It Just The Beginning : The First Exciting Week Stepping My Foot in Melbourne

Saya tidak pernah merasa luar biasa seperti 5 hari belakangan. Ya, sudah hampir seminggu ini saya selalu dihantui dengan rasa antusias yang luar biasa (terutama update foto-foto ke Instagram, ahahahaha…. narsis sekali saya minggu ini LOL) dan ini pertama kalinya saya merasakan hal sperti ini dalam hidup saya. Mungkin hanya ada satu kata saja yang sudah menjawari perbendaharaan kata-kata 5 hari ini, ‘WOW’, ini dia satu kata simple yang main mengalir saja keluar dari mulut saya tanpa ijin bahkan permisi, maen nyelenong seenaknya. Hmmmm, betapa tidak, semua yang tersajai di depan mata memang umpan segar yang tidak bisa Ia lewatkan begitu saja. Semua indera hanya mampu takjub dan mengmandatkan si ‘mulut’ untuk menjadi satu-satunya media indikator betapa mereka diguncangkan dengan view yang tidak biasa. Hmmmm, saya sendiri bingung memulai cerita ini dari bagian mana, akan tetapi saya akan berusaha merangkum semua kisah itu dalam tulisan ini (mudah-mudahan tidak ada yang terlewati).

Perjalanan ke Melbourne – Australia ini memang merupakan perjalanan ke luar negeri saya yang pertama kali. Banyak sekali hal baru yang saya alami sepanjang perjalanan hingga akhirnya menginjakkan kaki di negeri impian ini. Mula dari pengalaman pertama terbang bersama Qantas Airways selama berjam-jam di udara hingga cerita seputar adjusting process yang saya alami selama seminggu di tempat tinggal baru sebelum memulai serangkaian proses IAP – Introductory Academic Program – besok (Senin, 20 Januari 2014). Saya memulai perjalanan  dengan dihantar oleh Bapak saya dari Atambua ke Kupang. Seperti biasa saya menumpang bus Paris Indah langgagan saya sejak masih pulang balik Kupang-Atambua baik jaman kuliah hingga kerja kemarin. Perjalanan selama kurang lebih 7 jam itu kembali saya tempuh tapi dengan misi yang berbeda kali ini. Lumayan berat meninggalkan rumah dan seisi keluarga untuk terpisah selama 2 tahun. Apalagi waktu itu mama sempat menahan air mata saat melepas saya dan bapak dari Atambua. Huuufffttt kalau ingat momen itu saya jadi rindu dan ingin memeluk mama saat ini (Nah!! Ketahuan kalau anak mama ahahahahha). Tetapi rasa galau berpisah dengan keluarga cukup terobati dengan adanya bapak sepanjang jalan menuju Kupang. Beruntung sekali saya karena awalnya beliau juga tidak bisa mengantarkan saya ke Kupang karena di hari keberangkatan saya itu beliau harus mengikuti acara pelantikan pegawai kantor yang cukup penting; tidak bisa tidak hadir, namun ternyata acara itu ditunda dan Ia bisa menemani saya hingga ke Bandara El Tari Kupang. Kami menginap semalam di sebuah hotel kecil di bilangan Penfui sebelum keesokan harinya berangkat ke Denpasar. 

Saya meluangkan waktu di Denpasar selama 4 hari, menghabiskan waktu untuk mencari sisa perlengkapan yang harus di bawa serta ke Australia terutama konverter kaki tiga (kudu harus dibawa sebab semua coloka di Aussie lubangnya tiga, kalau tidak dibawa berarti susah sudah kalau mau charge hp dan satu lagi pasti lebih mahal harganya di Aussie), perlengkapan  seperti lotion sun block, sun glasses dan topi buat menghadapi Summer Heat yang membuat suhu di Melbourne naik drastis hingga 44 derajat celcius (begitu informasi yang saya dapat dari mentor saya dari Universitas Melbourne; mbak Lia Marpaung melalui email), dan yang tidak kalah penting adalah membuat kaca mata ( sekali lagi untuk menjaga-jaga kalau-kalu mata ini kembali minus selama di Oz, karena konsultasi mata dan membuat kaca mata sangat mahal dan tidak dikover oleh AusAid). Selain memebereskan semua barang-barang itu, saya juga meluangkan waktu untuk mengunjungi teman-teman AAS recipient lain yang sementara menyelesaikan PDT 9 bulan mereka (senang kembali berada di antara mereka). Berada kembali di IALF seperti memanggil kembali memori beberapa bulan pergumulan di Bali sebelum akhirnya berhasil diterima di Melbourne Uni.

