beberapa minggu pertama PDT kami. Seiring berjalannya waktu, ternyata Adi juga sangat peduli dan sangat memang sudah berpengelaman dalam hal berdebat secara sewaktu kuliah S1 kemarin, Ia sering ikut dalam kompetisi debat tingkat regional hingga nasional. Namun, dari semua itu, saya dan mungkin seluruh penghuni 3mB akan selalu mengingat saudara kami yang satu ini, yang  berhasil menciptakan cerita terlucu “Susu Panas”. Bayangkan intrukstur kami saja dibuatnya tertawa terpingkal-pingkal hingga memerah wajahnya. Ditambah lagi ruih pikuknya suara kami yang lain. Memang moment itu tak akan pernah saya lupakan, moment yang menurut saya puncak keterikatan emosional kami sesama peserta maupun dengan intruktur kami. Thanks like in million times buat jokenya Adi JJ

 

ImageTeman sekelas saya berikutnya adalah seorang dokter periang asal Medan yang bertugas di Papua belakangan sebelum akhirnya lulus seleksi AAS tahun 2012. Ia bernama Ingrid Siahaan dan biasa dipanggil Ingrid. Mantan mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Brawijaya Malang ini mempunyai pribadi yang luwes, pandai bergaul, easy going dan murah senyum. Ia tipe pekerja keras yang mempunyai jiwa pelayanan yang luar biasa. Hal ini tampak nyata dari keseharian di kelas yang tak tanggung-tanggung untuk berbagi, yaaa walaupun terkadang saya menjadi sasaran empuk untuk dibully tapi saya kagum dengan kepribadiannya yang dinamis dan setia kawan. Ini terlihat dari kesetiaannya menemami kami dari awal persiapan penampilan kami untuk acara Barbeque Party yang dilangsungkan di Kantor Konsulat Australia di bilangan Renon seminggu sebelum penutupan PDT bulan Okrober kemarin. Personally speaking, saya belajar dan satu hal dari kakak saya yang satu ini yaitu kesetiakawanan dan loyalitas. Selain itu, untuk urusan IELTS, Ingrid sangat luar biasa untuk urusan reading jadi saya pun belajar darinya. Ia baru saja menikah bulan November kemarin. Hmmmm, selamat menempuh babak baru dalam hidup ya kak Ingrid (Belum terlambat kan ucapannya, kak Ingrid?? LOL).

ImageKalau Ingrid sangat luar biasa dalam urusan reading, teman saya yang satu ini sangat luar biasa dalam hampir semua aspek yang diuji dalam test IELTS. Jacob Dethan atau yang akrab disapa dengan Yappi ini adalah salah satu penerima beasiswa AAS 2012 asal NTT yang seprofesi dengan saya yaitu Dosen di Universitas Nusa Cendana Kupang khususnya di Jurusan Teknik Elektro. Walaupun kak Yappi sudah berkeluarga dan sudah dikarunia dengan 3 orang anak, Ia mempunyai jiwa dan semangat muda yang begitu membara. Itu terlihat nyata dari setiap performanya dalam setiap kelas selama 3 bulan ini. Dengan bawaan yang kalem dan tenang Ia menjadi sosok yang dikagumi oleh teman sekelas kami. Ia tipikal sahabat yang senang membantu teman yang mengalami kesulitan dan pribadi yang dinamis dan suka berbagi. Banyak hal positif yang saya pelajari dan tiru dari kak Yappi. Salah satu diantaranya adalah semangat untuk selalu memperbarui diri dan tetap stay focus dengan tujuan utama yang sudah kita pasang jauh di depan kita. Ia juga sangat peduli dengan permasalahan yang dihadapi dengan teman-temannya dan keadaan di sekitarnya terutama saat persiapan menjelang penampilan kami di Barbeque Party waktu itu. Berkat tangan dinginnya, kak Yappi meramu music backing untuk performance kami, hingga kami pun berhasil menampilkan sebuah pertunjukan musikal yang berhasil menghantarkan kami menjadi juara 1 kala itu. Ia pun menyumbangkan suara merdunya dalam salah satu scene dalam penampilan kami sebagai salah satu lead singer, selain saya dan mbak Dilla.

