Karya Cerpen Saya

Berkat Senja Hari Ketiga di Bukit Baumata

Hujan mengguyur derasnya malam itu, suatu malam di bulan Juni saat tak ada siapapun lagi yang lalu lalang di depan sebuah rumah empat air di bilangan R.W Monginsidi 1. Di tengah hujan yang sedang berpesta itu rupa-rupanya masih ada seorang gadis duduk setia di sebuah bangku mengikuti maraknya bebunyian tetesan hujan yang saling sahut-sahutan menghujam setiap benda di bawahnya. Untuk daratan Kupang menjelang akhir bulan Juni memang kedengaran agak aneh jika hujan masih dapat turun dengan sangat lebat. Biasanya bulan Juni seperti saat itu, kota karang akan sangat jarang mendapat hujan selebat yang terjadi malam itu. Entah apa yang terjadi terhadap alam Kupang saat itu, tak sedikitpun mengganggu pikiran gadis muda yang kini tengah terhipnotis alam imajinasinya sendiri. Ia bahkan tak sadar tengah beradu dengan dinginya udara malam yang semakin larut itu. Lisa; begitu Ia akrab disapa di lingkungan pergaulannya, bahkan hanya ditemani secangkir kopi hangat buatannya sendiri 10 menitan lalu ketika Ia tiba-tiba terjaga dari tidurnya yang baru saja akan memasuki tahap lelap akibat sapaan guntur dan percikan cahaya kilat yang menggelegar malam itu.

Ia seorang gadis periang berkulit sawo matang dan berambut ikal yang dikenal sebagai pribadi yang hangat, sederhana, berpikiran terbuka, supel, pekerja keras, ulet dan menyenangkan buat orang-orang yang dekat mengenalnya. Dengan tinggi badan yang boleh dikatakan sesuai dengan profesi pramugari yang Ia damba-dambakan selama ini, Lisa memang banyak menyedot perhatian kaum adam di sekitarnya. Sebuat saja Toni, teman kuliahnya di Jurusan Teknik Sipil pada salah satu perguruan tinggi di Kupang yang berasal dari Rote itu tergila-gila setengah mati dengannya. Ada juga Libert; kraeng Manggarai yang kulitnya paling bersinar di antara kawan-kawannya pun selalu mengejar cinta dari Lisa; putri asal daerah langganan banjir tahunan, Besikama Kabupaten Malaka itu. Bukan hanya mereka berdua yang mengincar Lisa, sejumlah nama lain ternyata sudah bertengger di urutan 3 hingga 12 dalam list pemburu cintanya. Akan tetapi perempuan yang terkenal dengan senyum khasnya ini tidak pernah ambil pusing dengan 12 hunter cintanya itu. Ia bahkan sering curhat ke salah satu teman satu kakinya; Nola, kalau Ia bingung mengapa ke-12 nyong[1] itu selalu menganggunya. Ia berpikir bahwa Ia hanyalah seorang UD alias utusan daerah; begitu istilah diskriminatif yang tenar diberikan kepada mahasiswa-mahasiswi yang berasal dari luar Kupang, yang kurang modis dan gaul seperti halnya sekelompok gadis yang menyebuti diri mereka geng unyu-unyu. Gaya yang sedekit tabarak tembok sebenarnya jika melihat fakta bahwa mereka itu sedang kuliah di teknik. Nola yang disepak dari geng itu karena akhirnya memilih bergaul dan akrab dengan Lisa sering sekali mencari-cari hal untuk ribut dengan kelompok nona-nona ‘gagah’ jurusan sipil itu.