Semua persiapan beres dan tibalah saya di hari keberangkatan. Sesuai tiket yang dikeluarkan oleh pihak AAS Jakarta, perjalanan saya ke negeri kangguru itu bermula dari Jakarta. Awalnya saya pikir kami yang memilih departure point dari Denpasar akan berangkat langsung dari Bali, tapi kami kembali digabungkan dengan semua AAS awardee yang memilih berangkat melalui Jakarta.  Dengan Garuda Airline, saya bersama salah seorang AAS recipient asal NTT yang juga memilih berangkat dari Bali; Enjel Ndoen, kami berangkat dari Bandara Internasional Ngurah Rai menuju Bandara International Soekarno Hatta untuk langsung melanjutkan perjalanan menuju Sydney (tapi berganti pesawat yaitu Qantas) dan finish di Melbourne.

Setiba kami di Sutta, kami langsung bergabung bersama student lain yang sudah menunggu sedari pagi di bandara karena hari itu Jakarta sedang dilanda bajir dashyat sehingga memaksa mereka untuk berangkat lebih awal sebelum waktu check in yang dimandatkan dalam tiket kami (jam 7.45 p.m). Mendadak suasana terminal internasional D2 heboh dan rame dengan teriakan kaget dan senang bisa bertemu lagi dengan teman-tema sekelas sewaktu masa PDT di BAli. Pelukan mewarnai suasana hangat sore itu. Saya hanya berdecak kagum meliha banyaknya student yang akan berangkat hari itu (14 Januari 2014). Selain yang mau ke Melbourne Uni ternyata students yang akan belajar ke JCU – James Cook University – dan Flinders University pun akan berangkat bersama-sama kami yang ke Melbourne Uni. Wahh….wahhhh semakin rame ini. Rupanya antrian check in sore itu didominasi oleh student Aussie penerima AAS. Setelah sabar melewati antrian panjang saya pun selesai mengamankan barang bawaan saya yang sangat minimalis dibandingkan dengan hampir semua teamn lain ke bagasi. Proses yang paling meneganggkan itupun saya mulai, proses pemeriksaan di bagian Imigrasi. Saya banyak mendapat cerita horor seputar prosedur yang cukup ketat. Di pintu pertama saya diperiksa kelengkapan check in seperti boardimg pass dan dokumen perjalanan saya. Ya, di pintu pertama ini prosesnya tidak teralu ribet apalagi mereka tahu kalau saya ini seorang student. Prosesnya cepat dan tidak bertele-tele. Setelah pak petugas itu memerikan cap di tiket dan mengecek visa, saya dipersilahkan masuk ke pemeriksaan berikutnya. Kali ini saya bisa melewati proses di gate kedua  menuju ruang tunggu ini dengan baik pula. Di sini saya harus melepaskan ikat pinggang karena terdeteksi mengandung logam. Hufffttt, memang semua harus bebas dari unsur yang berbau logam, saya sempat melirik seorang wanita yang tepat disebelah saya yang juga akan terbang bersama Qantas, Ia harus melepas sepatunya karena mengandung logam. “Hmmmm.…… begini to proses di imigrasi bandara”, gumam dalam hati saya. Satu lagi gate yang harus saya lewati untuk bisa duduk tenang menanti di ruang tunggu dan disinilah saya sedikit mengalami masalah. Pasalnya, saya lupa memasukkan lotion sun block (saya lupa, entah apa namanya) ke dalam koper bagasi saya. Sesuai aturan, semua bentuk cairan ang akan masuk ke dalam kabin haruslah tidak melebihi 100 ml. Tentu saja lotion yang sudah saya beli dengan niat yang luar biasa walausempat diguyur hujan di Denpasar waktu itu, harus saya tinggalkan di meja petugas. “Ah, sial”, rontak hati saya. Kesialan saya itu tidak berhenti di situ, sewaktu akan charge hp yang memang sudah tinggal nyawa itu, tebak apa yang terjadi, saya lupa membawa alat charge saya (yang belakangan ketahuan kalau ketinggalan di Bali). Pupus sudah harapan untuk menelpon orang rumah untuk sekedar mengabari mereka keberadaan saya. Pikiran saya semakin tidak karuan karena kebingungan bagaimana menghubungi senior saya yang sudah bersedia menungu di temporary accommodation di Melbourne. Mampussss  su ne!!!! Hahahha, tapi rupanya nasib baik masih menyertai saya, beruntung saya satu pesawat dan satu tujuan dengan Enjel, teman saya yang tadi saya sebutkan itu, sehingga saya mendapat bantuan darinya setiba di Tullamarine Airport, Melbourne. Saya bisa meminjam telepon selularnya untuk mengabari kedatangan saya di Melbourne.