ImageBeralih ke sahabat saya lainnya, Khairullah atau yang biasa disapa dengan Herul; seorang PNS asal Palu yang punya etos kerja yang luar biasa dan sangat inspiring. Ia sangat tekun dan tak kenal menyerah atas apa yang sudah Ia impi-impikan selama ini. Berhasil menjadi salah satu awardee AAS 2012, membuat semangat belajarnya begitu membara. Seisi kelas mengenalnya sebagai sosok yang mudah bergaul, pekerja keras, goal oriented dan mempunyai selera humor yang tinggi. Tak heran, bersama partner in crime-nya (kak Echy dan mbak Wina yang akan saya ceritakan berikutnya), Ia selalu menjadi penetralisir suasana kelas yang pusing akibat banyaknya tugas yang sangat mepet due date-nya. Humor-humor ala kak Herul selalu membuat kami tertawa terpingkal-pingkal, terutama jika mereka bersatu melancarkan aksi bully terhadap saya (huffttt beginilah resikonya jadi peserta paling muda dalam kelas 3mB ini) dengan membalut aksi bully mereka dalam bentuk infotainment ala SILET. Saya malah sering tertawa sendiri jika mengingat momen-momen heboh itu. Untuk urusan IELTS, kak Herul juga sangat antusias dan sangat terbuka dalam membagi apa yang Ia tahu dan apa yang belum Ia pahami. Satu poin plus yang patut saya tiru dalam sepak terjang saya 2 tahun mendatang.

 

ImageKawan saya berikutnya adalah kak Echy; seorang dokter hewan yang sekarang berprofesi sebagai seorang dosen di Universitas Nusa Cendana pada fakultas Kedokteran Hewan. Karena berasal dari daerah yang sama denga saya yaitu NTT, saya sudah cukup akrab dengannya. Ia pribadi yang sangat luwes, mudah bergaul, easy going, nyambung abis dan mempunyai etos kerja yang tinggi. Ia memulai masa PDT-nya dengan memperoleh tantangan dalam berbagai hal, tidak hanya dalam urusan manajeman waktu (masalah yang juga dihadapi oleh semua kami) tetapi juga dalam beberapa aspek dalam IELTS. Akan tetapi, dengan berbekal semangat untuk maju yang membara Ia pun berhasil menaklukan tes IELTS akhir sebagai prasyarat untuk melanjutkan tahapan studi di kampus pilihannya di Australia kelak. Saya jadi ingat salah satu adegan dalam penampilan di malam Barbeque party waktu itu yang menampilkan K Echy sebagai seorang Kungfu fighter yang mengalahkan test IELTS. Ini seoalah gambaran atas hasil akhir yang sudah menunggu kami waktu itu. Ia juga punya bakat terpendam dalam dunia broadcasting yang menurut saya perlu dikembangkan. Ya, seperti yang saya jelaskan di atas, K Echy yang punya selera humor yang luar biasa sangat lihai dalam merangkai cerita soal hal-hal aneh yang terjadi disekitarnya. Berkat aksi k Echy inilah, saya punya nama baru selama mengikuti PDT di Bali ini. Bubu; itulah nama yang kedengaranya agak aneh…. Namun, semua canda ria dalam setiap gurauan kami ini membuat saya merasa sangat terhibur. Walaupun sering jadi sasaran bully, saya malah semakin nyaman berada dalam kelas ini.

 

ImageBerikutnya adalah mbak Wina Hartaty. Ibu guru Bahasa Inggris asal NTB ini mempunyai pribadi yang sedikit ceplas- ceplos tetapi menyenangkan, ramah, tiada hari tanpa senyuman, humoris, dan yang pasti sangat keibuan. Keramahannya memang nilai plus tersendiri buat mbak Wina. Ia partner sharing yang baik dan tipe pendengar yang luar biasa. Mbak Wina memang punya background English yang tidak diragukan lagi sehingga saya sering banyak berdiskusi dengan beliau. Ia sangat aktif dalam setiap diskusi dengan ide-ide dan pendapat-pendapat yang luar biasa dan yang pastinya Ia selalu terenyum dan ketawa kecil di setiap pembukaan pertanyaan atau pernyataannya. Jika kak Echy mempunyai aura presenter, mbak Wina memiliki aura komedian yang menurut saya sangat outstanding. Setiap hal kecil yang Ia lakukan pasti mengundang tawa dan sangat natural. Really impressive!!! Salut… !!! Saya sendiri, sering dibuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Ia salah satu orang yang berjasa dalam membawa kami menjuarai penampilan pesta Barbeque. Dialah sang script writer semua adegan dalam penampilan kami itu. Big thanks buat Mbak Wina.

