Nothing happens coincidently, everything has been planned and set up.

Judul berbahasa Inggris di atas, mendadak melintasi pikiran saya tak kala sedang menyiapkan makan pagi (sekaligus makan siang, karena bangun telat hari minggu ini akibat tasibuk di Festival White Night; salah satu event terheboh yang pernah saya ikuti sepanjang hidup saya – detail lengkap mengenai acara ini akan saya coba ulas di postingan berikut) di hari Minggu, 23 Februari 2014; minggu ke-6 saya di resmi menyandang gelar sebagai seorang Melbournian. Ide besar di balik judul ini juga sebenarnya refleksi pribadi saya terhadap banyak perkara baik kecil maupun besar yang saya hadapi dalam hidup saya.

Sudah merupakan suatu kepastian (dengan peluang 1; yang secara matematis artinya suatu kejadian yang pasti terjadi: Nah!! Kenapa coba taga’e ke Matematika. LOL) bahwa setiap orang pernah, sering dan sedang bermimpi akan masa depan yang cerah, sukses erta gemilang.. Bukan suatu hal yang aneh lagi kalau saya bertanya tentang cita-cita, motivasi, impian atau apapun itu namanya, pasti semua kita punya sederetan kalimat yang bakalan keluar spontan tentang prediksi dan harapan ke depan. Ya.. saya tidak punya banyak teori yang bisa mendukung dan memback-up argumen saya ini, tapi menurut sepengamatan saya, kecenderungan bermimpi akan masa depan depan yang luar biasa ini sudah sangat lekat dalam diri etiap kalangan, terutama kalangan anak muda seperti saya ini. Well, tidak salah juga kan buat bermimpi. CUMAN!!! (iyaaa nieee ada kata cumannya), banyak juga (entah berapa jumlahnya saya juga kurang tahu pasti, LMAO) yang segan buat bermimpi. Owwhhhh….really?? Yaa,, thats it. Many young people tend to hide what their dreams are. WAIT!! What I mean here is that, they have a tendency not to realise their dreams! Hmmm, berat oooo kalo begini kasusnya!!! Akan tetapi begitulah kenyataannya. Mungkin sekarang Anda berpikir dan bertanya (pake logat Kupang, NTT) “Ko lu sendiri su suka menghayal kow? Su barapa banyak mimpi yang lu su raih?”, dengan nada sedikit sinis dengan alis mata diangkat sedikit. Hahahahha….

Ya, saya tipikal orang yang sangat suka bermimpi dan berusaha keras mewujudkan mimpi-mimpi itu (opsss kok jadnya agak “berbau” NARSIS, LOL). Mimpi-mimpi saya itu bahkan kalau mau dipikir secara logis lumayan tinggi dan terkesan muluk. Coba, bayangkan!! (Iyaaa, bayangkan sekarang eitss!!!) Saya bermimpi (*jeda…… Ssstttt saya dikagetkan dengan suara kegaduhan di garasi yang letaknya persis di samping kamar saya saat sedang menulis “kicauan” ini. Ada seperti suara gelepar sayap yang sedang kesusahan mencari jalan keluar. Hmmm rupanya ada seekor merpati nyasar ke dalam garasi. What??? Merpati?? Hmmm… secepat kilat otak saya yang bereaksi mengolah kejadian ini dengan asumsi bahwa itu PERTANDA BAIK. AMIN. Happy Sunday!!!, ahahah, walaupun belum ke gereja juga saya). Okay!! Back to the topic!! Tapi tadi sampai di mana yah?? Oooo iya.. .. Ya, saya punya mimpi menulis sebuah novel hasil karya saya sendiri. Oaaallhhh!!!! Itu kan!! Agak sembrono kan mimpi saya itu. Baru juga aktif menulis sudah mau bermimpi jadi seorang novelis. Mana tidak ada backgorund sastra, atau komunikasi sebelumnya lagi. Hhaahhaha..yang ada mah itu knowledge dan skills dalam mengotak-atik variables dalam Matematika. Nah!! Sonde, nyambung to!!! However (eaaaaa ini ni style writingnya orang barat, kalau kata sakti ini sudah keluar, red “However”, maka akan membuat tulisan itu makin berwarna), saya selalu berprinsip dan punya keyakinan kalau kita benar-benar ingin merealisasikan apa yang kita idam-idamkan selama ini dan telah benar-benar ada dalam “lingkaran malaikat” (begitu saya menyebut keadaan saat kita ada di suasana yang membuat kita terobsesi dengan mimpi-mimpi kita itu), maka SEMESTA akan mendukung. Furthermore, ini dia yang selalu membuat saya untuk berpikir positif, kalau semua yang terjadi itu pasti tidak terjadi secara kebetulan dan sudah jauh-jauh hari telah direncanakan dan hanya menuggu waktu pengenapannya saja. Benar ko sonde? Eaaa….!!!