Namun, rupa-rupanya semua kehebohan rutin yang terjadi di kampus itu sama sekali tidak sedang menggangu pikiran Lisa malam itu. Ia resah dan galau tingkat dewa. Sudah seharian putri Malaka periang ini hanya murung dan larut alam tatapan yang kosong. Ia tampak seperti seorang mayat hidup, tak bernyawa lagi. Setidaknya demikian sentilan Nola yang berusaha seharian di kampus menghibur sambil berbekal misi investigasi alasan di balik sikapnya yang aneh itu. Ia juga pernah ditegur Mama Eti; pemilik rumah tempat Lisa tinggal dan menyandang status tante ini, lantaran memecahkan tiga buah piring kaca saat sedang mencuci piring di dapur sekitar pukul 7 pagi itu. Pikirannya memang sedang dilanda kegundahan yang pasti telah mengiringnya melayang dalam hayalan kosong hingga berbuah kejadian pecahnya tiga piring itu. Tantenya itu tak marah sedekitpun. Ia pun memberikan respon yang sama persis seperti apa yang diberikan Nola sahabat karibnya itu. Mama Eti bertanya-tanya jika ada masalah yang sedang Ia hadapi. Namun dengan tenang dan mengulum senyum simpul Ia hanya mampu berkata satu kata; Maaf, kemudian langsung membereskan kekacauan yang cukup menghebohkan seisi rumah pagi itu. Dalam hitungan 3 menitan, semua pecahan piring itu sudah Ia amankan. Ia pun segera beranjak ke dalam kamar tidur berukuran 5 X 4 meter yang berada tepat di samping dapur.

Suasana sepanjang hari di rumah itu memang tidak seperti biasanya. Penghuni rumah seolah memberikan waktu untuk Lisa berdamai dengan amukan tsunami yang terjadi dalam hati dan pikriannya itu. Lisa yang selalu memberikan warna tersendiri kepada kehangatan dalam rumah tembok bercat biru itu, kini seolah diam dalam lamunannya di kamar. Ia hampir menghabiskan seantero waktu sebelum ke kampus dengan tidur-tiduran. Pengap sesekali terasa olehnya. Hingga tak sadar Ia pun terlelap dalam tidur yang justru membuat pikirannya makin terpuruk dalam rasa bersalah. Ia bermimpi dan mimpinya itu membuatnya tak ingin pernah tidur lagi. Itulah sebabnya malam itu akan menjadi malam yang sangat panjang buatnya. Walau hujan makin asyik melimpahkan tetesan-tetesan terkuatnya ke permukaan bumi, pikirannya juga semakin tak mau kalah. Hanyut terlena dan kaku seperti sebuah ukiran patung kayu kecil berukuran panjang 4 cm dan tinggi 8 cm, yang sudah dia genggam sejak dari tempat tidurnya hingga tempat peraduannya kini di teras rumah malam itu. Sesekali Ia menatapi benda dalam genggamannya sembari  memainkan jari telunjuk menyusuri bekas pahatan panjang menyerupai liangkaran spiral di sekujur tubuh patung kecil itu.

Air matanya pun menetes membahasi salah satu bagian tubuh pahatan patung kayu itu. Tetes demi tetes tak sadar telah membasahi sekujur penampang benda itu. Air matanya kini sedang beradu dengan air hujan yang menetes deras. Rupanya ada masalah yang terkait dengan benda kayu pemberian salah seorang pamannya itu. Paman yang sudah Ia anggap seperti ayah kandungannya. Jika saja ayahnya masih ada mungkin Ia tak perlu membagi rasa sayang itu kepada Bapa Lambert, paman yang kini tengah mengadu nasib menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Malaysia sebagai pekerja buruh kasar perkebunan kelapa sawit guna  membiayai perjalanan sekolahnya sejak SMP hingga bangku perkuliahan. Tangisannya pun akhirnya membahana berkawan hujan yang makin saja deras hingga pukul 1 dini hari itu. Ia tak sanggup lagi menahan beban berita yang Ia dapati tepat saat Ia membuka mata pukul 5 di hari sebelum hari itu. Berita yang sentak membuat degup jantungnya bergerak sangat kencang dan seolah tak menuruti ritme yang biasanya. Antara percaya dan tidak atas berita yang Ia dapat melalui pesan singkat di ponsel hitam putih miliknya dari salah seorang anggota keluarga di kampung. Ia memang sangat terkejut membaca bahwa Bapa Lambert, pamannya itu memutuskan untuk menikah dengan seorang TKW dan berniat untuk tidak kembali ke kampung halaman mereka tetapi menetap di daerah Kalimantan.