Sebelum sampai di Melbourne, kami masih harus tansit di Sydney. Lumayan bisa singah dan mengginjakkan kaki di Sydney biar hanya sebatas di Bandara. Kurang lebih sejam kami bersabar menunggu di bandara Sydney dan di bandara inilah kisah lucu lainnya pun saya alami. Ya…. kisah pertama kali menggunaka toilet di luar negeri. Jika di Indonesia semua toilet dilengkapi dengan air , nah toilet di Aussie semuanya hanya dilengkapi dengan tissue. Jadi, waktu itu pertama kalinya menggunakan toilet yang ber-tissue. LOL

Tak lama, setelah sejam menunggu, kami pun sudah berada di pesawat Qantas lain yan akan membawa kami hinga ke Melbourne. Saat menaiki peswat perasaan saya semakin senag dan tak sabaran lagi untuk segera sampai ke Melbourne. Terbang dari Sydney pukul 10.00, kami pung tiba di Melbourne pukul 11.30. Karena terjadi guncangan yang luar biasa saat akan mendarat di bandara Melbourne, terpaksa kami harus sedikit bersabar di atas pesawat hingga jam 12.15 waktu setempat. Sekali lagi kesabaran kami diuji untuk tidak buru-buru menaoakan langkah kaki perdana di Melbourne. Menit terus berganti hingga akhirnya kami mendapat pengumuman untuk bisa meninggalkan pesawat. Saya dengan sabar mengikuti antria keluar pesawat dan ketika keluar saya dikagetkan dengan dengan pemandangan bandara yang tidak biasa dan super luar biasa. Suhu saat mendarat pun seolah tak mau kalah meramaikan hiruk pikuknya kami meliha sekeliling kami. Waktu itu suhu di Melbourne mencapai 43 derajat. Panasnya seolah membakar kulit. Di bandara kami sudah ditunngu oleh tim penjemput dari TOGOTO Australia – International Students – yang akan menghantarkan kami ke alamat tempat tinggal kami yang sudah kami berikan sebelumnya. Mereka membagi kami dalam kelompok-kelompok kecil yang menurut dugaan saya pembagian itu berdasarkan kesamaan arah dan lokasi tenpat tinggal kami. Ada tiga kelompok besar dan saya sendiri berada di kelompok yang beranggotakan 5 orang. Saya akan diantar ke 15 Sturrock Street, Moreland Vic, alamat tepat tingal yang sekarang saya diami. Pengalaman seru kembali saya alamai, kali ini adalah gila-gilaan dalam mobil dengan joki seorang wanita setengah baya yang mengemudi gila-gilaan sejak keluar dari bandara. Ia sangat cekatan dan sepertinya punya impian tertunda menjadi pembalap F1. LMAO. Iyaaa… serius, cara menyetirnya sangat lihai dan tentunya kami yang berada di dalam anya mampu menarik napas panjang. “Bu, kami belum mau mati Bu, masih mau sekolah di sini”. Hahhahahahah

Saya orang terakhir yang diantar ke alamat tujuan saya. Tidak seperti kekhawatiran saya sebelumya, ternyata di k Mikzo Lakidang; AAS recipient asal NTT tahun 2012 sudah menunggu saya di rumah itu. Saya disambut denga sangat hangat dan langsung diajak berkeliling ke kampus. Bayangkan, saya sama sekali tidak merasakan capek ataupun mengantuk sama sekali. Mungkin efek terkena udara Melbourne. LOL.

