Featured Image -- 1570

Why I chose the University of Melbourne

Unimelb Adventures

Before I begin, I just wanted to say that it’s such an honour to be a part of Unimelb Adventures and I’m so excited to share my experiences with you all.

My name is Seluz, and I’m an international student currently doing my Masters in Applied Mathematics.

Moving to Australia from Indonesia was a big move for me, and in this blog post, I will highlight several reasons that motivated me to study at the University of Melbourne.

View original post 329 more words

Ada Aksi Ada Reaksi

Jadi ceritanya seminggu belakangan saya merasa sangat terbakar dengan aliran semangat yang tak biasa saya alami. Aliran itu begitu positif dan ‘captivating’. Candu yang lebih dari ketagihan saya akan nikmatnya kopi pagi. Yang jelas, aliran itu berhasil membuat saya tak jemu-jemu bertengger di pojok favorit saya di Richard Berry, menggauli seabrek ‘lecture notes’ dan ‘prac class sheets’.

Ritme riset pun mendapat imbasnya. Sudah hampir dua bulan saya resmi menggodok pemodelan dan ‘bermain-main’ dengan simulasi itu tapi tak pernah jenuh itu menyapa. Apalagi ‘singgah’. Saya merasa sangat luar biasa. Menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer tak menjadi masalah bagi saya. Apalagi ditambah bumbu penyedap lain seperti kata-kata pengakuan dan ‘good impression’ dari supervisor. Itu seperti bonus buat semua waktu dan energi yang sudah ‘digadai’ kurang lebih 2 bulan belakangan di pojok itu, meja 43.

Sampai saat ini pun, kata-kata itu masih saja tergiang-giang jelas di telinga. Senang bukan main. Betapa tidak, mendengar semua itu membuat api semangat itu semakin bergelora bak mendapat siraman bensin. Seperti berhasil menunjukkan bahwa, ya saya bisa dan komit. Tak ada yang lebih luar biasa ketika hasil kerja keras mu dihargai. Sampai point ini saya paham betul bagaimana sedikit ‘pujian’ bisa membuat seseorang merasa dihargai dan puas akan usaha dan kerja keras yang sudah dia lakukan.

Akan tetapi, di lain sisi, ada sedikit gejolak yang tengah berkecamuk. Ternyata ada baik dan kurang baiknya juga ketika kita berhasil menunjukan progress yang ‘accelerated’ di mata supervisor kita. Ya setidaknya itu yang saya rasakan sekarang. Baiknya itu adalah ya tentu saja dengan kemajuan yang tak disangka-sangka bakalan kamu sajikan ke meja supervisor, kamu berhasil membuktikan bahwa kamu serius dan tidak main-main. Tapi, yang kurang baiknya adalah ketika mereka melihat cepatnya kamu berproses dan bisa ada di level yang ‘sekarang’, mereka malah semakin ambisius dan menaikan ekspektasi mereka. Well, sebenarnya itu justru jadi berita gembira. Tapi entah kenapa saya merasa sedikit terbeban dengan fakta ini. Artinya, dengan tingginya level ekspektasi supervisor ini, ritme kerja ke depan ini akan lebih ‘gila’ lagi. *pheww….

“Ohhh sanggup tidak ya?” Itu pertanyaan yang pertama kali saya pikirkan. Pesimis kembali menyerang. Tapi beruntung, aliran semangat yang sedang mendiami saya itu kembali berhasil menarik saya keluar seketika dari kemelut ‘pesimistis’ sesaat itu. Saya dibuat teringat dengan hukum fisika yang pernah saya pelajari, bahwa setiap ada aksi tentu akan ada reaksi. Itu hukum alam. Pada akhirnya setiap aksi yang kita alami akan kita salurkan kembali dalam bentuk reaksi dengan ‘kekuatan’ yang sama besarnya dengan aksi tersebut.

Jadi saya percaya bahwa dengan aksi ‘ambisius’ yang saya terima dari supervisor ini akan ada aliran reaksi ‘ambisius’ yang bakalan saya kembalikan dengan power yang sama. Saya mungkin kedengaran sangat percaya diri, tapi kalo boleh jujur sebenarnya ‘grogi’ luar biasa soal ini. Soal: apa bisa setiap tantangan dan ‘PR’ yang akan keluar tiap minggu nanti saya ‘taklukan’?

“You’ll never know till you’ve tried, won’t you?”

Semoga, mari mencoba!!!

Source: giphy

Source: giphy

Cheers,

Seluz Fahik

Melbourne, April 4, 2015