 

ImageTeman saya selanjutnya adalah Rokhaeni Rasp atau yang biasa disapa mbak Enny; seorang guru Bahasa Inggris yang sudah lama berdomisili di Papua. Dalam urusan IELTS, mbak Enny adalah salah satu sahabat yang sangat tekun dan berhasil menunjukan progress dalam hal writing yang luar biasa. Berdiskusi dan bertukar pikiran dengannya selalu membangkitkan semangat juang untuk terus meng-update diri apalagi dihantui dengan tumpukan tugas dengan deadline yang sangat mepet. Ia selalu mengerjakan tugas-tugas yang diberikan denga baik dan tak ada satupun yang terlewatkan, tak seperti saya yang masih kecolongan dan lupa mengerjakan tugas-tugas tertentu. Mbak Enny termasuk pribadi yang murah senyum dan selalu berusaha menjadi sahabat yang setia kawan dan selalu memberikan masukan kepada kawan yang dinilainya perlu dinasehati. Saya banyak belajar berbagai hal terutama dalam hal kedisipilinan diri darinya. Ya… walalupun Ia juga rajin mengerjai saya tapi kalau dipikir-pikir itu mungkin karena saya juga yang lumayan usil dalam kelas. Hahahahaha…ahahahaha…. Miss all those crazy moment!!!

ImageNext, adalah peserta paling berpengaruh dalam kelas kami. Ia sangat dewasa dan mempunyai jiwa kepemimpinan yang tak diragukan lagi… Yaaaa, PNS di lingkup Kementerian Kehutanan Makasar yang bernama lengkap Wahyuni Thamal dan biasa dipanggil mbak Nhuni ini merupakan pribadi yang cekatan, ringan dan tak banyak neko-neko terutama dalam urusan yang berkaitan dengan kegiatan wisata, tur, maupun untuk penampilan kami di malam Barbeque Party lalu. Semua kami memanggilnya dengan sebutan Mrs. Boss, secara jika mbak Nhuni sudah bersuara maka seisi kelas pasti tak banyak komentar. Hal ini terjadi bukan lantaran kami takut atas titah beliau, tapi itu karena kami sangat menghormati mbak Nhuni dengan ide-idenya yang cemerlang dan ketangkasannya dalam menanggapi setiap permasalahan yang kelas kami hadapi. Saya sangat beruntung karena selalu dipanggil anak oleh mbak Nhuni sehingga kadang tingkah saya semakin usil. Ia juga punya selera humor yang lumayan, yang sering Ia tunjukkan dengan melayangkan joke-joke ringan kepada instrktur kami. Saya bahkan sering senyum sendiri saat mengingat soal itu. Dalam urusan IELTS, walau beliau mengalami kendala dalam speaking tetapi Ia sangat positif untuk terus memperbaharui diri sehingga bisa sukses di tes IELTS di akhir PDT kami dan apa yang tejadi? Mbak Nhuni berhasil menaklukan speaking testnya dengan baik. Two thumbs up mbak Nhuni!!!!

 

ImageTeman saya yang terakhir di grup 3 bulan B ini adalah seorang wanita manis asal Jogja yang sangat lembut suaranya saat berbicara. Ia bernama Savitri Wulan atau yang akrab disapa mbak Wulan. Pribadinya yang dinamis, setia kawan, careful dan keibuan membuatnya istimewa dalam kelas kami. Kebetulan saya satu grup studi bersamanya sehingga lumayan dekat dengan mbak Wulan. Biarpun kadang Ia merasa pesimis atas progressnya selama mengikuti PDT 3 bulan itu, Ia berhasil menyelesaikannya dengan baik. Ia sempat merasa terpuruk dan kehilangan motivasi saat bergumul dengan extended essay dan discussion paper. Namun, dengan ambisi dan tekad yang sudah bulat semenjak awal untuk bisa bertahan di PDT inilah yang akhirnya membawanya sukses di dua tugas besar untuk sesi EAP (English for Academic Purposes) itu. Dalam hal pergaulan sehari-hari, mbak Wulan termasuk yang suka mengerjai saya, yaaa dialah devil advocate di kelas kami yang selalu punya bahan untuk diperdebatkan di antara kami. Ia memang ahli dalam memancing kami untuk masuk dalam permasalahan kecil yang sengaja Ia ciptakan. Saya pribadi kagum dengan mbak yang satu ini, selain selalu menjadi tempat sharing atas berbagai hal (walau sering mem-bully saya LOL), Ia juga selalu proaktif memberikan masukan atas diskusi-diskusi kecil yang terjadi dalam kelas kami. Senang berkenalan dengan orang-orang hebat, salah satunya Mbak Wulan.