Memang bukan berita duka yang Ia dapatkan seperti dugaan Nola yang selalu berusaha mencari tahu sebab musabab di balik sikap murungnya itu. Sikap diam yang justru aneh kelihatan bagi sebagaian orang yang akrab dengannya. Yang menjadi bahan pertempuran dalam batinnya hingga terjaga sepanjang malam itu adalah siapa lagi yang akan menafkahi kuliahnya yang sisa 1 semester lagi. Siapa yang bisa membantunya menyelesaiakan cita-cita menjadi seorang sarjana teknik sipil yang sudah di depan mata itu. Apakah itu tantenya? Ia menghela napas panjang sambil terus bertanya dalam hati tentang ujung dari perjuangan kuliahnya itu. Ia tidak berharap banyak kepada Mama Eti yang juga punya beberapa orang anak tanggungan untuk dibiayai. Ada Iwan, yang sedang duduk di bangku SMA kelas dua. Belum ditambah lagi dengan Tina dan Vony yang juga sama-sama berstatus mahasiswa sama sepertinya. Ia sudah membebani keluarga ini dengan menumpang tempat tinggal, makan dan tidur. Barangkali Mama Eti bisa membantu meringankan beban pikiran yang telah mengubah seorang Lisa periang menjadi Lisa pemurung dan pemikir itu jika Lisa mau sedikit terbuka untuk berbicara dengan tantenya ini. Namun, memang Lisa sudah cukup tahu dan sadar akan posisinya serta rasa kasihannya dengan beban sebagai single parents yang diemban oleh Mama Eti sejak ditinggal almarhum Bapa Bernard 6 tahun silam. Ia tak ingin membebani tantenya walau hanya sekedar menceritakan duduk permasalahannya.

Malam kian larut dan Lisa pun makin tenggelam dalam pergumulan batin yang cukup akut itu. Sahut-sahutan kokokan ayam sudah mulai terdengar. Itu artinya pagi kan menjelang hari baru saat Lisa masih duduk dengan manisnya di pelataran teras rumah. Cangkir berisi teh itu ternyata masih setia di samping Lisa dengan isi yang masih persis sama seperti beberapa jam lalu ketika diletakkan di atas meja. Hujan sudah hampir reda dengan menyisakan gerimis di luar teras. Situasi sekitar semakin terang dengan putaran detik yang berlalu cukup cepat hingga telah menunjukkan pukul 6 pagi hari ketiga Lisa hanyut dalam keterpurukan pikirannya. Dari dalam rumah sudah mulai terdengar suara-suara langkah kaki pertanda sudah adanya penghuni rumah yang bangun. Iwanlah orang pertama yang ternyata sudah bangun. Ia bahkan tampak sudah rapi dalam setelan baju bolanya seperti pagi-pagi sebelumnya. Sudah menjadi kebiasaan untuk Iwan bersama-sama kawan-kawan sekompleks rumah bermain futsal di lapangan mini berumput yang lokasinya tak jauh dari rumah.

Sesaat setelah Iwan berangkat berolahraga, Lisa pun bergegas untuk kembali dalam kamar berniat melanjutkan meditasinya. Alih-alih ingin berbuat demikian, sentak Ia dikagetkan dengan sesosok tubuh yang mengagetkannya dari arah kamar mandi tepat di belakang posisinya berdiri hendak membuka pintu kamar tidurnya. Tina rupanya sudah juga bangun sejak jam 5 pagi dan baru saja selsesai mandi. Percakapan pun terjadi di antara mereka.  Tina yang khawatir dengan keadaan sepupunya itu memulai pembicaraan dengan menanyakan keadaan Lisa. Mencoba untuk tidak terlalu dingin, Lisa akhirnya bertutur beberapa penggal kata setelah dua hari belakangan melakukan aksi mogok berbicaranya itu. Tina yang sedang buru-buru pun akhirnya menyudahi pembicaraan dan sambil berjalan menuju kamarnya untuk berganti pakaian, dalam hati Ia sendiri telah memastikan bahwa Lisa sepupunya itu sudah pulih dan bisa kembali riang seperti biasanya. Akan tetapi Tina salah menilai atas apa yang terjadi pagi itu. Lisa yang sudah menjagkau tempat tidurnya itu ternyata masih saja tancap gas dengan berjuta pertanyaan dalam hatinya mengenai ujung keputusaan besar pamannya itu. Ia kembali larut dengan tatapan kosong sambil menengadah ke langit-langit kamarnya. Hingga tak sadar bahwa Mama Eti telah berkali-kali mengetuk pintu kamarnya. Saat ketukan terakhir dengan nada yang mungkin dinaikkan 5 oktaf, Lisa pun sadar dari lamunannya dan bergegas membuka pintu kamar. Didapatinya Mama Eti tengah berdiri tepat di depannya. Pandangan Mama Eti sedikit saksama atas tampilan Lisa menjelang pukul 10 pagi itu.

