Berbagi cerita tentang wawancara dan test IELTS (Pengalaman Olyvianus Dadi Lado Saat Wawancara dan Test IELTS : Australia Development Scholarship 2011)

Salam hangat buat semua basudara yang sudah lolos seleksi administrasi beasiswa AAS. Perjuangan masih berlanjut, masih ada tahapan-tahapan selanjutnya yang harus teman-teman tempuh dan yang paling terdekat adalah wawancara dan test IELTS. Karena itulah saya sebagai seorang yang pernah melewati tahapan itu ingin membagikan pengalaman saya kepada teman-teman. Perlu diingat, setiap orang yang pernah mendapatkan beasiswa ADS atau sekarang bernama AAS pasti memiliki pengalaman yang berbeda-beda, karena itu pengalaman yang saya bagikan ini bukanlah sebuah pedoman baku dalam menghadapi sebuah wawancara dan test IELTS.

Ketika mendapatkan kabar bahwa saya masuk shortlist penerima beasiswa ADS pada Desember 2011, mungkin sama seperti teman-teman saat ini, saya juga sangat gembira dan bahagia. Tapi, saya lalu sadar bahwa satu tahapan penting lainnya masih menghadang di depan, yaitu wawancara dan test IELTS. Ada beberapa hal yang hendak saya kemukakan di sini antara lain tentang wawancara dan tim pewawancaranya, juga tentang beberapa kemungkinan pertanyaan yang akan muncul saat wawancara, persiapan kandidat, dll.

Untuk wawancara seleksi penerima beasiswa ADS, biasa dilakukan oleh tim gabungan dari Australia dan Indonesia. Satu tim wawancara terdiri dari dua orang. Rata-rata pewawancara ini adalah yang sudah profesor dibidangnya masing-masing, dan mereka beragam latar belakang ilmunya. Lagipula, mereka juga sudah memiliki pengalaman mewawancarai ribuan bahkan mungkin puluhan ribu kandidat karena itu mereka bisa dikatakan sudah memahami betul bagaimana menanyai dan menyelidik setiap kandidat. Lebih dahulu mengenal tentang tim yang akan mewawancarai kita mungkin akan sangat membantu kita dalam persiapan. Contohnya, pengalaman saya ketika itu, saya mendengar bahwa salah satu pewawancara yang akan ke Kupang adalah ibu Rosmalawaty. Menurut kabar yang saya dengar ia sudah sangat lama terlibat dalam urusan ini. Saya juga dengar bahwa ia adalah seorang peneliti yang sudah sering melakukan penelitian di banyak daerah, karena itu saya duga ia juga sedikit atau banyak pasti cukup paham terhadap persoalan yang ada di daerah seperti NTT. Nah benang merahnya adalah, jika ia paham atau tahu tentang persoalan di daerah saya di NTT, maka saya harus lebih tahu dari dia, terutama yang berhubungan dengan apa yang sudah saya tulis dalam aplikasi saya ketika melamar ADS. Ini menunjukan bahwa sebagai kandidat, kita benar-benar siap dan tidak hanya sekedar mengisi aplikasi tapi juga memiliki hasrat dan niat untuk mengubah tantangan dan persoalan di daerah itu menjadi peluang. Ingat, jangan sampe panelis justeru lebih tahu informasi terkini terkait persoalan dan tantangan di daerah kita terutama yang berkaitan langsung dengan isian aplikasi kita.

Mungkin banyak orang sebelum memasuki tahapan wawancara akan bertanya-tanya dan menduga-duga apa saja pertanyaan yang akan diajukan panelis nanti dan ketika itu sayapun demikian. Menurut pengalaman saya dan beberapa cerita teman-teman sesama penerima ADS, umumnya pertanyaan inti dalam awawancara tak akan jauh dari apa yang sudah kita tulis dalam aplikasi kita. Sebagai contoh, pertanyaan yang saya dapatkan pada waktu wawancara kala itu antara lain: 1. Ceritakan tentang diri anda. 2. Mengapa anda memilih untuk belajar ke Australia? 3. Apa yang akan anda lakukan setelah selesai pendidikan nanti? 4. Apa manfaat beasiswa ini bagi anda, daerah anda dan negara anda? Dan masih banyak lagi pertanyaan susulan dari panelis tergantung jawaban yang akan kita berikan. Ingatlah, wawancara seleksi beasiswa ini tak jauh bedanya dengan wawancara ketika kita melamar sebuah pekerjaan. Tahapan wawancara menurut saya adalah sebuah tahapan dimana panelis ingin menggali lebih jauh dan dalam tentang apa yang sudah kita tulis dalam aplikasi lamaran kita. Dengan kata lain ia bisa dikatakan semacam verifikasi atas lamaran yang sudah kita ajukan. Karena itu, penting bagi kandidat untuk benar-benar menguasai isian aplikasinya.