 

 Picture 842_1

Demikianlah rangkaian deskripsi singkat saya mengenai keluarga kecil yang telah mewarnai hari-hari saya selama mengikuti Pre-Departure Training di IALF Denpasar beberapa bulan kemarin. Kini, kami semua sedang disibukkan dengan urusan administrasi dan persiapan keberangkatan kami. Sampai bertemu lagi di Aussie kawan-kawan. Bangga punya sahabat seperti kalian.

Finger crossed for our future study plan  . . .

 Dan tak lupa, inilah master piece kebersamaan kami selama 90 hari di IALF Denpasar.

 

Kehangatan Rumah

Hari ini tepat 10 hari berada di rumah merasakan kembali kehangatan yang sekian lama saya tinggalakan. Rumah ini masih dengan kehangatannya seperti dulu, akhirnya setelah sekian lama berpetualangan jauh, malam ini saya kembali duduk bersantai sambil ditemani secangkir teh hangat di teras yang dulu selalu menjadi tempat bersantai di kala gelap menyongsong. Home sick yang selama ini mendera akhirnya sirna seketika. Betapa tidak, kembali bersenda gurau dengan papa, mama dan saudara-saudari seperti mengobati rindu selama ini. Iya, senang bukan main, waktu dua bulan yang akan saya habiskan bersama keluarga tercinta ini memang tiak akan saya sia-siakan mengingat kurang lebih dua bulan lagi saya akan kembali berpetualangan menjemput mimpi yang selama ini saya impi-impikan, mimpi yang sedikit lagi menjadi kenyataan. Dua tahun yang akan saya hadapi nanti sangat ditentukan dengan dua bulan bersama keluarga ini, karena bagi saya merakalah MATAHARI saya, yang selalu mendukung, memotivasi bahkan menopang saya ketika saya rapuh dan kebingungan melangkah dengan berbagai tantangan yang menghadang. Berkat doa dan dukungan merekalah, jalan saya bisa mulus hingga menghitung hari menuju keberangkatan saya menuju Negeri Kangguru. Betapa luar biasa Engkau, Yesus, Kau bimbing saya hingga ke air yang tenang, walalu banyak masalah silih berganti tapi DIA tetap menguatkan iman dan pengharapan saya. Syukur ini memang tak henti-hentinya saya naikan, untuk Dia yang selalu dengan setia membimbing setiap derap langkah menjemput mimpi ini.

Hari ini beberapa urusan penting seputar keberangkatan saya telah saya bereskan, di antaranya adalah memastikan temporary accommodation yang akan saya gunakan setiba di Aussie tanggal 13 Januari mendatang. Saya beruntung karena untuk mendapatkan akomadai sementara ini, saya dibantu oleh seorang senior, k Mikson Lakidang; AAS Awardee 2012, yang kini tengah belajar di kampus yang akan saya tuju juga yaitu University of Melbourne. Beliau berhasil tanggap dengan email yang sengaja saya layangkan ke email grup alumni IALF untuk menanyakan bantuan seputar akomodasi sementara ini dan bersedia membantu saya untuk mencari tempat tinggal sementara ini. Setelah menunggu sehari akhirnya K Mike (demikian nama panggilannya) mengirimkan pesan singkat untuk secara mengecek whatsapp dan e-mail karena beliau baru saja mendapat sebuah kamar fully furnished yang sangat convenient di bilangan Moreland, Victoria. Rasa senang luar biasa menghampiri saya siang tadi, secara saya sempat kebingungan karena sudah harus dapat akomadasi sebelum tanggal 18 November pukul 4 pm, mengingat alamat tempat tinggal ini harus saya sertakan dalam sebuah form yang harus dilengkapi dan dikumpulkan kembali kepada ibu Reisa; Manager AAS yang menangani mobilisasi seluruh AAS Awardees menuju Aussie nanti.