Sonde [2]pi[3] kuliah ko?’’, tanya Mama Eti memecah konsentrasi Lisa yang mencoba mencari tahu arti pandangan Mama Eti.  Dengan nada sedikit kaget Lisa mencoba menjawab pertanyaan tantenya itu. “Sonde Ma!! Beta ini hari sonde ada kuliah hanya ada konsultasi dengan dosen penguji sebentar sore sa ma”, balas Lisa menjelaskan perihal mengapa Ia masih saja asik bertengger di dalam kamarnya. “Tapi, kenapa bete [4]pung mata su kayak orang yang sonde tidur malam dua hari ni? Jangan sampe tadi malam sonde tidur ko?,” lanjut Mama Eti dengan sedikit nada curiga.

 “Ai sonde ma!!! Hau toba la ohin kalan[5]. Beta tidur pulas tadi malam, Ma”, jawab Lisa menyakinkan Mama Eti.

Seusai percakapan yang cukup menengangkan bagi Lisa itu, Mama Eti pun mengajak Lisa membuat nasi goreng untuk dijadikan menu sarapan buat mereka berdua. Dengan masih berbekal sisa-sisa pikiran menyakut masalahnya yang belum berujung solusi itu dan ditambah rasa bersalah sudah membohongi tantenya, Lisa berjalan pelan menuju dapur dan sesekali berusaha menyembunyikan rasa kantuk luar biasa yang kini sedang menggerogotinya. Mencoba berkonsentrasi agar tak lagi memecahkan piring, Lisa pun menyelesaikan pekerjaan membuat menu sarapan pagi Nasi Goreng. Dengan lahap Lisa dan tantenya menikmati sarapan. Selama sarapan Mama Eti mencoba membuka percakapan baru lagi. Kali ini Ia bertanya seputar perubahan sikap yang terjadi sejak dua hari lalu.

Bete ada masalah ko?”,tanya Mama Eti memulai percakapan di meja makan saat itu.

Mama perhatikan su 2 hari ni nona murung terus. Kalo ada masalah na cerita-cerita to. Yaaa..sapa tahu Mama bisa bantu nona? Ato jangan sampe ada masalah di kampus?”, lanjut Mama Eti seperti seolah tak mau membiarkan Lisa menjawab pertanyaan pertama.

“Sonde ma. Sonde ada masalah. Beta hanya terganggu dengan hasil konsultasi dengan bimbingan dosen sa dua hari lalu, andia[6]  beta talalu stress dengan itu.”, jelas Lisa sambil meminta maaf berulang kali dalam hatinya telah membohongi lagi tantenya itu. Melihat ekpresi yang cukup memuaskan dari Mama Eti, Lisa pun merasa berhasil menutupi masalah yang tengah Ia hadapi itu.