Saya menyakini kalau semua yang kita temui, entah itu suasana, orang, atau apapun itu bentuknya, selalu ada “U di balik B” dalam artian positif. Seperti yang sudah beberapa kali saya alami. Saat sedang bergeloranya mimpi untuk punya novel sendiri, saya bertemu beberapa anak muda asal NTT yang luar biasa yang secara pribadi menginspirasi saya untuk memperoleh pencapaian yang sama dengan mereka dalam hal menulis. Betapa tidak, di usia yang masih muda mereka sudah punya karya tulis (cerpen, novel) yang mereka terbitkan . It is awesome, isn’t? Saya banyak belajar banyak dari pribadi-pribadi sukses ini dn yang menariknya adalah mereka juga sangat kooperatif dan supportif. Thats the main point!!

Additionally, selain mimpi buat jadi novelis “handal” (cieeeeee), salah satu mimpi yang sudah berhasil saya raih adalah berkesempatan menikmati atmosfir akademik di luar negeri, bersaing dan beradu “kekayaan otak” bukan hanya dengan sesama mahasiswa dari Indonesia, tapi juga dari seluruh belahan dunia. Dan yang perlu digarisbawahi, di “bold” kalau perlu atau di perbesar ukuran fontnya (waduuuhhh) adalah untuk sampai ke level ini saya juga bertemu banyak orang dan situasi yang saya temui serta  sangat mendukung dan justru menjadi jembatan buat saya menjadi warga di Universitas paling top se-Aussie; The University of Melbourne. Berawal dari partisipasi saya di ELTA (English Language Training Assitance) untuk NTT tahun 2012 serta berkecimpung di kelas Berburu Beasiswa ala FAN – Forum Akademia NTT – saya dipertemukan dengan pribadi-pribadi yang kooperatif dalam mewujudkan impian besar untuk sekolah di luar negeri ini. Dengan seringnya tukar pendapat,, saya banyk mendapat banyak masukan, kritikan yang konstrukti serta wejangan yang sangan berguna dalam perjalanan meraih beasiswa AAS ini.

Gambar

Bersama Mantan Rektor Undana, Pak Umbu Data saat menjelang uoacara pembukaan ELTA II NTT.

Gambar

Saat penutupan ELTA II NTT

Gambar

Trainer-trainer hebat di ELTA II NTT. Dari sebelah kiri Pak Marcel, Ibu Maria Lobo, Ibu Hilda, Ibu Agnes, Ibu Bonik, dan Pak Jhon.

Gambar

Mbak Ana Andra, salah satu koordinator ELTA II NTT yang sangat supportive selama 3 bulan training ELTA`

Gambar

Berkesempatan mengenal petarung-petarung hebat selama 3 bulan ELTA II NT

Moreover, yang paling terkini adalah kejadian yang baru saya alami beberapa hari lalu. Yang satu ini menyangkut mimpi besar saya lainnya untuk bisa punya album rekaman sendiri. Adowwww, ini macamnya mimpi yang paling muluk su. Ahahhahaha!!!! (Epenkah???) Anyway, saya memang suka sekali menyanyi biar tidak punya suara sebagus dan se-ok penyanyi kaliber dunia tapi menyanyi buat saya adalah “mood booster’‘ sekaligus penyeimbang semua masalah yang saya hadapi baik itu yang berkaitan dengan matematika maupun dalam hal lainnya. Jika otak saya sudah mapet dan butuh refreshing, saya tidak  perlu repot-repot cari hiburan, simply I just sing, sing and sing. No matter how long it takes!! I just can’t stop singing!! Maka dari itulah saya punya mimpi buat bisa punya album sendiri. Nah, yang membuat saya yakin bahwa saya dalam “proses” untuk ke sana (AMIN) adalah kesempatan bertemu dengan Orang Muda Katolik (OMK) St. Francis Church, gereja tempat saya selalu mengikuti ekarisiti kudus setiap hari minggu. Ceritanya begini, saya kebetulan baru keluar misa pukul 12 a.m dan melihat ada newsletter tentang gereja itu. Di salah satu rubrik pamflet itu, ada pengumuman bahwa akan diadakannya sharing sekaligus warm welcome bagi OMK yang baru saja tiba dan akan belajar di Melbourne. Wahh.. pas tu ee.. Jadi pas hari-H-nya saya menyempatkan diri untuk mengikut kegiatan itu bersama salah satu kawan saya; Yosep Tapun,  AAS 2013 recipient juga yang sedang menempuh Master of Development Studies di The University of Melbourne. Saya sangat terkesima dengan pemaparan tentang banyaknya grup OMK yang aktif melakukan kegiatan dan pelayanan. Mulai dari Jesus Youth, St. Francis Youth Choir, hingga Vinnies Youth Victoria serta ada kelompok OMK yang menyebut diri mereka dengan sebuta “Reader”; mereka ini akan bertugas untuk membaca bacaan setiap kali misa di geraja. Dan tebak apa yang saya pilih!!! Saya memilih untuk bergabung di 3 grup OMK ini, yaitu St. Francis Choir (ini grup pertama yang saya putuskan untuk bergabung karena secara pribadi sudah sangat rindu untk berdendang dalam paduan suara kembali), Jesus Youth dan the Reader. Yang membuat saya sangat overwhelmed saat itu adalah kenapa semua seperti datang pada waktu yang tepat. Saat saya sedang bingung mencari club dan komunitas untuk bergabung, saya justru mendapatkan jawaban dan dibimbing ke sebuah klub dan komunitas yang luar biasa. Selai sebagai media komunikasi dan sarana untuk ‘making new friends’, saya pun mendapat kesempatan untuk bertemu dan bergauk denagn sekumpulan anak muda yang juga cinta dan “gila” menyanyi.Ini bisa saya manfaatkan untuk terus belajar dan mengasah kemampuan olah vokal saya.