Untuk bisa menguasai betul aplikasi kita, tak ada cara lain selain mempelajari ulang aplikasi kita dan berlatih. Mempelajari ulang aplikasi kita bisa dilakukan dengan banyak cara, seperti menghafalnya. Ada kandidat yang betul-betul menghafal isian aplikasinya dan berhasil. Namun tak semua bisa seperti itu. Menguasai aplikasi juga berarti tak sekedar menghafalkannya tapi juga memahaminya. Mungkin akan lebih baik jika saat menjawab pertanyaan panelis kita bisa mengambangkannya sehingga tak persis sama titik, koma, kata dan sebagainya tapi sama dalam substansinya atau dengan kata lain kita paraphrase jawaban dalam aplikasi itu sehingga tak terkesan menghafal dan lebih terkesan natural. Bagi saya sebuah wawancara akan sangat natural ketika wawancara itu kemudian bukan lagi tanya jawab tapi sebuah diskusi atau dialog atau obrolan. Untuk bisa mencapai kondisi yang “natural” itu hanya ada satu cara yakni berlatih wawancara.

Berlatih wawancara, berdasarkan pengalaman saya, ada dua cara. Pertama, berlatih dengan teman. Siapapun bisa menjadi teman latihan kita. Bisa teman sesama kandidat, para alumni ADS, saudara, pacar, isteri, suami, dll. Semakin sering kita berlatih, semakin kita menguasai aplikasi. Semakin beragam teman latihan, semakin luas dan kaya pemahaman kita akan aplikasi kita karena pertanyaan dan cara bertanya merekapun pasti beragam. Kedua, berlatih sendiri. Caranya sederhana, setiap hari berdiri atau duduk didepan cermin dan mulai kita mewawancarai diri kita sendiri. Cara kedua ini selain melatih kita menguasai aplikasi juga membantu kita untuk berlatih ekspresi tubuh, mimik wajah dan intonasi nada (untuk latihan intonasi nada akan baik jika kita merekamnya).

Mengapa eksresi tubuh, mimik wajah dan intonasi nada penting? Ada beberapa alasan mengapa saya anggap beberapa hal ini penting. Pertama, harus diingat bahwa panelis adalah repsentasi pemberi beasiswa dan kita sebagai pelamar beasiswa karena itu penting bagi kita untuk bisa memberikan impresi bagi mereka. Saya bukan mengajak untuk kita menjadi sosok yang munafik tapi ekspresi kita saat wawancara itu sedikit banyak ikut menunjukan seberapa passion atau hasrat kita untuk mendapatkan beasiswa itu. Contohnya, coba teman-teman perhatikan bagaimana ekspresi wajah, tubuh dan intonasi nada seseorang (dewasa dan anak kecil) saat mereka menginginkan sesuatu yang mereka idamkan atau taruhlah ekspresi orang saat bicara tentang hobby mereka. Apakah ada yang wajahnya tak berseri-seri? Apakah ada yang tubuhnya diam dan kaku? Apakah ada yang nada suaranya datar-datar saja? Jika teman-teman mendapatkan lawan bicara seperti itu apa kesan kalian? Bandingkan dengan lawan bicara yang ekspresi wajahnya berseri-seri dan penuh semangat, yang tubuhnya tak kaku dan diam sepanjang pembicaraan atau yang nada suaranya dinamis. Kedua, panelis tak hanya mewawancarai satu atau dua orang saja, tapi banyak orang. Apakah yang menjamin mereka mengingat kita jika tak ada sesuatu yang berkesan dalam benak mereka tentang kita? Mereka juga manusia yang bisa merasa lelah, dan jika lelah tentu akan berpengaruh pada mood adan daya ingat mereka. Karena itu bagi kandidat seberapa dalam anda memberi kesan bagi panelis akan ikut menyumbang terhadap penilaian kelayakan anda untuk lolos dan tidaknya, terutama bagi kandidat yang mendapat giliran wawancara pada jam-jam terakhir dan hari terakhir wawancara. Pada saat itu panelis sedang dalam puncak kelelahan sehingga kemungkinan besar mereka sedang dalam bad mood, nah pada suasana seperti ini, tampillah sebagai lawan bicara yang bisamembangkitkan semangat mereka.