Acara makan-makanya pun selesai. Setelah membersihkan piring kotor, Lisa kembali ke dalam kamarnya. Entah rasa apa yang selalu menghinggapi Lisa, tiap kali duduk sendiri dalam kamarnya itu Ia pasti akan terjerumus dalam pertanyaan-pertanyaan yang selalu bermunculan tanpa jawaban-jawaban pemuasan. Waktu berlalu begitu cepatnya, hingga tak terasa sudah menjelang sore pukul 4. Lisa mencoba menghubungi Nola untuk sekedar bajalan,[7] begitu warga Kupang menyebut istilah hangout. Setidaknya ada hal yang bisa mengalihkan pikiran Lisa walau itu mungkin hanya sesaat. Tapi Ia butuh udara segar. Mungkin sekedar tampias [8]di  Taman Nostalgia sambil menyantap salome goreng; makanan ikon di taman kota ini sambil ditemani minuman Pop-ice. Sayangnya, nomor hp Nola susah untuk dihubungi. Karena hasrat untuk mencari udara segar mengalir kuat dalam benak Lisa, Ia pun memutuskan untuk jalan-jalan sore. Dalam hitungan 10 menit, dara manis ini sudah siap dengan sebuah oblong putih dan jeans biru. Ia pun mengambil motor Honda Scoopy pemberian Bapa Lambert untuk ditunggangi sore itu. Ia belum memutuskan tujuan jalan-jalan kali ini. Yang ada di dalam otaknya adalah mencari ketenangan selain yang telah Ia dapatkan dari kamarnya itu. Ia pun akhirnya sudah melaju dengan scoopy kebanggaanya itu. Saat Ia sadar kalau scoopy itu adalah hasil kerja keras Bapak Lambert, Ia kembali dihadang oleh pertanyaan-pertanyaan yang sempat membuatnya galau. Sambil kembali bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan itu, Ia tak sadar membawa Scoopy kesayangannya menuju arah Baumata.

Ia kemudian memutuskan untuk mengunjungi sebuah Bukit di dekat Perumahan RSS Baumata. Bukit itu memang spesial buat gadis periang yang satu ini. Ia sering menghabiskan waktu di bukit itu untuk sekedar mencari ilham mengotak-atik skripsinya hingga saat galau seperti yang belakangan terjadi. Ia pun memarkirkan motornya di tepian jalan dekat bukit hijau itu dan berjalan pelan menuju wilayah tengah bukit. Ia meluangkan waktu duduk tanpa sedkit mengingat semua pertanyaan yang telah Ia bangun sendiri tanpa mencoba untuk mencari jawabannya. Sepinya daerah sekitar bukit memang menjadi katalis yang luar biasa dalam reaksi pemulihan pikirannya. Reaksi pemulihan ini berjalan dua arah hingga tak sadar Ia mulai dirasuki damainya, hijaunya, dan asrinya bukit sambil dilatari dengan pergerakan sang surya yang mulai turun perlahan dari peraduaanya. Sungguh indah dan menenangkan suasana sore itu. Tiba-tiba ponsel yang ditaruhnya di saku sebelah kanan celananya itu berbunyi memecahkan kesunyian yang tengah Ia selami. Ada sebuah pesan masuk yang ternyata adalah solusi dari semua pertanyaan-pertanyaannya selama 2 hari itu. Bapa Lambert mengirim pesan bahwa Ia memang akan menikah dengan Frida, TKW asal Lembata, tetapi Ia akan pulang dan menetap di Kupang. Sungguh terkagetnya Lisa sesaaat membaca bunyi sms itu. Rasa senang yang luar biasa Ia rasakan hingga menetskan air mata. Ia lalu lari melompat beberapa kali sambil berteriak lepas. Ia kembali duduk, menikmati bergantinya suasana senja di bukit Baumata itu. Ia kini sadar bahwa kemarin hanyalah sebuah ujian yang DIA berikan kepadanya. Bersyukur Lisa kembali bersemangat dan siap menantang hari-hari menjelang dinobatkanya Ia menjadi seorang Sarjana Teknik Sipil.

THE END.


[1] Panggilan untuk laki-laki di Kupang

[2] Sonde (dialek khas daratan Timor NTT) yang berarti : Tidak

[3] Pi = Pergi

[4] Bete = panggilan bagi anak perempuan di Kabupaten Malaka yang berarti anak gadis

[5] Bahasa tetun yang berarti saya tidur tadi malam

[6] Dialek Kupang yang berarti oleh karena itu

[7] Dialek Kupang yang sama artinya dengan jalan-jalan

[8] Dialek Kupang yang memiliki arti yang sama dengan jalan-jalan, ikut ramai-ramai

2 thoughts on “Karya Cerpen Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s