Gambar

Selebaran informasi mengenai St. Franics Youth Choir

Vinnies Youth Victoria Information Letter

Vinnies Youth Victoria Information Letter

Hal menarik lainnya yang berkaitan dengan hobi dan impi saya tentang bernyayi ini adalah saya juga dihadapkan pada situasi yang sangat mendukung. Mulai dari punya gadget dan laptop yang sangat mendukung untuk melakukan sesi “rekaman” kecil-kecilan hingga ke akses internet yang luar biasa tak ada bandingnya jika dibandingkan di Indonesia. Di sini, saya sangat merasa dipermudah karena tidak harus pusing dengan koneksi internet. Saat di kampus, misalnya, saya bisa otomatis terhubung dengan wi-fi kampus sekali berada di wilayah seputaran kampus. Samapi di Rumah, tempat saya tingal juga akses internetnya 24/7. Semua fasilitas ini seolah memmerikan saya ruang untk mengembangkan minat dan kegemaran saya di dunia tarik suara. Yaa…. saya sudah mulai berani merekam suara sendiri, membuat music video dan mempostingnya di media online seperti Youtube , Instagram, Facebook maupun Twitter. Banyak respon positif yang saya dapat setelah posting beberapa video itu. Saya mendapat request untuk menyayikan beberapa lagu dari beberapa kawan. Senang luar biasa mendapat sambutan hangat seperti itu. Again, saya seperti sedang mengenapkan sebuah ending akbar yang kini sedang saya coba unir kisah-kisahnya di penggalan pengalaman 2 tahun di Melbourne.

Banyak hal yang saya lalui dan kebanyakan orang di luar sana berpikir bahwa semua nya dengan mudah saya capai. tapi ada satu yang mungkin belum mereka tahu bahwa untuk bisa merealisasika mimpi-mimpi itu, banyak usaha serta proses yang memakan waktu lumayan panjang yang telah saya lalui (seperti dalam perjalanan saya meraih beasiswa AAS ini, yang walaupun ini pertama kali melamar beasiswa dan Puji Tuhan bisa lolos, saya menghabiskan waktu kurang lebih 5 tahun lamanya membangun mimpi, sejak duduk di semester 6 kuliah di Jurusan Matematika, Universitas Nusa Cendana, Kupang tahun 2009 sampai tahun 2014 ini. Jadi, to put it in a nutshell, I would say, no mater how big your dreams are, how high your dreams are, you are absolutely free to dream, and the most important thing that should be taken into account is that enjoy the whole process of your journey, and trust me ” Nothing happens coincidently, everything has been planned and set up.

Melbourne, 23 Februari 2014.