Salah satu pertanyaan yang cukup sulit saya jawab pada waktu saya diwawancarai adalah pertanyaan “Apa yang membuat anda yakin bahwa anda layak untuk mendapat beasiswa ini? Bagi saya ini pertnyaan sulit karena, saya tak biasa menonjolkan diri atau tidak dibiasakan oleh lingkungan dan keluarga untuk menonjolkan diri, sekalipun saya tentunya pada satu sisi suka sekali pujian. Tapi entah mengapa, ketika ingin mengatakan bahwa saya bisa A, bisa B dst, saya seolah merasa bersalah dan kuatir dikatakan sombong dan mengagulkan diri sendiri. Sebenarnya, pertanyaan ini adalah ujian untuk mengetahui seberapa besar kepercayaan diri kita dan seberapa besar kita menghargai diri sendiri. Maka itu, jika teman-teman mendapatkan pertanyaan semacam ini, janganlah sungkan dan malu untuk menjawabnya, teman-teman harus menjawab dengan penuh percaya diri.

Aspek lain yang perlu dipersiapkan sebelum memasuki tahapan wawancara adalah pengetahuan akan isu-isu dunia terkini. Contohnya, hubungan Indonesia dan Australia, isu asylum seeker, isu perang di Syria, bahkan kematian Nelson Mandela. Ada beberapa teman saya pada waktu lalu bahkan sampai mengetahui jarak antara kota tujuannya dia dengan ibu kota, nama-nama menteri di Australia, dsb. Memang tak semua informasi tersebut akan ditanyakan, tetapi tidak ada salahnya juga jika kita ‘menyiapkan payung sebelum hujan’ kan?

Hal terakhir yang ingin saya bagikan di sini terkait wawancara adalah soal penampilan fisik teman-teman. Menurut saya akan baik jika anda berpakaian yang rapi. Tidak harus terlalu formal, tapi kesan rapi harus tetap dijaga. Jika punya baju dengan motif tenun khas NTT, boleh juga dipakai, mungkin bisa menarik perhatian panelis.. Oh iya, harus diingat bahwa sekalipun dalam briefing sebelum wawancara nanti dikatakan bahwa kandidat boleh menggunakan bahasa Indonesia, tapi pengalaman saya ketika diwawancarai panelis mengharuskan saya untuk menggunakan bahasa Inggris. Tapi teman-teman jangan kuatir dan gugup, berbicaralah selancar mungkin dan jangan terbeban dengan benar atau salah grammar anda. Ingatlah, wawancara bukan speaking test dalam IELTS. Yang dibutuhkan dalam wawancara adalah penyampaian informasi, sejauh panelis mengerti maksud penyampaian anda, maka anda bolehlah berlega hati, karena tak menilai seberapa akurat grammar anda.

Sekarang saya akan berbagi tentang test IELTS. Test IELTS bagi teman-teman yang sudah mengikuti ELTA mtentu tak asing lagi. Tapi bagi mereka yang belum pasti cukup asing. Test ini secara umum terbagi atas empat ketrampilan dasar yakni, Listening, Reading, Writing dan Speaking. Saya tak akan membahas secara khusus tentang apa dan bagaimana itu test IELTS, dan itu tugas teman-teman alumni kelas berburu beasiswa ala FAN di Kupang seperti Seluz Fahik, dkk yang akan menjelaskannya. Yang akan saya ketengahkan disini adalah persiapan untuk test IELTS. Ada sebagian menganggap test IELTS tak sepenting wawancara. Bagi saya, keduanya sama penting. Karena itu perhatian dan persiapan teman-teman juga harus diarahkan pada keduanya. Test IELTS saat sebelum atau sesudah masa wawancara ADS ini akan digunakan sebagai dasar pijak untuk penentuan seberapa lama teman-teman yang lolos akan mengikuti Pre-departure training (PDT) di Bali. Semakin bagus skor IELTS teman-teman, maka semakin pendek usia kursus persiapan teman-teman. Yang paling lama usia PDT adalah 9 bulan. Jika, skor IELTS anda tak mencapai 5.0, tapi lolos wawancara, maka ada kemungkinan anda akan diberi kursus selama 3 bulan untuk mengejar target IELTS 5.0 sehingga bisa bergabung dalam PDT kelas 9 bulan dan jika tidak juga mencapai target itu maka anda akan didiskualifikasikan. Karena itu test IELTS ini juga sama pentingnya dengan wawancara.