Hari itu juga saya diajak membuat kartu Myki; kartu sakti yang harus selalu dibawa setiap kali akan bepergian. Ya, semua pengguna tram, bus dan kereta harus punya kartu yang satu ini. Kartu ini bisa dibuat di setiap toko 7/11 yang ada di setiap pemberhentian toko. Ada dua jenis kartu yang bisa dipilih. Untuk mereka-meraka yang punya aktivitas perjalanan yang padat disarakan untuk membeli Myki Money dengan sistem top up setiap waktu yang mereka inginkan. Nah, untuk mereka yang mungkin jarang bepergian dengan tram, bus atau kereta bisa membuat kartu Myki Pass, yang bisa diisi dengan nomilan berapa saja saat sebelum bepergian. cara menggunakanya juga cukup sederhana. Kartu kita itu cukup disentuhkan di sebuah detektor yang ada di beberapa titik dalam tram. Untuk jalur di Zona 1 (saya sendiri masih belum begitu paham rute Zona 1) pengguna kartu Myki wajib touch kartu mereka sekali saja sewaktu pertama kali naik tram da tak perlu menyentukan kartu saat turun, berbeda dengan di Zona 2 yang harus menyentuhkan kartu mereka setiap kali naik dan turun. Jangan samapi lupa menyentuhan kartu sakti itu, sebab akan Anda akan dikenakan denda berupa uang senilai 200 dollar tunai. Waduhhhhh, bisa bangkrut kallau tiap kali lupa menyentuh. 

Image

Ini dia nie, si kartu sakti, kartu Myki. Punya saya ini tipe Myki Pass

Tanpa menghiraukan panasnya udara saat itu, saya dan k Mike (begitulah panggilan K Mikzon Lakidang) akhirnya menumpang tram 8 menuju kampus the University of Melbourne. Kembali, kali ini saya dibuat takjub dengan pemandangan saya saksikan di sepanjang perjalanan menuju kampus. Sambil terpesona dengan semua pemandangan yang saya lihat itu, sesekali percakapan kecilpun kami lakukan seputar kota dan kampus Uni Melb. Saya tak tahan lagi untuk segera bertemu mentor saya keesokkan harinya.

(Opsss, tidak terasa sudah jam 1.00 a.m waktu Melbourne, saya akan lanjutkan kisah ini lengpak dengan foto-foto narsis saya besok malam, karena sudah mulai mengantuk dan harus tidur sebab besok pagi harus bangun pagi untuk mengikuti Acara Pembukaan Masa IAP di kampus Uni Melb. See you, and GN)

 

From 15 Sturrock Street, Moreland Victoria

 

Sunday, 19 January 2014

   

 

 

Dream Comes True: The Way How I Celebrate It

I am officially stepping my feet on a stage where I have put every single of my dreams previously. I even still can’t believe that I finally arrive in this finish line (well it isn’t really a finish line but probably I would say it as another starting point for another huge adventure *yeahhhhh*, after spending almost my entire time and remaining energy facing all the challenges). This glorious story of being awarded by the AAS this year just blows me high away and of course I need and have to make such kind of celebration of my own. I am not going to hold a glamorous party or the like, but I am willing to celebrate it deep down in my heart. I feel pretty excited waiting for my first flight in this Monday and guess what …. I feel like a bit nervous, you know, doing something that you have already dreamed about many years ago, is just awesome. You have been in a day dreaming almost in your spare time, imaging you will sit in Qantas airline for your departure to your dreamland. Is that cool? My heart beats really fast right now as I realize that the time is getting closer now. I still spend a day to be blown away by such an incredible experience. I do realize that I might make some silly stupid mistakes during next international flight because I don’t know this process like the back of my hand; therefore, prior to my departure, I have anticipated all those probabilities by asking some friends of mine who have experienced the same story previously. I asked them details about the process, what sort of things should be done during their waiting process, all the standard procedures that have to be taken once they arrive in the international terminal, and there are still lots of issues that I observed. To put in a nutshell, I just want to make best memories in my first international flight and I don’t wanna miss a thing *yuuuuhhuuuu*.