Salam Flobamorata,

Kesempatan kedua Blogging dari Negeri Kangguru

Setelah disibukkan dengan 3 minggu yang begitu padat dengan serangkaian tugas, seminar, dan proyek baik yang bersifat individual maupun kelompok, dalam IAP – Intensive Academic Program – saya akhirnya mendapat kesempatan untuk orat-oret di blog ini lagi. Hmmmm, rindu juga menuangkan segudang cerita di media ini. Minggu-minggu belakangan ini memang sangat sibuk, selain harus adjust dengan ritme kehidupan kampus paling top No.1 di Australia ini, saya memang agak keteteran dalam manajemen waktu terutama dengan dealine tugas yang lumayan rapat. Saya kembali mendapat kesempatan untuk berbenah diri sebelum masuk ke rutinitas kuliah yang sebenarnya Maret mendatang. Setidaknya, dengan bersusah-susah di IAP ini, saya belajar untuk tidak menunda tugas apalagi dengan adanya sejumlah attractions yang ditawarkan Melbourne sebagai one of the most liveable city in the world. Banyak sekali pilihan hiburan dan tempat-tempat unik dan terkenal yang sudah masuk dalam list perburuan saya di sini. Ya…. memang harus pintar-pintar atur waktu agar bisa seimbangkan belajar dengan socialising and travelling. Salah satu tempat yang harus saya kunjungi adalah Philip Island; sebuah pulau yang agak terpisah dari kota Melbourne yang sudah sangat tidak asing lagi bagi penggila MotoGP. Aduhhh!!!! Ingin sekali merasakan suasana live menonton aksi para rider itu. *yuhuuuu*. Saya memang bukan tipikal maniak motoGP, tapi kalau ditanya soal motoGP yah pasti bisa nyambung lah… LOL

Selain tempat-tempat anyer itu, saya juga punya berbagai agenda lain untuk bisa berkunjung ke state dan kota-kota lainnya di negeri Kangguru ini. Satu yang sudah ada dalam list adalah Perth. Jika sudah mendapat jadwal kuliah semester ini, saya akan memastikan kunjungan dan traveling pertama saya ini ke Perth. Mengenai waktu kemungkinan terbesar saat winter break nanti. Hmmmm, memang sebagai pecinta travelling, saya sangat ingin berkeliling Australia, tapi jangan salah menilai dulu. Tujuan utama saya bisa berada di Australia adaah menuntut ilmu dan bisa sukses meraih gelar master in Applied Maths sesuai dengan waktu yang diberikan sponsor. Akan tetapi, sangat tidak bijaksana untuk hanya *muku belajar (*muku : istilah orang Kupang, NTT yang berarti berusaha keras) tanpa memberikan ruang bagi diri sendiri untuk menikmati hidup. Jadi, wajarlah, kalau saya mau mencapai kesimbangan itu. Yaaaa…sekedar menjaga-jaga, jangan sampai sekembali saya ke Indonesia nanti saya malah agak linglung karena bergaul dengan sejumlah formula matematika yang sudah pasti akan membuat pusing kepalan selama 2 tahun ke depan.

Kesempatan kedua saya bisa blogging lagi hari ini bisa terealisasi lagi karena bisa submit dan telah membereskan serta menyicil tugas dan assignments untuk minggu depan. Lega rasaya bisa berkata-kata lagi dalam blog ini sambil menentukan keputusan agenda weekend minggu ini. Yaa… minggu ini harus bisa ke beberapa tempat lagi, tapi jangan pantai lagi karena minggu lalu sudah berkunjung ke Brighton Beach; salah satu pantai di Melbourne yang terkenal dengan deretan rumah kecil warna-warni di sepanjang garis pantainya. penasaran kan dengan pantai ini dan rumah-rumah warna-warni itu, berikut beberapa view yang sempat saya abadikan di kesempatan weekend minggu lalu.

Gambar

Walau suhu saat itu 40 derajat, saya tetap eksis berpose ala *Bruno Mars di salah satu sudut Brighton Beach

Gambar

Tampak dari kejauhan, deretan rumah warna-warni di Brighton Beach

Gambar

Ini dia rangkaian rumah-rumah kecil yang tersusun rapi di sepanjang bibir pantai Brighton Beach

Gambar

Tak lupa saya numpang eksis bergaya di salah satu rumah kecil ini lol 🙂

Proses adjusment yang saya lalui hampir 1 bulan di sini, sudah cukup membantu saya untuk sedikit terbiasa dengan ritme kehidupan sosial masyarakat Aussie. Di sini kalau minggu-minggu kerja yaitu dari Senin sampai Jumat, rata-rata hampir semua orang fokus dan kalau mau dibilang maniak kerja. Mereja memang sangat work oriented dan terbilang serius dalam bekerja maupun belajar. Akibatnya, saat weekend tiba, mereka juga betul-betul memanfaatkan waktu off itu untuk menikmati akhor pekan mereka yang tentunya dengan berbagai kegiatan yang variatif. Bagi saya, hal ini sedikit berbeda dengan budaya kerja di Indonesia yang menurut sepengetahuan saya agak overtime working sehingga kurang maksimal dalam meluangkan waktu untuk memberikan supply energi tambahan bagi jiwa dan raga. Ini berakibat pada menurunnya stamina dan etos kerja saat akan kembali memasuki hari Senin, pekan baru dalam rutinitas kerja. “Pantasan, banyak orang yang memegang motto “I HATE MONDAY”. LOL. Tapi, semoga banyak orang juga yang menganut paham “I LOVE MONDAY”.

Melbourne, 7 Februari 2014