Berdasarkan pengalaman saya untuk bisa menghadapi test IELTS dengan percaya diri, hanya ada satu jalan yakni berlatih mengerjakan contohcontoh soal IELTS. Untuk bisa mendapatkan contoh-contoh, saya mohon teman-teman alumni ELTA dan alumni PDT untuk bantu. Pertama, untuk latihan listening, selain berlatih mengerjakan soal-soalnya, berdasarkan pengalaman saya, untuk meningkatkan kemampuan pendengaran saya maka saya menggunakan file audio soal-soal listening itu sebagai pengganti lagu pengantar tidur, dengan demikian ketika test IELTS telinga saya tak lagi asing dengan aksen, dialek percakapan dalam soal-soal listening test. Kedua, untuk latihan reading test, selain berlatih mengerjakan soal-soalnya. Saya juga menyediakan waktu selama 1-2 jam setiap malam untuk membaca artikel-artikel berbahasa Inggris, sekalipun lebih banyak tak mengertinya tapi ia membantu mata saya akrab dengan teks berbahasa Inggris, sehingga ketika test IELTS mata saya sudah terbiasa dan membantu saya menghemat waktu ketika mengerjakan soal-soal berdasarkan artikel pendek dalam bahan test tersebut. Ketiga, untuk latihan writing, pengalaman saya selain indikator akurasi grammar yang dinilai juga, aliran ide, kohesi, koheren dan transisi antar ide. Karena itu wawasan anda juga ikut berkontribusi dalam kelancaran menulis anda. Selain banyak berlatih menulis, saya menyarankan untuk banyak membaca contoh-contoh essay pendek IELTS yang bisa didapat dengan bantuan ‘mbah’ Google. Satu indikator yang juga penting adalah jumlah kata yang disyaratkan. Untuk writing task 1 tidak boleh kurang dari 150 kata dan writing task 2, tidak boleh kurang dari 250 kata. Lebih baik kelebihan jumlah kata dari pada kurang. Keempat, latihan speaking. Nah untuk yang satu ini, anda butuh teman berlatih, karena itu sebaiknya selain latih wawancara, saat kelas BbaF, juga dilakukan latihan speaking menggunakan soal-soalnya yang bisa didownload dari internet. Semakin sering anda berlatih speaking semakin anda terbiasa sehingga tak gugup saat test.

Apa yang sudah saya paparkan ini, saya akui tak cukup, tapi mungkin bisa dipakai sebagai bahan untuk teman-teman mempersiapkan diri secara baik. Di atas semua hal yang sudah saya paparkan, ada satu hal yang palingpenting dan utama yakni, jangan lupa untuk berdoa setiap kali latihan, setiap malam, sebelum dan sesudah wawancara. Lakukanlah yang terbaik dan pasrahkan sisanya kepada Yang Kuasa. Selamat berlatih dan mempersiapkan diri. Good luck for all of you guys. God Bless Us.

Dari kampung Bruce, pojok kota Canberra

Olkes

Olyvianus Dadi Lado yang akrab di sapa Olkes. Sumber: Courtesy Facebook Fehan Oan

Olyvianus Dadi Lado yang akrab di sapa Olkes. Sumber: Courtesy Facebook Fehan Oan

*NB: Tulisan di atas adalah hasil garapan K Olkes; salah seorang ADS ( sekarang telah berganti nama menjadi AAS) recipient ynag kini tengah studi International Development di University of Canberra. Tulisan ini Ia (red Olkes) posting di akun facebook  sebuah grup bernama Berburu Beasiswa ala FAN – Forum Akademia NTT. FYI, K Olkes sendiri adalah ketua kelas pertama kelas diskusi ini sekaligus sebagai perintis didirikannya forum kecil bagi para pemburu beasiswa dari Nusa Tenggara Timur ini.

Advertisements

3 thoughts on “Berbagi cerita tentang wawancara dan test IELTS (Pengalaman Olyvianus Dadi Lado Saat Wawancara dan Test IELTS : Australia Development Scholarship 2011)

  1. Pingback: Berbagi Tips Wawancara AAS – Australia Award Scholarship | Somewhere in the Vicinity of Infinite Thoughts

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s