 

You may question what the things that stimulate my excitement are, and spontaneously I will answer: EVERY SINGLE THINGS. Let take my temporary accommodation as example, which seduce me to be there as soon as possible. It is a medium fully furnished room which is located in 15 Sturrock Street, Moreland Victoria. Well, I haven’t seen this location but by having helped by Google Map, simply I can see that this is a nice suburb to live in as it is close to the Melbourne City center and I just need 24 minutes to travel by tram to the University of Melbourne – Parkville Campus. It is splendid, isn’t? LOL.

Image

The front view of my temporary accommodation which is located in 15 Sturrock Street, Moreland Victoria. (Source: Google Map)

Image

My kitchen room. Yuuuuhhhuuu

Image

Another view inside my bedroom.

Image

And this is my bed *yeahhhhh*

Well, those pictures shown above might explain everything behind my excitement. This house and its inside view are going to accompany me in a two-year period of my study in this kangaroo continent *wow*. Even though I have not witness this house directly but in my imagination I think its circumstance should be amazing. I can’t’ wait to be there soon, guys!!

The other exciting news is that I will have an opportunity to spend a quite long journey from Denpasar as shown in my e-ticket. Can you imagine? My first flight will be a domestic flight with Garuda Indonesia, taking off at 14.20 from Ngurah Rai International Airport Denpasar and landing at 15.20 in Soekarno-Hatta International Airport Cengkareng Jakarta. I will be spending about 3 hours waiting for my next flight to Sydney which will take off at 19.45 from Jakarta and will be landing in Sydney at 6.50. Ohhhh my goodness, what a long trip, right? Additionally, another connecting flight with Qantas Airline will be taken at 10.00 from Sydney to Melbourne and it is estimated that the plane will land at around 11.35. *Wuuuuuuuuu* such an exciting flight hah? Hmmmm, for the time being, I am just wondering what should be done for killing the time waiting for the transition period in the airport? Reading novels? Listening to the music? Or taking pictures and spending crazy time with other fellows since there will be other AAS recipients who will take the same flight on the same date and time? You must be kidding me right? What??? I will meet my 3mB friends and of course there will be a kind of crowd that will be released. Hahahhahahahah… just wait, hah!!!!

Hhmmm, actually I still eager to write more about my future flight on this Monday ( January 13, 2014) but I will keep the other stories of mine so I can post it in the coming postings, yaaa once I arrive in Melbourne

Setumpuk Surat Misterius

Part 1

Ini kali ke-108 surat aneh yang datangnya entah dari antah berantah mana itu selalu ada dalam isi tas sekolah hitam milik salah satu penghuni asrama Leo – asrama putra yang mendiami kamar paling ujung di lorong timur kompleks  asrama putra salah satu sekolah swasta unggulan paling terkenal di daerah Kupang, ibukota Propinsi Nusa Tenggara Timur. Robi; begitulah nama sapaan si pemilik tas hitam yang sudah hampir sebulan ini dipusingkan dengan kehadiran sepucuk surat tanpa alamat pengirim itu. Bagaimana Ia tidak bingung, setiap hari Ia bahkan bisa mendapat 5 buah surat misterius. Puncaknya adalah hari Selasa minggu lalu seusai pelajaran olah raga. Ia mendapat 8 buah surat yang hampir tak bertuliskan apapun pada amplop pembungkus surat-surat itu. Yang selalu Ia temui hanyalah angka-angka yang menurutnya pasti merupakan nomor urut surat yang dikeluarkan oleh entah siapa itu dan kali ini angka terakhir yang tertulis di salah satu sisi amplop paling bawah tumpukan surat-surat itu adalah 108. Ia memang selama ini merahasiakan kejadian aneh ini dari semua kawan-kawannya bahkan kepada Wanto, sahabat akrabnya yang juga berbagi kamar dengannya  di asrama Leo.