Satu berita heboh lainnya hari ini adalah untuk pertama kalinya saya memasak untuk seantero rumah. Hmmmm, memang agak sedikit nekat saya mencoba tantangan salah satu sahabat saya untuk segera belajar masak sebelum ke Assie nanti.  Di depan saya, sore tadi tersedia sepiring ikan terbang segar, kira-kira ada belasan ekor, seplastik tahu, semangkok tomat dan beberapa potong bawang putih dan bawang merah. Dengan berbekal modal nekat, ikan-ikan itu saya bersihkan dan tahu-tahu itu saya potong menjadi dua bagian membentuk segitiga. Opss jangan salah sangka dulu, saya tidak menggunakan penggaris atau semacamnya, saya hanya memotong membagi dua tahu yang berukuruan seperti kubus itu menurut diagonalnya sehingga saya peroleh dua buah potongan berbentuk segitiga. Tomat-tomat yang ada, saya cuci kemudian saya potong halus, begitpun halnya bawang putih dan bawang merah itu. Tahap berikutnya adalah sesi penggorengan. Sesi ini rupanya sesi yan paling seru sebab dapur menjadi heboh dengan suara ikan-ikan yan bereaksi dengan minyak panas yang ada di wajan. Hmm….. setelah lewat beberapa menit tidak terasa semua ikan sudah beres saya goreng, segera saya hidangkan di atas meja makan. Lumayan, warnanya begitu menggoda, apalagi aromanya. Berikutnya adalah giliran tahu untuk masuk ke dalam penggorengan. Dalam hitungan menit, tahu-tahu itupun selesai saya goreng. Tahap selanjutnya adalah membuat bumbu tomat. Sempat konsultasi sedikit dengan mama, akhirnya tahu balik tomat ala seluz itu pun jadi. Lega rasanya plus rasa senang bukan main. Serta merta saya persilahkan, bapa untuk mencicipi masakan karya perdana saya malam itu dan tebak bapak saya makan dengan lahap, katanya tahu buatan saya itu sangat enak. Serius???? Masih ragu, saya mengajak Jessie, adik saya yang memang sangat jago masak itu untuk sekedar mencicipi tahu hasil eksperimen saya. Ia pun mengatakan hal yang sama, enak, cuman kurang garam tapi sedikit. Nah, ini yang saya butuhkan. Tapi katanya, untuk ukuran pemula, sudah lumayan, tinggal coba menu lain. Menu Lain???? Oaaaalllllaahhhh… sabar dulu, Harus banyak bereksperimen dulu. Ya….. setidaknya saya sudah mencoba, sehingga jika harus masak di Aussie nanti, saya punya sedikit bekal.

Berbagi Tips Wawancara dan IELTS bersama Pelamar AAS yang Shortlisted 2013 – Briefing: 3 Desember 2013

Hari Selasa, 3 Desember kemarin akan menjadi salah satu hari yang akan selalu saya kenang sepanjang hidup saya. Pasalnya, di hari itu terjadi beberapa momen penting dan sangat berkesan. Ya…hari kedua saya di Kupang, tepatnya setelah beberapa minggu menghabiskan waktu di Atambua bersama keluarga setelah selesai PDT di Denpasar beberapa waktu lalu, merupakan hari sibuk kedua membereskan dokumen-dokumen yang harus dilegalisir di Undana dan notaris. Saya kembali ke kota karang itu dengan tujuan menyelesaikan urusan yang berkaitan dengan persiapan keberangkatan saya Januari 2014 nanti terutama yang berhubungan dengan dokumen penting yang harus dibawa serta ke University of Melbourne, diantaranya ijasah dan transkrip nilai. Walaupun legalisir transkrip saya belum dapat saya selesaikan mengingat proses yang dtetapkan sekarang butuh waktu paling cepat 3 hari dan saya tidak bisa berlama-lama di Kupang, maka akhirnya sayapun harus meminta bantuan salah satu teman saya untuk mengambil dokumen saya tersebut. Karena Ia bersedia membantu saya, maka saya pun bisa kembali ke Kupang malam itu juga.