Sebagai teman karibnya Robi, Wanto memang pandai menempatkan diri dengan baik. To’o asal Rote Ba’a berambut jabrik ini memang dikenal sebagai pribadi supel, mudah bergaul, dan open minded. Berbeda bagaikan langit dan bumi dengan Robi yang acuh tak acuh, tertutup, dingin dan tergolong sangat cuek. Biarpun si Wanto itu tinggi badannya tak pernah akan menyamai tingginya Robi, walaupun ternyata hanya beda 2 cm, tetapi dari segi pergaulan Ia cukup disegani. Itulah sebabnya Wanto hampir bersabahat dengan seantero murid sekolahan. Sedangkan Robi hanya cukup puas bersahabat dengan Wanto dan surat-surat misterius kesayangannya itu. Sampai sekarang Robi pun tak begitu ingat sejak kapan Ia mulai akrab dengan si tenar roommate-nya itu.  Yang masih jelas terlintas diingatan Nong asal Maumere itu adalah Ia menjadi sahabat akrab Wanto karena tuntutan keadaan. Ia ditempatkan satu kamar di salah satu asrama putra di SMA tempat Ia sudah menghabiskan waktu 2 tahun itu. Mau tidak mau Ia pun akhirnya akrab dengan si Wanto. Akan tetapi, bicara soal akrab macamnya Anda akan berpikir bahwa mereka berdua ini tidak terlalu dekat. Alasannya sederhana. Misteri surat yang sudah lumayan lama dipendam Robi malah tak diketahui sama sekali oleh Wanto – satu-satunya orang yang paling dekat dengannya sejauh ini. Setidaknya menghabiskan waktu belajar di kamar tidur yang sama.

Robi memang pandai menyembunyikan masalah. Butuh keahlian khusus untuk menyembunyikan perkara surat-surat misterius itu dari jangkauan Wanto. Ia bahkan tak yakin bila dapat melakukan itu, tetapi sejauh ini rahasia bahwa Ia sering disurati oleh seseorang yag tak dikenal tak pernah diketahui oleh teman kamarnya itu. Betapa tidak, Robi pun masih tak percaya setiap kali ingin membaca surat itu, surat-surat itu seolah menolak untuk dibaca. Ia selalu dibuat yakin oleh bisikan dari dalam dirinya yang mengatakan “Jangan buka amplop itu sampai tidak lagi tertulis angka. Suatu saat nanti pasti si pengirim pun jera karena selama Ia tidak mencantumkan namanya di atas amplop karena  selama itu pula kau tidak akan membacanya’’.  Suara dengan nada dan isi yang persis sama akan terdengar manakala Ia hendak merobek amplop dan membaca isi surat. Ia seolah terhipnotis oleh suara yang berbisik di telinganya itu hingga di nomor 108 ini, Ia masih menyimpan hasratnya untuk mengetahui isi surat-surat tersebut dalam-dalam.

Seperti kebiasan-kebiasaan sebelumnya, semenjak pertama kali surat tak beralamat itu diterimanya Ia selalu menimbunnya di sebuah peti kecil terbuat dari aluminium yang Ia kuburkan di halaman belakang asrama mereka, persisnya di belakang kamar tidur mereka. Timbunan surat hampir memenuhi peti kecil yang dalamnya sekitar 16 cm itu.  Robi pun sempat dibuat bingung sesaat menumpuk surat bernomor 108 itu di tumpukkan paling atas yang jika masih ada surat sejenis datang lagi maka tumpukan surat akan tepat sama dengan bibir kotak aluminium itu. Ia tak tahu mau mencari tempat aman apa lagi yang akan dia gunakan untuk menyimpan surat-suratnya. Apalagi ditambah misi agar jangan sampai surat-surat itu ketahuan oleh si Wanto. Ia tak ingin sampai Wanto tahu dan terlibat dalam masalah yang Ia pikir harus Ia sendiri pecahkan.

Niat Robi memang sudah mutlak bulat untuk tidak membiarkan Wanto ataupun siapa pun itu mengetahui sedkit saja informasi tentang adanya surat-surat misterius yang terus Ia dapatkan. Banyak alasan kenapa Ia tak mau orang lain tahu soal ini. Yang mungkin kedengaran konyol adalah pikirannya bahwa barangkali saja amlop-amlop itu bersisi petunjuk mengenai peta harta karun atau mungkin sejumlah cek bernilai jutaan rupiah yang dapat kapan saja Ia cairkan. Tentu dengan hanya dirinya sendri yang mengetahuinya sudah pasti itu semua akan menjadi miliknya sendiri. Namun Robi tampaknya juga pernah berpikir ‘’Bagaimana jika yang ada di dalamnya justru foto-foto korban mutilasi yang marak beritanya saat itu? Bagaimana jadinya kalau itu ternyata berisikan alamat-alamat orang yang akan meninggal tiap harinya? Bagaimana jika waktu surat itu sudah punya alamat pengirimnya dan sewaktu dibuka ternyata itu alamat tempat Ia tinggal sekarang’’. “Arggghhhh… saya belum mau mati’’, teriak dalam hatinya sambil menggerakkan tubuhnya seperti sedang gemetaran. Ia sempat ingin membaca surat-surat itu. Hal lain yang justru mendorongnya ingin merobek semua amplop dan membaca isi surat-surat itu adalah kesadarannya akan ujian semester sekolahan yang tinggal 3 hari lagi. Senin depan sekolah resmi memasuki minggu-minggu ujian yang akan menjadi minggu-minggu yang berat baginya jika Ia dapati salah satu surat itu sudah tertera alamat pengirimnya. Walau pikiran aneh, konyol hingga menakutkan ini sempat ada dalam imajinasinya, Ia tampaknya belum merubah keputusan untuk memberitahu Wanto hingga minggu-minggu ujian pun berakhir.

Yang cukup membuat heran Robi adalah tidak ada satupun surat yang datang kepadanya selama ujian berlangsung. Ia pun mulai berandai-andai tentang hal mengganjal ini. Belum selesai pikirannya disibukan dengan hafalan dari ilmu-ilmu sosial dan rumus-rumus kimia itu, kini Ia langsung mendapat proyek baru memikirkan mengapa tidak ada lagi surat yang datang kepadanya. Bukannya bersyukur Ia tak dikirimi si entah siapa itu surat lagi, Ia malah memendam rasa rindu akan datangnya surat misterius itu. Sebelum ujian Ia begitu dikacaukan dengan identitas pengirim surat maupun isi surat yang sampai dengan detik itu juga belum Ia ketahui. Anehnya, kini Ia malah ingin sekali datang surat-surat itu lagi.

Ia pun menunggu dengan sabarnya surat yang ke-109. Semakin dia menunggu surat yang dinanti-nanti itu tak kunjung datang. Tampaknya aroma aneh akhirnya berhasil dicium oleh Wanto. Siang itu mereka berdua tengah asyik menikmati es krim yang dibelikan salah seorang teman Wanto sehabis gereja pagi setiap minggu di Kapela Sekolah. Robi masih saja menunggu kedatangan surat yang selalu muncul sendiri dalam tas hitam miliknya setiap saat Ia membuka tasnya hendak mengambil pensil atapun buku catatan dari dalamnya. Ia tampak gelisah menanti sambil menghabiskan es krim yang kini sisa seperempat. “Woi…Obi!!! Lu ada pikir apa? Dari tadi beta perhatikan.. lu kayak ada gelisah. Kenapa?”- sambar Wanto tak sabar ke arah Robi yang membuat Robi kaget luar biasa dalam kegelisahannya itu. “Ai, sonde apa-apa?” – jawab Robi membalas rentetan pertanyaan Wanto. “Sa cuman ada tunggu sesuatu.” lanjut Robi sambil berlalu meninggalkan Wanto dengan wajah penuh tanya. Wanto bingung dengan jawaban yang baru saja Ia dengar dari sahabatnya itu. Ia kemudian mengejarnya berniat mengorek apa yang sedang ditunggu rekan sekamarnya itu. Dengan nada penuh keingintahuan Ia pun melayangkan sejumlah pertanyaan kepada Robi hingga berujung pada kesediaan Robi menceritakan semua hal yang selama ini cukup mengganggunya itu.