Namun, sebelum pulang ke Atambua, saya masih punya agenda penting lainnya, yaitu menghadiri acara briefing tahap wawancara dan tes IELTS bagi pelamar AAS yang berhasil lolos tahap pertama (shortlisted) untuk wilayah NTT tahun 2013 yang berlangsung di salah satu kafe baru bernama Celebes di belakang Gedung Golkar, Walikota, Kupang. Informasi mengenai diadakannya briefing ini saya ketahui dari salah satu kawan saya yang juga awardee AAS 2012. Walaupun cuaca kota Kupang siang itu kurang begitu bersahabat sebab diguyur hujan yang begitu lebat, saya dengan ditemani Donna Rade; salah satu alumni ELTA II NTT dan awardee AAS 2012, dan Erny Manlea; dosen muda Unimor Kefa yang juga Alumni ELTA II NTT dan awardee AAS 2013. Meskipun Erny harus berbasah-basahan, semangat kami untuk bergabung dalama acara briefing ini memang sangat membara sebagai bentuk tanggung jawab dan partisipasi mendukung teman-teman yang sudah berhasil melewati tahapan seleksi bagian pertama beasiswa AAS 2013.

Acara pembekalan bagi pelamar yang akan mengikuti tes wawancara dan IELTS bulan Januari mendatang berlangsung sangat komunikatif dan lancar. Sepengamatan saya, semua peserta kegiatan tampak antusias mengikuti penjelasan yang diberikan oleh pemateri siang itu, yang tidak asing lagi bagi saya dan beberapa peserta, yaitu pak Yos Sudarso, yang sudah sering menghandle acara serupa di tahun-tahun sebelumnya.  Hampir sebagian peserta kelihatan familiar bagi saya sebab sebagian besar merupakan peserta ELTA IV, beberapa partisipan aktif di Kelas Berburu Beasiswa ala FAN-Forum Akademia NTT- (BBaF) sewaktu saya menjadi ketua kelas, dan beberapa diantaranya adalah rekan dosen kontrak di Undana dan dosen saya waktu S1 dulu. Momen ini memang terasa sangat hangat, seperti acara reuni besar, secara semua kelihatan tenggelam dalam percakapan yang sangat akrab.

Tapi sebentar, mengapa briefing siang itu sangat berkesan bagi saya? Apakah hanya karena bisa bertegur sapa dengan teman-teman yang sudah lama tidak bertemu? Hmmm…. Ya siang itu memang hari yang spesial. Keistimewaan siang itu memang awalnya cukup membuat jantung saya berdegup sangat kencang dan cukup mengagetkan. Betapa tidak, saya didaulat mewakili awardee AAS 2012 yang akan berangkat ke Aussie Januari 2014 nanti untuk menyampaikan pengalaman seputar wawancara JST (Join Selection Team) AAS 2012 lalu. Rasa  grogi yang luar biasa memang sempat menghinggapi saya ketika pak Yos spontan meminta kesediaan awardee yang hadir untuk sharing kepada rekan-rekan yang akan menempuh seleksi tahap kedua AAS 2013, akan tetapi dengan tenang saya pun tampil ke depan dan mulai satu per satu bernostalgia pengalaman seputar wawancara JST tahun lalu. Sebelum saya, Ibu Pegi, yang tidak lain adalah alumni AAS sudah terlebih dahulu menyampaikan pengalamannya, jadi tugas saya siang itu sebenarnya melengkapi informasi yang sudah disampaikan oleh Ibu Pegi. Dengan suara yang menurut saya agak grogi, saya mencoba menambahkan beberapa informasi penting yang perlu dipersiapkan agar bisa sukses dalam  wawancara AAS berdasarkan pengalaman yang saya peroleh kemarin.

Dalam pidato singkat saya itu (cieeeee……), saya coba menyoroti beberapa hal krusial diantaranya:

  • Pentingnya persiapan yang matang sebelum masuk ke dalam ruang wawancara. Persiapan yang saya maksudkan di sini adalah penguasaan terhadap aplikasi yang telah dikirim sebelumnya. Saya pribadi sempat berusaha menghafal  apa yang sudah saya tulis dalam form aplikasi dengan juga memahami apa yang saya hafal dan terkadang sedikti berimprovisasi dalam menjawab sehingga tidak terkesan menghafal. Saya pikir kita perlu sedikit berakting kecil-kecilan dalam sesi wawacara. Akting yang saya maksudkan di sini bukan untuk membuat cerita bohong sewaktu mengelaborasi jawaban kita akan tetapi lebih mengarah kepada intonasi, ekspresi dan mimik kita sewaktu misalnya mendapat pertanyaan yang tidak kita duga sebelumnya. Untuk itu saya menganjurkan untuk mempraktekkan sesi wawancara dengan teman yang bisa dipercaya. Tahun lalu saya dan beberapa teman bahkan sepakat untuk menelpon sesama kami di waktu yang tidak kami sangka-sangka untuk bertanya apa saja yang berkaitan dengan aplikasi. Waktu itu kami lebih fokus terhapat 4 pertanyaan utama dalam supporting statements form aplikasi.
  • Berusaha memberikan good impression kepada para pewawancara tim JST. Hal ini perlu sebab team JST mewawancarai beribu-ribu peserta dan agar bisa diingat oleh mereka adalah dengan menarik perhatian mereka dengan cara berpakaian yang rapi dan mungkin dengan membawa alat atau sesuatu yang bisa membuat kita berbeda dengan peserta lain. Nah, untuk dapat menjadi yang berbeda tiap orang tentu punya cara sendiri-sendiri. Beberapa teman saya tahun lalu mengenakan pakaian dengan bahan dasar kain tenunan asli dari NTT, adapula yang membawa alat peraga, tetapi sebagian besar di antara kami memilih untuk memanfaatkan kesempatan bertanya yang diberikan team JST kepada kami. Biasanya pewawancara akan memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya kepada mereka di akhir sesi wawancara. Ini bisa menjadi kesempatan emas bagi kita untuk memberikan kesan kepada mereka. Saya bahkan sempat sharing pengalaman ditanya, cuman saya tidak bertanya tetapi hanya berandai-andai, “jika saya diberkan kesempatan tahun depan belajar ke Aussie harapan saya adalah bisa melihat kangguru secara langsung”, begitu kalimat saya di akhir sesi wawancara JST tahun lalu.
  •  Selain wawancara, peserta shortlisted juga akan mengikuti tes IELTS untuk  menentukan berapa lama di Bali nanti. Saran saya, jangan meremehkan tes IELTS karena berdasarkan pengalaman saya, beberapa teman saya pernah berpikir bahwa yang terpenting adalah wawancara. Adapula yang berpikir sebaliknya, tetapi saya pikir kedua-duanya penting sehingga peserta perlu fokus kepada kedua hal itu.

Itulah tiga hal penting yang saya sampaikan di kesempatan siang hari itu. Rasa bangga menyelimuti saya sebab saya dapat berdiri dengan percaya diri (yaaa walaupun terlihat gugup) menyampaikan pengalaman saya. Saya sangat senang juga sebab pelamar yang shortlisted dari NTT tiap tahun semakin bertambah, jika tahun lalu ada 69 peserta yang shortlisted, tahun 2013 ini ada 76 putera-puteri terbaik NTT yang berhasil sampai ke tahap wawancara JST dan tes IELTS. Rasa bangga yang luar biasa juga adalah ketika kita berdiri dan sharing pengalaman kepada teman-teman yang sudah sangat kita kenali, yang tahu betul perjuangan hidup dan perjuangan kita hingga sampai mendapat beasiswa, apalagi yang sedang mendengar kita itu adalah juga dosen-dosen kita yang pernah membimbing kita sewaktu kuliah S1 dulu. Rasa bangga dan bahagia yang luar biasa memang menghinggapi saya siang itu.
Satu harapan saya, semoga teman-teman basodara yang sudah sampai di tahap ini bisa melakukan persiapan terbaik mereka sehingga bisa menjemput mimpi mereka kelak.

Acara siang itu diakhiri dengan sesi menonton video seputar hal-hal krusial yang perlu diperhatikan dalam wawancara. Sehabis sesi video ini pun, acara siang itu selesai. Saya pun menuntaskan janji dengan beberapa teman yang ingin mengcopy file-file yang berkaitan dengan tes IELTS dan bercerita dengan salah satu dosen senior Undana yang sangat luar biasa, Ibu Cathrin Behar yang juga lolos seleksi tahap pertama untuk melanjutkan studi ke jenjang Ph.D dan  Sandra Frans, blogger, penulis sekaligus dokter muda yang kini mengabdikan diri di Kabupaten TTS serta Indri Takesan; seorang fresh graduate yang juga adalah peneliti muda di IRGSC Kupang, NTT.

Hari yang sangat luar biasa!!!!!