Selama ini sa ada dapat surat misterius’’ kata Robi membuka kisahnya.”Sa sendiri bingung dari mana itu surat datang. Setiap kali sa buka tas buat ambil pensil atau buku begitu, pasti sa itu ada selipan surat di antara buku cetak yang ada dalam sa pung tas” lanjut Robi semangat. “Terus.. Terus?” sambar Wanto tak sabar sambil sedekit mengerutkan dahinya.”Sa penasaran saja, itu surat kok bisa muncul tiba-tiba begitu. Tambah lagi sonde ada alamat dari pengirimnya? Yang ada di amplop itu surat hanya tulisan angka-angka aneh. Itu angka dong berurutan Wanto” kata Robi menyudahi pejelasan panjangnya itu. “Mungkin itu nomor urut keluarnya itu surat dong.” jeda Robi yang membuat Wanto semakin heran tak percaya. Saking penasaran akan cerita temannya itu, Wanto pun langsung membalas, “Terus, itu surat dong lu buang ko? Isinya? Lu sudah baca to? Na kasih tunjuk saya itu surat su?” seru Wanto tanpa menyadari banyak pertanyaan yang sekali Ia tanyakan. Tanpa menunggu lama, ditariknya tangan Wanto menggiringnya ke arah halaman belakang melewati kamar barisan kamar mandi yang berada persis tidak jauh dari kamar mereka. “Mari ikut saya?” ajak Robi sambil berlari mendahului Wanto melewati kamar mandi. Dalam hitungan menit mereka berdua sudah berada tepat di belakang kamar tempat mereka berbicara tadi. Robi lalu menggali tumpukan tanah tempat Ia menggubur semua koleksi surat misterius yang belum pernah Ia baca itu. “Jadi lu belum baca satu surat ju ni ko?” suara Wanto memecah konsentrasi usaha Robi mengeluarkan kotak  berisi kumpulan surat buatnya itu. Robi tampak kesusahan menarik keluar kotak itu. Dengan sedikit usaha Ia pun berhasil mendapatkan kotak tersebut dan langsung duduk bersila sambil membukanya. Ditunjukkanlah semua surat-surat yang ada dalam kotak itu. Wanto pun percaya dengan cerita yang disebutkan temannya itu bahwa benar yang tertulis di amplop hanya sebuah nomor. Nomor yang ternyata tidak semuanya berurutan.

Tadi lu bilang ini nomor dong berurutan, tapi co lihat yang ini?” tanya Wanto sambil menunjukkan beberapa surat yang bernomor ganjil kepada Robi. “Ho memang ada sebuah surat yang punya nomor sonde sesuai dengan urutan yang seharusnya” balas Robi mencoba menyakinkan Wanto bahwa Ia sudah pernah melihat nomor yang tidak sesuai itu. Memang terdapat surat bernomor aneh. Nomor surat itu seharusnya 59 karena nomor surat sebelumnya adalah 58 dan ada surat lain bermor 61. “Itu berarti?” kaget keduanya tak sadar melontarkan pertanyaan yang sama kepada satu sama lain. Suasana di belakang kamar mereka itu semakin menegangkan. Rupanya ada sebuah surat yang tidak tersampaikan ke Robi. Surat yang seharusnya melengkapi barisan nomor berurutan sehingga tepat 108 jumlah seluruh surat itu. Ketika dua sahabat itu hendak membongkar tumpukan surat-surat itu guna mengecek kalau-kalau surat yang membuat mereka terkejut tadi terselip di antara surat-surat lainnya , terdengar derap langkah kaki yang sedang bergerak mendekati posisi mereka berdua saat itu. Langkah kaki itu makin jelas terdengar dan … (bersambung)

 

Siapakah gerangan yang datang itu? Apakah rahasia Robi akan surat-surat misterius itu akan terkuak ke seantero pennghuni asrama Leo? Apakah dua sahabat ini dapat menguak misteri surat-surat misterius ini? Penasaran dengan kelanjutan kisah petualangan Robi dan Wanto selanjutnya, ikuti terus kelanjutannya kisah mereka berdua di postingan berikutnya.

 

#SalamFlobamorata